Aku adalah Sayap

By Redaksi 17 Agu 2018, 08:09:43 WIB Sekolah Indonesia Menulis
Aku adalah Sayap

WPdotCOM -- “Laki-laki dan perempuan seperti dua sayap seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Soekarno, Presiden ke-1 Republik Indonesia, 1901-1970. Intisari Agustus 2017).

Pernahlah anda memperhatikan sepasang suami isteri yang sedang berkomunikasi?  gambaran keharmonisan akan segera nampak dalam sekejap. Terlihat menyenangkan. Nyaman. Ada kontak pandang. Tatkala salah satu sedang berbicara yang lain memperhatikan. Kadang diiringi senyum tulus, anggukan kepala dan respon positif lainnya. Bisa ditebak, mereka berbahagia. Namun, bila respon yang ditampilkan sebaliknya. Berbicara dengan nada tinggi, ekspresi wajah datar, atau pandangan ke arah lain. Bisa diindikasi ada masalah dalam hubungan mereka. Keharmonisan hubungan suami isteri sangat penting untuk diciptakan dan dipertahankan. Keluarga sebagai pendidik pertama dan utama, memegang peran penting dalam membentuk karakter anak. Tugas dan tanggung jawab sebagai orangtua ibarat sebuah sayap. Menerbangkan anak ke dunia lepas. Sekolah dan masyarakat.

Keluarga adalah fondasi karakter luhur. Perhatian dan dukungan ayah terhadap ibu dalam mengelola rumah tangga. Ketegasannya dalam memberikan perlindungan secara fisik dan psikhis. Kelembutan ibu saat memberi nasehat, saran dan pendapat.  Memberi nuansa demokratis. Akan diingat betul oleh anak. Proses ini oleh Ki Hajar Dewantara disebut Niteni. Nirokke, dan nambahi. Karena teriasa dalam suasana dan kebiasaan yang baik. Maka anak akan mengingatkan, manakala ada yang kurang benar pada lingkungannya. Laki-laki dan perempuan  menjadi satu dalam ikatan suci perkawinan, sepasang sayap yang akan menerbangkan buah hatinya. Mewujudkan segala harapan, mengasah potensi , berprestasi demi keunggulan bangsa.

Pengaruh globalisasi menyebabkan sebagian fungsi orang tua sebagai pendidik karakter beralih. Pada kakek dan nenek, atau asisten rumah tangga. Di jaman ini,  mencari asisten rumahtangga; tidaklah mudah. Apalagi yang memiliki kepedulian serta penuh kasih sayang dalam merawat buah hati kita. Langka. Gonta ganti pengasuh anak berdampak pada pola asuh. Berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak. Memang ada, asisten rumah tangga yang merasa ikut bertanggung jawab terhadap karakter anak. Namun tidak sedikit yang bersikap asal anak diam. Lebih parah lagi, asal asisten bisa beraktivitas dengan nyaman, mengabaikan tanggungjawab mengawasi anak asuhnya. Sebuah bahaya besar mengancam keselamatan fisik dan mental anak.

Pemerintah mensyaratkan usia 7 tahun, untuk masuk sekolah dasar. Pertimbangannya pada berbagai aspek. Aspek phisik, psikologis, intelektual, sosial dan emosional.

Namun tidak sedikit para orangtua, yang memaksakan anak usia 5 atau 6 tahun masuk SD. Dengan resiko beaya operisional lebih mahal. Biasanya sekolah tersebut menawarkan  banyak fasilitas. Sebagai ciri khusus, yang dianggap sesuai dengan tuntutan global. Meskipun tidak sesuai dengan usia dan budaya bangsa. Umumnya,  menggunakan pengantar bahasa asing. Kita sadar kebenaran pepatah : “bahasa menunjukkan bangsa”. Belajar bahasa asing berati belajar budaya asing, Di alam merdeka, pendidikan untuk semua; pernyataan di atas adalah lazim. Dampaknya, pondasi karakter yang dimiliki adalah sesuai dengan apa yang dipelajari dan dilatihkan di sekolah. Bahasa dan budaya asing, ibarat tanaman tidak berakar. Orang tua kehilangan hak untuk membentuk karakter anak berdasar budaya bangsa. Sebuah pendidikan dianggap berhasil apabila ada perubahan perilaku. Keberhasilan pendidikan di sekolah dasar dengan basis budaya asing; mencabut anak anak dari budaya luhur bangsa Indonesia. Ada perbedaan yang dipelajari dengan kenyataan hidup sehari-hari. Lama kelamaan anak akan lebih mencintai budaya asing tersebut. Budaya adiluhung milik bangsa Indonesia terabaikan. Bangsa lain mempelajari dan meniru serta menambah beberapa hal disesuaikan dengan negara mereka. Kita baru terusik terganggu karena mereka mengambil, mencuri dan mengakui budaya kita sebagai milik mereka.

Sekolah adalah sayap yang menerbangkan peserta didik bersaing di era global tanpa kehilangan jatidiri

Cara pandang masyarakat terhadap pendidikan sangat dipengaruhi nilai-nilai sosial dan budaya yang berlaku. Bersifat khas dan berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain. Pembentukan kepribadian anak akan terpengaruh aturan sosial tersebut. Partisipasi masyarakat  suatu negara untuk mentaati hukum menentukan keberhasilan pendidikan.

Sebagai contoh undang -undang ITE sudah dibuat dan diberlakukan. Sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kejahatan berbasis teknologi informasi. Namun pelanggaran tentang penggunaannya juga makin bervariasi. Bahkan mampu menembus masuk kamar pribadi anak-anak tanpa disadari para orang tua.

  Sudah saatnya orang tua, ayah dan ibu menjadi sayap yang kuat agar mampu membentengi anak anak kita, generasi emas Indonesia untuk membawa Indonesia berkompetisi di era global. Lima cara yang dapat dilakukan,  pertama memberi teladan dalam sikap religius. Senantisa bersyukur dalam berbagai peristiwa kehidupan. Mengambil hikmat dari kejadian sehari-hari. Kedua membangun komunikasi yang sehat. Meminimalkan menonton televisi dan bermain gawai. Memperhatikan dengan seksama apa yang menjadi kebutuhan anak baik yang tersurat atau yang disampaikan melalui bahasa tubuh. Ketiga membiasakan berdiskusi atau bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Sehingga anak terbiasa mengemukakan pendapat. Menyampaikan kritik yang membangun terkait kegiatan dalam rumah. Keempat melatih anak merencanakan dan mengatur belanja. Tentunya diawali dengan memilih menu disesuaikan dengan anggaran. Kelima Konsisten dalam mendidik anak. Keberhasilan anak dalam bersosialisasi, serta kesuksesan belajar sangat ditentukan oleh konsistensi ini.

Suasana demokratis tergambar dalam kehidupan keluarga. Memancar dan mempengaruhi lingkungannya. Semua itu berawal dari laki-laki dan perempuan yaitu ayah dan ibu sebagai sepasang sayap yang kuat. Semoga menginspirasi.

(Penulis : Endang Prapti S.A Guru SMP Negeri 1 Turen, Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment