Dari Workshop KTI Guru, Aku Sadar Telah Mengabaikan Siswa

By Redaksi 04 Nov 2017, 14:41:51 WIB Suara Guru
Dari Workshop KTI Guru, Aku Sadar Telah Mengabaikan Siswa

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Dok. Google)


WPdotCOM -- Perasaan membayangkan apa yang akan kami lakukan ketika  menjalani pelatihan ini. Hal itu sudah terbayang beberapa minggu kemarin.

Ditambah lagi workshop KTI akan dilakukan di tempat kami. Beberapa teman yang aku ajak mengikuti worksop ini, juga sedikit menambah kebingunganku. Karena beberapa kali bertanya tentang workshopnya, dan aku hanya bisa menjawabnya semampuku. Padahal, dalam hati aku juga sedikit bingung. Wong aku ae durung tau melok yok opo lek njelasno.

Kegundahanku sedikit banyak agak memudar, begitu diberikan penjelasan secara bergantian dari pemateri workshop itu. Alhamdulillah, P3SDM Melati dari tayangan slide dan penjelasan narasumber,  ternyata bukan abal-abal.  Aku katakan demikian, karena mereka punya badan hukum dan bukti-bukti hasil tulisan berupa buku dari teman-teman yang sudah terbit  dari angkatan sebelumnya.

Apa yang selama ini aku tidak ketahui tentang ISSN dan ISBN, sedikit banyak terjawab sudah. Selama ini meskipun aku seorang guru, tapi pemahaman tentang penerbitan buku belum kupahami 100 persen. Mungkin, karena aku orangnya tidak  begitu peduli dengan sesuatu yang belum aku butuhkan. Tapi menurutku, kelihatan “sesuatu” sekali kalau seorang guru kurang paham dengan apapun yang ada hubungannya dengan nasibnya di masa depan.

Sesi ceramah diselingi tanya-jawab, hal itu menjadi penambah interaktifnya suasana. Apalagi pak Nova membagi sedikit cerita ketika beliau mengenyam pendidikan selama SD  hingga SMA. Mata hatiku terbelalak. Selama ini aku terlalu fokus pada anak-anakku di kelas VI yang berpredikat “rata-rata dan rendah.” Aku kurang mengangkat potensi  anak-anak yang sudah di atas rata-rata kelas. Biasanya mereka yang tergolong di atas rata-rata kelas, aku jadikan tutor sebaya bagi teman-temannya yang lain. Tapi aku tidak pernah mengangkat figur mereka sebagai bahan penelitianku. Mungkin karena keterbatasan pemahamanku pada kata-kata “periksa masalah atau sakitnya, kemudian cari resep untuk menyembuhkannya”.  Jadi yang aku carikan resep, hanya anak-anakku yang berkemampuan rendah sampai sedang. Sisanya, belum pernah aku coba untuk gali lagi sehingga menjadi anak yang lebih di atas rata-rata kelas.

Akhirnya, dalam hati aku berjanji.  “Insya Allah, kalau aku punya kesempatan menulis PTK di kelasku, aku akan menuliskan penelitian tentang kalian,  anak-anakku manusia termarginalkan. Semua ide ini mencul karena kepepet ikut workshop KTI bersama P3SDM Melati.

Penulis: Dhiyan Wulandhari (Guru SDN Bandulan 5 Kota Malang - Peserta Workshop Angkatan 6)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. iis 04 Nov 2017, 15:00:07 WIB

    Sip..
    Smoga lebih sukses

View all comments

Write a comment