Demian, Sepenggal Rindu di Lawang Sewu

By Redaksi 01 Agu 2017, 10:20:00 WIB Sastera
Demian, Sepenggal Rindu di Lawang Sewu

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Dok. Pribadi)


Telah lama ingin menginjakkan kaki di sini. Entah karena keinginan untuk menyaksikan langsung bangunan tua bersejarah yang tetap indah, atau hanya karena sedang berkesempatan singgah beberapa hari di kota Semarang.

Lawang Sewu, lokasi wajib bagi pendatang di ibukota Jawa Tengah ini, memang dikenal dimana-mana. Bukan hanya sejarahnya, tapi juga kisah-kisah mistis yang menyempurnakannya sebagai bangunan yang sudah dimakan usia itu.

Ya, Lawang Sewu, dalam bahasa Indonesia diartikan Seribu Pintu. Bangunan yang menyimpan sebagian kisah perjuangan bangsa ini. Gedung yang megah di tengah kota Semarang, tepatnya di jalan Pemuda ini, menjadi saksi pertempuran antara Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) melawan penjajah Jepang. Pertempuran itu terjadi karena AMKA ingin merebut pusat perkereta-apian kala itu dari tangan penjajah. Belasan pejuang gugur, mengorbankan jiwanya demi mempertahankan tanah warisan leluhur dari kekuasaan penjajahan.

Tak terasa, kurang dari sepuluh menit dari hotel, kaki kami telah menginjak pelataran Lawang Sewu. Tatapan mata pun mengundang decak kagum, bangunan yang pertama kali didirikan pada tahun 1904 oleh Belanda sebagai Kantor Perusahaan Kereta Api (NIS), dengan jalur utama mengubungkan Semarang dengan Kota Solo dan Jogyakarta kala itu, kini berada di depan mata. Pembangunannya melibatkan dua orang ahli bangunan Belanda, Bj. Queendag dan Prof. Jacob F. Klinkhamer.

Pintu-pintu besar menyambut kedatangan setiap orang di sini. Mungkin inilah alasan penamaan ‘Seribu Pintu’ bagi masyarakat Semarang. Memasuki halaman yang di balik pagar, penjaga sekaligus penerima para pelancong menawarkan jasa guidingnya. Dengan membayar lima ribu rupiah saja, setiap pengunjung telah dapat mengeksplorasi setiap ruangan di bangunan berlantai tiga yang cukup luas tersebut.

Setelah membayar biaya masuk, kami diarahkan dengan papan petunjuk memasuki ruangan-demi ruangan di sana. Portal pemeriksaan karcis masuk telah kami lewati. Hawa sejuk di bawah teras gedung mulai terasa menerpa tubuh-tubuh kami yang baru kali pertama ke sini.

Langkah kami tertuju pada ruang pertama setelah melewati lorong sebelah kanan. Tiba-tiba kaki kiriku terasa berat. Sesosok bayangan seperti menahan gerakan langkahku. Tangan-tangan mungil melingkar tepat di pergelangan kaki ini. Pegangan yang begitu kuat, seolah tak ingin melepaskan kakiku. Aku menoleh, melihat wajah tampan seorang remaja laki-laki menatapku tengadah. Bergidik, mataku tak lepas dari wajahnya.

“Demian...” Satu kata keluar dari mulutnya. Terdengar nyaring di telingaku

“Demian...” Aku mengulang kata itu.

Matanya kembali menatapku. Entah tatapan apa. Tapi dari sorot matanya sangat tajam, aku artikan sebagai keinginan untuk berkomunikasi lebih dari sekedar menyebut satu kata tadi.

“Ibuku...” Kembali nyaring terdengar ucapannya. Ada hentakan kuat di pegangannya. Seolah menginginkanku untuk berhenti dan mendengarkannya.

“Mana ibuku...” kembali suaranya menggetarkan tubuhku. Mataku hanya bisa menatapnya. Aku membatin, Demian adalah namanya, dan sosok remaja tanggung ini merindukan ibunya.

Lalu, tanpa menungguku menjawab, Demian melanjutkan ucapannya. Dari logat bicaranya, aku meyakini ia berasal dari Indonesia bagian Timur, bukan asli Jawa Tengah.

“Ibuku mana? Kenapa aku tidak boleh betemu ibu?”

Aku mulai bertanya, “Siapa yang melarangmu, Demian?”

“Kalian membuatku begini. Kalian membawa ibuku, kalian membuatku cacat hingga tidak bisa berdiri...” Matanya memerah. Ada rona kesedihan yang begitu dalam tersirat, dan amarah yang luar biasa dari pandangannya.

“Ceritakan padaku tentangmu dan ibumu. Aku akan mendengarkan,” kuseret langkahku menepi di lorong kanan. Sementara lalu-lalang penggunjung terlihat bahagia menikmati ruang demi ruang bersejarah di Lawang Sewu.

Lama ia diam, sedangkan kedua tangannya masih terus menggenggam kuat pergelangan kakiku. Kutatap matanya yang merah penuh amarah.

Tanpa kuduga, Demian melepaskan pegangannya di kakiku. Lalu ia duduk bersandar di dinding lorong tanpa berhenti menatapku. Dan ia pun mulai bicara pelan.

Kudengarkan kisahnya. Mulai dari cerita kelahirannya sebagai buah dari perbudakan yang dialami ibunya di daerah Timur Indonesia. Hingga ia tumbuh di masa kanak-kanak dan remaja. Cerita mengharukan.

Helen nama ibunya. Menurut Demian, ibunya adalah perempuan tercantik di desanya saat itu. Karena masa kolonial, seluruh perempuan desanya dijadikan budak oleh penjajah. Aku dapat mengerti, kupastikan cerita Demian bukanlah kebohongan. Remaja tampan dengan hidung mancung, rahang kuat dan dagu lancip, pasti dilahirkan dari rahim seorang perempuan cantik.

“Kini aku tidak bisa bertemu ibu. Mereka membawanya setelah kami tiba di sini.” Ada airmata mengalir di pipinya yang pucat. Batinku terenyuh. Aku dapat memahami dan merasakan kesedihan seorang anak yang terpisah dari ibunya. Sungguh sangat menyakitkan.

Dengan mata berkaca, Demian melanjutkan kisahnya. Ia bersama ibunya dan para budak lain, dibawa dengan kapal kayu dari daerahnya ke Semarang kala itu. Perjalanan laut yang membosankan di bawah ancaman bedil kolonial, kekurangan makanan, penyakit yang tidak diobati, luka-luka yang terus mengalirkan darah dan nanah. Belum lagi gelombang di perairan Masalembo yang dikenal ganas sejak dulu.

Mataku hangat. Tapi aku tidak boleh terbawa kesedihan seperti demian. Tidak lucu bila di antara keramaian pengunjung aku mengalirkan airmata. Mereka pasti akan mengira sesuatu yang tidak masuk akal kualami di sini.

Tanpa sadar, tanganku menyentuh kepala Demian. Kuusap lembut rambut kumalnya. Bekas-bekas luka di kepalanya sudah mengering.

“Aku berakhir di sini. Menjadi pekerja untuk mereka-mereka yang tidak punya belas kasihan. Dan hingga saat ini, aku belum pernah bertemu ibu,” Kini Demian tidak lagi menatapku. Wajahnya tertunduk, diam seribu bahasa.

“Demian, semoga Sang Maha Pencipta menerimamu dan ibumu. Kalian akan dipertemukan di masanya kelak.” Kuusap rambutnya, dia tengadah. Ada harapan kutemukan dalam matanyanya yang tajam masih penuh amarah.

Aku melangkah, meninggalkan Demian yang masih duduk bersandar di dinding lorong. Lalu-lalang pengunjung tak dihiraukannya. Ruang demi ruang Lawang Sewu kutapaki. Kamera di tangan tak berhenti mengabadikan objek indahnya. Walau kadang blitz kamera dipaksa padam oleh aura mistis yang cukup kuat. Lawang Sewu tetaplah indah di mata kami. Bangunan tua penuh sejarah, menyimpan kisah rindu Demian.

Sekelumit kisah ini, akan jadi pelajaran berharga bagi semua orang. Bahwa alam diisi berbagai kepedihan, ada yang menyakitkan, berusaha tersenyum. Ada pula kisah haru di dunia yang tidak semua mata dapat menyaksikan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment