Ekspresi Kelulusan, Cerminan Kepribadian Peserta Didik

By Redaksi 11 Jun 2017, 11:01:53 WIB Opini
Ekspresi Kelulusan, Cerminan Kepribadian Peserta Didik

Keterangan Gambar : Rizki Amelia S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Bukitttinggi)


WPdotCOM -- Mengakhiri sebuah proses pendidikan pada lembaga formal adalah sebuah prestasi yang menggembirakan pada setiap individu mulai pada jenjang pendidikan paling bawah sampai pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tanggal 2 Mei 2017 adalah hari yang bersejarah bagi siswa, pelajar tingkat SMA/SMK yakni pengumuman kelulusan bagi siswa.. Namun sangat disayangkan ekspresi euforia merayakan kelulusan yang kebablasan dengan huru-hara, kebut-kebutan dijalanan, berboncengan dengan lawan jenis, mengganggu ketertiban umum, coretan yang tidak hanya di baju tetapi juga di anggota tubuh lainnya sangat tidak mencerminkan pelajar yang sudah ditempa dengan  Ilmu pengetahuan, Agama, maupun akhlak dan budi pekerti.Bahkan diperlukan aparat keamanan untuk menertibkan pelajar yang ugal-ugalan dijalanan merayakan kelulusannya tersebut. Aktifitas ini juga dilakukan pada waktu yang tidak wajar yakni dari sore sampai menjelang tengah malam, tidak memperduliakn kumandang azan magrib, mereka bergerombolan dijalanan yang sangat mengganggu ketertiban umum, berpasangan berboncengan dengan yang bukan muhrimnya. Hal ini sangat bertentangan spirit pendidikan untuk memperbaiki kualitas manusia apalagi momen ini juga bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional  yang diperingati setiap Tanggal 2 Mei setiap Tahunnya.

Setiap individu berhak untuk mengekspresikan bentuk kebahagiaan atas pencapaian prestasinya dalam menyelesaikan tahapan proses pendidikan yang dilaluinya. Akan tetapi semua bentuk luapan kegembiraan tersebut haruslah memperhatikan  etika, moral dan norma agama yang berlaku di masyarakat sekitar. Sangat memprihatinkan perilaku mereka memperlihatkan seolah-olah masa depan mereka sudah jelas, padahal kelulusan yang mereka rayakan belum menjamin masa depan mereka yang lebih baik. Agaknya peristiwa tahunan ini yang sudah menjadi tradisi sedikit banyaknya bisa dijadikan acuan dalam mengambil kebijakan untuk pihak terkait dalam pengejawantahan formula pendidikan karakter yang aplikatif untuk anak didik agar pendidikan karakter tidak hanya indah pada taraf teori semata. Seharusnya dari apa yang ditampilkan siswa akan terlihat karakter siswa yang sudah digembleng akhlak mulia, norma agama dan etika, bukan sebaliknya malah memperlihatkan kebobrokan akhlak mereka pada ranah publik yang secara tidak langsung sudah mencoreng lembaga pendidikan yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan seorang anak.

Banyak pilihan yang positif yang bisa dilakukan pelajar pada saat mengakhiri proses pendidikan pada sebuah instansi pendidikan dalam menunjukkan rasa syukurnya atas keberhasilan.Hendaknya jangan lagi pelajar melakukan aktifitas yang mubazir apalagi mengganggu kepentingan umum. Sebagai wujud rasa syukur banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan  oleh siswa misalnya dengan menyumbangkan seragam, buku, alat tulis dan perlengkapan sekolah yang layak pakai kepadada siswa yang membutuhkannya, menyantuni masyarakat yang tidak mampu, menymbang makanan juga pakaian layak pakai, bakti sosial, yang bisa mengurangi waktu mereka untuk tidak berhuru-hara dan mencoret baju.

Alangkah sangat mulianya wujud rasa syukur yang mereka perlihatkan kepada masyarakat luas, disinilah letak kebahagiaan para orangtua dan guru atau masyarakat luas. Namun dari sedemikian banyak pilihan kegiatan positif belum begitu banyak siswa yang memilih ini. Semoga kelulusan siswa pada jenjang pendidikan sekolah menengah tetap memperlihatkan karakter yang positif sehingga akan terlihat keberhasilan tidak hanya dari aspek kognitifnya saja namun juga keberhasilan dari segi penanaman karakter yang baik bagi masing-masing individu. (*)

* Penulis: RIZKI AMELIA S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Bukitttinggi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment