Generasi Hebat, Generasi Tanpa Maksiat

By Redaksi 11 Jun 2017, 11:21:51 WIB Opini
Generasi Hebat, Generasi Tanpa Maksiat

Keterangan Gambar : Rizki Amelia S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Bukitttinggi)


WPdotCOM -- Eksistensi sebuah bangsa di dunia sangat ditentukan oleh kualitas generasi penerusnya. Hal ini dapat dilihat dilihat dari usia sebuah negara. Lamanya usia dari sebuah peradaban bangsa tidak menjadi jaminan bahwa bangsa tersebut akan berjaya atau mampu menguasai perkembangan dunia.

Banyak negara atau bangsa yang sudah terbentuk sejak lama perlahan-lahan kalah oleh negara lain yang baru saja dibentuk. Kuantitas  penduduk juga tidak lagi menjadi jaminan kejayaan sebuah negara tanpa diikuti dengan kualitas dari setiap individu dari negara tersebut.

Negara-negara besar, lahir dari kumpulan orang-orang hebat yang notabene berasal dari para generasi mudanya yang unggul. Generasi yang unggul merupakan modal yang sangat berharga untuk sebuah negara agar mampu bersaing dikancah dunia internasional. Generasi hebat lahir dari pribadi yang kuat, generasi tangguh tidak mudah rapuh, mempunyai motivasi tinggi, semangat juang dan cita-cita meraih sukses untuk diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. 

Generasi hebat lahir dari sebuah penempaan diri baik secara intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial. Generasi hebat tidak akan mudah terkontaminasi oleh berbagai macam pengaruh negatif yang selalu dikemas dengan berbagai macam cara sehingga perlahan-lahan merasuki jiwa generasi muda yang labil tersebut.

Produk-produk pengrusakan moral tersebut dikemas dengan semenarik mungkin oleh pihak-pihak yang  tidak bertanggung jawab yang hanya memperhatikan keuntungan seacara materi saja. Seperti pengusaha di bidang jaringan telekomunikasi internet dengan merancang games-games online yang sangat membahayakan untuk perkembangan jiwa/psikologis anak, karena games tersebut dirancang menuntut emosional pengguna, menanamkan efek kecanduan atau ketagihan untuk ingin terus bermain.

Konten/isi yang ditampilkan sangat tidak layak (mengandung unsur pornografi bahkan pornoaksi) tidak pantas untuk dikonsumsi oleh generasi muda apalagi usia pelajar yang otaknya seharusnya digunakan untuk mengasah kemampuan dibidang ilmu pengetahuan, namun disia-siakan hanya untuk kegiatan bersenang-senang. Konten lain yang juga merusak generasi muda seperti tayangan-tayangan yang memuat konten asusila yang mengakibatkan generasi zaman sekarang tidak lagi mengindahkan norma agama, adat dan kesopanan, sehingga tidak tidak heran lagi melihat generasi muda zaman sekarang tidak malu lagi memperlihatkan pergaulan bebas, kebarat-baratan dengan dalih modernisasi dibuat menarik dengan ungkapan “remaja gaul”.

Salah satu bentuk prakteknya adalah budaya pacaran, sangat miris sekali ketika pacaran sudah dianggap hal yang lumrah. Defenisi pacaran yang ditampilkan generasi zaman sekarang sangat berbeda istilah pacaran zaman dahulu yang hanya sekedar memendam rasa suka, surat-suratan.

Pada zaman sekarang aktifitas pacaran yang dilakukan generasi muda sudah masuk pada tahap yang sangat membahayakan, bertentangan dengan norma agama dan susila, bahkan tidak sedikit yang mempraktekkan budaya pacaran ala barat melakukan hubungan suami istri dianggap sebagai proses perkenalan naudzubillahi minzalik.

Untuk membentengi generasi muda penerus bangsa harus ada keseriusan dan komitmen dari semua pihak untuk melakukan pembinaan akhlak dan moral agar mereka sadar bahwa ditangan generasi mudalah kelanjutan eksistensi sebuah bangsa dan negara dipertaruhkan.

Banyak sekali wadah yang bisa digunakan untuk menampung potensi para generasi muda penerus bangsa. Tinggal bagaimana membuat formula dan mengarahkan, menanamkan pentingnya pengembangan potensi diri agar menjadi generasi hebat tanpa maksiat.

Sebagai seorang guru, haruslah tanpa henti dan tanpa bosan dalam setiap kesempatan. Seperti dalam kegiatan Proses Belajar Mengajar, selalu memasukkan motivasi diri agar menjadi pribadi yang berprestasi. Jadi tidak hanya mengandalkan persoalan akhlak kepada guru bidang studi Agama dan Pkn saja, serta tidak hanya memasukkan point penilaian karakter pada taraf perencanaan pembelajaran saja,namun pada praktek keseharian yang sudah menjadi ruh jiwa pendidik.

Sekolah sebagai salah satu lembaga formal sudah seharusnya kembali mengoptimalkan wadah-wadah untuk  pengembangan potensi siswa seperti kegiatan ekstra kurikuler dibidang agama, olahraga, seni, keterampilan secara perlahan mampu mengurangi waktu peserta didik untuk berhura-hura. Orangtua haruslah menjadi teladan dan partner bagi anak dalam menjalankan tugas perkembangannya. Jangan hanya menjadi orangtua yang menyerahkan semua tugas perkembangannya ke pihak sekolah. Seolah-olah sekolah adalah lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan masa depan anaknya. Padahal sebagian besar waktu yang dijalani anak berada dirumah dan lingkungan masyarakat.

Orangtua yang hebat adalah orangtua yang mampu mempersiapkan masa depan anaknya bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan akan materi semata akan tetapi bekal hidup berupa aqidah yang kuat, integritas, kejujuran, semangat kerja keras, dan motivasi positif lainnya. Dengan bekal hidup tersebut akan mampu membentengi pertumbuhan dan perkembangan anak agar tidak mudah terkontaminasi oleh pengaruh negatif yang datang dari luar diri anak.

Masyarakat juga sangat berperan penting terhadap perkembangan anak demi peradaban bangsa yang lebih baik dimasa datang. Masyarakat yang apatis atau tidak peduli dengan sikap sosial generasi muda akan membuat semakin merosotnya akhlak generasi muda penerus bangsa. Selayaknya dalam masyarakat saling bahu membahu meningkatkan kepedulian terhadap penyimpangan perilaku generasi muda.

Mengaktifkan fungsi oraganisasi sosial masyarakat, karang taruna, remaja mesjid, dan kegiatan yang memberdayakan generasi muda di lingkungan masyarakat. Jika tiga komponen (keluarga, masyarakat, pemerintah) dalam pembinaan generasi muda berjalan dengan baik otomatis generasi hebat tanpa maksiat bisa kita raiah.

Namun jika tiga komponen ini tidak sinergi mustahil akan terlahir generasi guna penerus bangsa yang berprestasi dan berintegritas terwujud. Bertepatan dengan momentum bulan Ramadhan ini bulan penuh ampunan bulan obral pahala sebanyak-banyaknya sangat tepat sekali untuk meraih pahala dengan menebar kebaikan, sebaliknya menjauhi laranganNya sebagai wujud ingin mendapatkan ampunanNya dan meraih Syurga Insyaallah... (*)

* Penulis: RIZKI AMELIA S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Bukitttinggi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment