Iktiraf, Bukan Sekedar Pengakuan Seorang Hamba

By Redaksi 11 Mei 2018, 19:51:06 WIB Budaya Nusantara
Iktiraf, Bukan Sekedar Pengakuan Seorang Hamba

Keterangan Gambar : Gambar Ilustrasi (Sumber: Google Image)


WPdotCOM -- Menyikapi rentang waktu yang kian layu dimakan usia mayapada, tertatih bahkan melambatnya perputaran bumi, membuktikan betapa alam telah lelah mendampingi makhluk ciptaan Sang Khaliq di dekapannya.

Satu demi satu bukti itu telah terlihat nyata bagi hamba yang menekuri makna setiap ayat-ayatNya. Bukan saja yang termaktub di lembaran mushaf  Al-Quran yang mulia, namun juga ayat-ayat yang terbentang luas, di kaki langit atau di seantero gugusan gemintang yang tak terhitung jumlahnya.

Inilah manusia, ciptaan yang dijanjikan Allah sebagai pengelola alam, sebagai kepercayaan bagi kelangsungan dunia. Hingga tiba saatnya untuk dilebur kembali sesuai kehendak-Nya.

Manusia sebagai makhluk terbaik, hingga kini terus menjadi yang terbaik, menjadi khalifah bagi setiap takdir di alam. Mendapat keberuntungan tak terhingga dibanding ciptaan lainnya, bahkan dari makhluk yang lebih dulu sujud kepada Sang Maha Kuasa.

Pada perjalanannya, manusia bukan hanya sekedar pengelola, bahkan ada yang menempatkan dirinya setara atau lebih berkuasa dibandingkan Sang Pencipta. Bahkan tak jarang lupa diri dari mana ia berasal, darimana ia tercipta. Melupakan kodrat sebagai penjaga sekaligus penanggungjawab keberlangsungan dunia yang indah dahulunya, kini kian remuk-redam hanya karena keangkuhan dan kesombongan mereka.

Menyikapi berbagai masalah yang timbul di alam, sepantasnyalah selaku ciptaan yang menerima berlimpah karunia, untuk terus menyapa diri, menilai dan menghitung seberapa banyak yang telah diakui sebagai bukti penghambaan kepada-Nya.

Pengakuan, baik berupa kesadaran akan kesalahan yang telah dilalui dan terus-menerus memperbuatnya, maupun upaya membangun betapa pentingnya untuk pendekatan kepada Sang Pemberi Ruh, adalah suatu keniscayaan.

Lihatlah betapa diri hanya serupa sehelai benang yang akan disulam menjadi kain bernama keindahan, atau bisa jadi akan ditenun dalam lembar kenistaan yang akan dimasukkan ke lubang kehancuran, yang bergolak apinya, tak terperi sakit yang akan dirasa.

Pengakuan pada diri dan Dzat Transenden penguasa alam, dapat pula berupa menyadari betapa dalam diri, hanya ada rupa keagungan mewakili Maha Besar-Nya. Bukan malah menegakkan kepala dan membusungkan dada, berkata diri adalah yang terbaik di antara sesama. Pengakuan pada rendahnya nilai diri di hadapan-Nya, karena kurang atau ketidakmampuan untuk membalas sedikit kepercayaan yang telah diterima semasa ruh ditiupkan pada seonggok gumpalan daging merah, dalam rahim para juru rawat hamba.

Segala pengakuan akan kealpaan, keterlupaan pada kebesaran dan keMaha PemurahanNya, turut pula hendaknya diikuti dengan permohonan ampunan, dan senantiasa mencari pengetahuan untuk berdekatan dengan-Nya. Mencari ilmu yang akan menuntun akal pada pengakuan-pengakuan setelahnya, adalah bentuk kesempurnaan langkah menuju Rahman dan Rahim-Nya Allah Subhanahu wata’ala.

Penulis: Nova Indra (Pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment