Implementasi Media Interaktif dengan Metode Pembelajaran Descovery Learning di Kelas 7 SMPN 4 Malang

By Redaksi 28 Nov 2019, 07:27:15 WIB Artikel Ilmiah
Implementasi Media Interaktif dengan Metode Pembelajaran Descovery Learning di Kelas 7 SMPN 4 Malang

Judul: Implementasi Media Interaktif Permainan Tangga Konsep (Mind Ladder Game) dan Diskusi Window Shoping dalam Pembelajaran Kreatif Teks Cerita Imajinasi  dengan  Metode Pembelajaran  Descovery Learning di Kelas 7 SMP Negeri 4 Malang

 

WPdotCOM -- Selama ini kebanyakan guru masih  menggunakan sumber belajar berupa buku siswa dan buku guru.  Ternyata, dalam praktiknya, mereka  mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, guru masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir peserta didik masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS).  Guru  juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan peserta didik tampak tidak ceria.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik diperoleh informasi bahwa (a) peserta didik malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah, (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru adalah penugasan. Sebagian peserta didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks atau mereka mencari jawaban di internet. Akhirnya mereka sudah terbiasa dengan perilaku plagiasi.

Untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, peserta didik harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).  Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOT’s adalah  discovery learning merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan sehingga siswa memiliki pengalaman belajar yang positif dan bermakna. 

Discovery Learning mempunyai prinsip yang hampir sama dengan model pembelajaran inkuiri (inquiry). Namun, pada  Discovery Learning lebih menekankan bahwa peserta didik menemukan sendiri konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya lain  ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik  semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga peserta didik  harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

Guru tidak boleh konservatif dalam menjalankan proses mengajarnya, melainkan harus memiliki sifat progresif dengan terus memperbaiki diri pada setiap penampilannya dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis media ini dapat memanfaatkan video game, video, web, program komputer dan internet  untuk menciptakan edutainment yang menyenangkan bagi peserta didik. Pembelajaran ini mengajak peserta didik  untuk lebih aktif dalam pembelajaran di kelas.

Media pembelajaran pun memiliki peran penting dalam kesuksesan pembelajaran. Penulis membuat sebuah Media Interaktif Permainan Tangga Konsep (Mind Ladder Game) Media interaktif ini dipakai dan diinteraksikan dengan edmodo sebagai pembelajaran e-learning-nya.

Setelah melaksanakan pembelajaran dengan model discovery learning, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model ini diterapkan pada kelas VII, siswa sangat antusias melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.  Praktik pembelajaran discovery laning  yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model discovery lerning melalui media cirbanad dan teknik diskusi window shoping.

Tujuan pembelajaran dengan Media Interaktif Permainan Tangga Konsep (Mind Ladder Game)  adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran dalam menerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking skills (HOTS) oleh peserta didik kelas VII.B pada semester gasal di SMP Negeri Malang sebanyak 30 orang.

Materi yang diajarkan yaitu Teks cerita imajinasi dengan menggunakan kompetensi dasar yang diajarkan yaitu ranah pengetahuan berupa KD 3.4 Menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi) yang dibaca dan didengar dan ranah keterampilan KD 4.4 Menyajikan  gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulisan dengan memperhatikan struktur dan penggunaan bahasa.

Dalam pembelajaran dengan menggunakan media inovatif ini ada beberapa tahapan yang penting yang menjadi pembeda dengan pembelajaran biasa yaitu sebagai berikut:

Kegiatan motivasi sangat penting dan berarti sebagai minat dan daya tarik peserta didik dalam melanjutkan pembelajaran melalui media interaktif Permainan Tangga Konsep (Mind Ladder Game)

Dalam kegiatan motivasi guru memberikan permainan atau game interaktif yaitu permainan tangga konsep atau mind ladder game yaitu sebuah aplikasi game yang terdiri dari kartu yang berisi kutipan kutipan cerita imajinatif dan peserta didik mengurutkannya berdasarkan tangga konsep yang terdiri dari tahapan-tahapan alur yaitu paparan, rangsangan, gawatan, rumitan, klimaks, leraian, dan selesaian. Tahapan alur ini dibuat seperti tangga yang semakin menanjak yang menggambarkan kisah cerita semakin menanjak lalu di puncak tangga tersebut berisi klimaks cerita. Setelah tahapan tersebut dilanjutkan tahapan leraian dan selesaian. Peserta didik sangat antusias ketika diajak permainan ini sehingga menumbuhkan minat belajar yang luar biasa.

Dalam kegiatan inti ini guru harus memberikan tugas kelompok yang menarik dalam metode descovery learning dan diskusi window shopping.

Tahap pembelajaran inti peserta belajar dalam ranah pengetahuan yaitu guru selanjutnya memberikan sebuah kartu teks acak berupa berupa stiker lalu peserta didik mengurutkan berdasarkan struktur dan tahapan alurnya pada Lembar Kerja kelompok.  Pada LK 1 peserta didik melakuakan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah dalam mengurutkan cerita (problem solving). Peserta didik berdiskusi menelaah stuktur dengan mengurutkan kartu cerita acak.  Pada LK 2 peserta didik menelaah ciri bahasa yang dipakai dalam cerita tersebut.

Tahap selanjutnya ranah keterampilan peserta didik  melihat tayangan video berupa film kartun pendek untuk menulis cerita berantai bersama anggota kelompoknya. Video ini dipilih yang tidak ada dilog dan tulisannya, sehingga hanya berupa gerkaan dan adegan-adegan tokoh yang menjalin cerita imajinasi peserta didik. Peserta didik mengerjakan LK 3 secara kelompok sesuai dengan tayangan film yaitu menyusun cerita pendek berantai sesuai dengan struktur dan ciri bahasa teks imajinasi.

Pada tahap diskusi, peserta didik melakukan diskusi window shopping yaitu diskusi kerja kelompok yang terdiri dari presentasi (penjual) dan pengunjung (pembeli). Peran anggota kelompok sebagai presentasi (penjual) sebagai penjaga toko yang tugasnya mempresentasikan hasil diskusinya kepada kelompok pengunjung. Sedangkan anggota kelompok pengunjung (pembeli) bertugas berkunjung ke kelompok lain untuk belanja ilmu dengan  mendengarkan presentasi dan memberi penilaian dan komentar atas presentasi tersebut.

Penilaian yang menarik dengan memberikan stiker bintang dan silang untuk hukuman bagi pekerjaan yang salah dan penghargaan bagi tugas yang benar. Begitu juga dengan penilaian sikap bagi siswa yang mengerjakan tepat waktu diberi bintang lima (sang jenderal) dan pemberian stiker silang bagi anggota kelompok yang tidak mengikuti aturan, seperti berbicara sendiri, jalan-jalan, tidak mau mengerjakan tugas dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Model pembelajaran kooperatif tipe window shopping (belanja hasil karya) ini akan mengantarkan peserta didik  pada penanaman karakter kerjasama, keberanian, demokratis, rasa ingin tahu, interaksi antarteman dan tanggung jawab.

Pembelajaran inovasi dan interaktif serta menggunakan metode-metode pembelajaran yang menarik dan edutainment membutuhkan persiapan, rancangan, dan instruksi yang jelas kepada peserta didik. Sehingga diharapkan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan terarah, terukur serta mendapat hasil yang baik. Antusias siswa harus tetap dijaga dengan motivasi-motivasi dan aturan-aturan yang tegas sehingga kemungkinan kecil siswa melakukan kecurangan atau peserta didik yang masih suka bermain atau berbicara sendiri. Guru harus ekstra kerja keras untuk mengarahkan dan membimbing peserta didik yang belum mengerti.

Penulis: Fina Mulianastiti, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 4 Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment