Jalan Panjang Pendaftaran Pencak Silat ke UNESCO

By Redaksi 09 Mei 2017, 17:26:12 WIB Budaya Nusantara
Jalan Panjang Pendaftaran Pencak Silat ke UNESCO

Keterangan Gambar : Penampilan Pesilat Indonesia di Prancis dalam rangka pengenalan budaya Indonesia (Courtessy sangpencerah.co.id)


Reporter: d’Nouvelle

Editor: d’Nouvelle

Jakarta, WPdotCOM – Harapan pengakuan Pencak Silat sebagai warisan budaya asli Indonesia dari internasional melalui UNESCO tampaknya masih butuh waktu. Dua tahun ke depan pendaftaran tersebut baru bisa dilakukan oleh pemerintah.

“UNESCO membuka pendaftaran setiap dua tahun sekali. Dan pada tahun 2017 ini, kita mendaftarkan Phinisi,” demikian ungkap Lien Dwiari Ratnawati, Kasubdit Warisan Budaya Tak Benda Kemendikbud di Jakarta pekan lalu dalam sebuah acara talkshow tentang pencak silat.

Jadi, sambung Lien, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru bisa mendaftarkan pencak silat ke UNESCO pada tahun 2019 nanti. Dengan pendaftaran itu nanti, maka warisan budaya tak benda yang diakui sebagai milik Indonesia akan bertambah.

Saat ini, yang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia adalah Wayang, Batik, Keris, Songket, Angklung, Tari Saman, Tari Bali. Bila pendaftaran Phinisi juga diakui setelah didaftarkan tahun ini, maka warisan budaya tak benda milik Indonesia akan menjadi 8. Selanjutnya disusul oleh pendaftaran pencak silat dua tahun mendatang.

Secara terpisah saat ditemui media ini, Rahim Junaidi seorang tokoh pencak silat tradisi Minangkabau menyampaikan harapannya agar pencak silat benar-benar diakui sebagai warisan budaya Indonesia. Menurutnya, dengan pengakuan itu, dampak terbesarnya adalah upaya bersama untuk terus melestarikannya di dalam negeri. Bukan membanggakan  pencak silat yang diminati oleh orang luar, sementara sebagai pemiliknya sendiri lupa untuk terus mengembangkannya.

“Kita selama ini bangga pencak silat milik kita ini dipelajari dan didalami orang lain. Sementara di dalam negeri, di daerah-daerah yang selama ini menjadi kantong budaya dan tradisi silat, generasi muda kita hampir melupakannya,” demikian ungkap Rahim.

Ini sudah terjadi dimana-mana, sambung Rahim. Dan menurutnya hal itu bukan kesalahan generasi muda negeri ini, tapi merupakan keteledoran para sesepuh yang selama ini tidak mengedepankan pendidikan tradisi dan budaya negeri sendiri. Dengan pengakuan UNESCO nanti, Insya Allah pencak silat akan kembali menjadi tuan rumah di negeri ini lagi. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment