Jeritan Hati Pejuang dan Pendidik Generasi

By Redaksi 04 Jan 2019, 10:04:18 WIB Artikel Ilmiah
Jeritan Hati Pejuang  dan Pendidik Generasi

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


WPdotCOM -- Guru, merupakan profesi yang sangat mulia di sisi Allah apabila dijalankan dengan keikhlasan. Ketika seorang guru memberikan pengetahuan, yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh siswanya,  maka sudah dapat  dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat, yang diperhitungkan di akhirat kelak.

Sebagai seorang guru yang mengajar di Sekolah Dasar, tentu akan terbayang proses pengajaran yang berlansung mulai dari kelas 1; yang peserta didiknya belum mengenal apa-apa, sampai kelas enam yang diberikan bekal dasar-dasar keilmuan pada setiap mata pelajaran.

Pada  setiap tingkat kelas yang menjadi tanggung jawab seorang guru, tentu mempunyai kisah-kisah menyenangkan dan mengharukan. Sesuai  pula dengan  tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Hanya seorang guru Sekolah Dasar-lah yang akan mengetahuinya dan merasakannya.

Setiap orang yang memilih profesi sebagai guru, tentu ia bisa  dikatakan sebagai seorang pejuang. Seorang pejuang  yang  ingin setiap anak didiknya mencapai keberhasilan kelak, di kemudian hari.  Seorang pejuang yang berharap anak didiknya menjadi cerdas, terampil , dan berakhlah mulia.  Hanya Kata-kata “keberhasilan “ itulah yang selalu menjadi impian setiap guru di mana pun berada. Dan kata-kata itu juga menjadi kebanggaan seorang guru. Belum ada dalam sejarah seorang guru berharap imbalan jasa dari anak didiknya di kemudian hari, ketika mereka sudah berhasil.

Perjuangan seorang guru yang mengajar, mulai dari kelas satu sampai kelas  enam di Sekolah Dasar, dalam mendidik siswanya di sekolah, bukanlah suatu hal yang mudah dilaksanakan. Pada setiap proses belajar-mengajar yang dilaksanakan di kelas, selalu menekankan sikap jujur, tanggung jawab, rasa percaya diri. Dan selalu berbuat benar sesuai dengan Standar Kelulusan Sekolah Dasar.

Di samping membentuk akhlak dan kepribadian, tugas berat seorang guru yaitu mentransfer  ilmu pengetahuan kepada siswanya. Berbagai cara dilakukan oleh guru agar siswanya memperoleh nilai terbaik pada setiap penyampaian hasil penilaian, baik dalam bentuk  nilai harian, nilai ujian tengah semester, nilai rapor akhir semester, maupun ujian ahkir kelas enam.  Kalaupun segala usaha telah dilakukan oleh guru dalam membentuk  akhlak siswa, tetap saja ada beberapa orang siswa yang berakhlak tidak sesuai dengan tuntutan Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Dasar.

Oleh berbagai pihak, tingkat keberhasilan seorang guru sering dinilai apabila peserta didiknya mendapatkan nilai yang bagus. Dan nilai yang tinggi pada ujian akhir sekolah di kelas enam.  Padahal, tingkat keberhasilan sebagai seorang pendidik  sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional, sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Bukan hanya bertumpu pada jumlah nilai ujian saja.

Namun, kenyataan di lapangan yang sering dihadapi bahkan menjadi ganjalan bagi guru, terutama guru kelas enam, adalah adanya dilema untuk meluluskan siswa yang berakhlak belum sesuai dengan yang diharapkan Undang-Undang nomor 20 tahun2003 tersebut. Hanya dengan nilai yang bagus, mereka harus diluluskan atau ditamatkan dari Sekolah Dasar. Ketika seorang siswa sudah mendapat nilai mencapai SKL yang telah ditetapkan , maka ia sudah dapat dikatakan lulus pada satuan pendidikan tersebut. Walaupun tingkah lakunya, sikapnya, akhlaknya, dan kemampuan beribadah, serta ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa belum sesuai dengan yang diharapkan. Kalau sekiranya ada siswa yang tidak diluluskan, akan menurunkan prestise suatu sekolah atau lembaga.

Itulah fenomena yang dihadapi oleh beberapa orang guru di sekolah. Sehingga kadang timbul pertentangan batin bagi guru-guru kelas enam. Padahal, ketika si guru kelas enam telah gencar-gencarnya mengingatkan dan menggerakkan, bahwa kalau si siswa  tidak berprilaku baik, maka ia tidak akan lulus ujian kelas enam.

Dengan adanya fenomena tersebut, tentunya  akan berdampak terhadap kinerja dan harga suatu nasehat  guru terhadap murid-muridnya . Siswa akan meremehkan nasehat-nasehat yang disampaikan guru, karena mereka yakin tetap akan lulus dari sekolah tersebut. Wallahua’lam bishshsawaab.

Sumber Rujukan

  1. Undang-undang no 20 tahun 2003
  2. Permendiknas no 16 thun 2006 

Ratna Juita, S.Pd.  (Guru SDN 13 Taratak, Buluh Kasok,  Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment