Kalah dari Negara Tetangga, Profesor di Indonesia Minim Publikasi Ilmiah

By Redaksi 22 Apr 2017, 11:06:07 WIB Nasional
Kalah dari Negara Tetangga, Profesor di Indonesia Minim Publikasi Ilmiah

WPdotCOM -- Besarnya beban penyandang status Profesor di negeri ini, ternyata begitu nyata di lapangan. Beban publikasi ilmiah pun menjadi sorotan leading sektor pendidikan tinggi, yakni Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Bila di negara tetangga Malaysia misalnya, mampu mempublikasi sekitar 24 ribu karya ilmiah terpublikasi per tahun, disusul Singapura sekitar 17 ribu karya, kemudian disusul Thailand dengan 12 ribuan karya.

"Sementara publikasi di Indonesia berada di kisaran 9.500 karya ilmiah saja. Padahal, Indonesia ini memiliki 6.000-an guru besar dan sekitar 31 ribu lektor kepala (jabatan akademik)," kata Menristek Dikti Mohamad Nasir saat peluncuran Universitas Diponegoro sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) di Semarang dua pekan lalu.

Menurut Nasir lagi, bila seluruh guru besar mempublikasikan minimal satu karya ilmiahnya dalam setahun, berarti akan dihasilkan 6.000 karya. Dan bila ditambah dengan publikasi dari kalangan lektor kepala separuhnya saja, sekitar 18.500 karya, akan dihasilkan 24 ribu lebih karya ilmiah terpublikasi.

Mengingat minimnya publikasi ilmiah di kalangan profesor tersebut, Nasir menegaskan bakal dievaluasinya tunjangan yang diberikan bagi profesor yang tidak produktif membuat publikasi karya ilmiah.

Belum lama ini, sebagaimana yang dipaparkan oleh Nasir, pihaknya mengundang profesor diaspora, yakni profesor di perguruan tinggi seluruh dunia, seperti AS, Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang, yang berasal dari Indonesia. Informasi yang didapat sungguh mencengangkan. Ada profesor yang ternyata bisa  publikasi 30 karya ilmiah dalam setahun. Di Indonesia, ada profesor yang setiap tahun hanya 4 hingga 6 publikasi saja, bahkan ada yang selama empat tahun tidak publikasi.

Untuk itu, pihaknya terus mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk menggenjot publikasi internasional, setidaknya setiap fakultas harus ditarget membuat 20-30 karya ilmiah internasional.

“Di tahun 2017 ini, setelah menerima tunjangan sertifikasi, dan tunjangan kehormatan, masing-masing guru besar tersebut harus melakukan publikasi ilmiah,” tegasnya.

Penegasan tersebut menurut Nasir, akan ditinjau dari dalam tahun ini bagi profesor yang tidak membuat publikasi ilmiah. Dan tunjangan kehormatan mereka akan jadi taruhan. Hal itu disebabkan begitu pentingnya publikasi interbasional oleh profesor dan guru besar. “Hal ini merupakan instrumen penting bagi kelangsungan kualitas dunia pendidikan kita, apalagi untuk perguruan tinggi berbadan hukum,” jelasnya. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment