Ketika Cinta Memilih Jalannya

By Redaksi 23 Agu 2017, 10:45:19 WIB Sastera
Ketika Cinta Memilih Jalannya

Keterangan Gambar : Ilustrasi


WPdotCOM -- Kutarik rambutku yang kusut di depan cermin. Terlihat bayangan wajah lelah dan muram yang terpancar dari wajahku. Aduh, mengapa jadi hilang wajah cantik dan gembira yang biasa terpantul di cermin ini? Sudah begitu sedih dan kecewakah hari-hari yang kulewati akhir-akhir ini, sehingga semburat rona kusam memantulkan aura abu-abu  dari tubuhku?

Aku mengenalnya dengan sangat baik, sebut saja namanya Hedlin. Dia selalu ada di hari- hari berat dimana aku harus menyelesaikan skripsiku. Pagi, siang, atau malam dia ada untukku, menemaniku. Sehingga tak jarang kami sangat ketergantungan. Kami adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan saling mengerti apa kemauan masing-masing tanpa harus menjelaskan. Cukup dengan tatapan mata, kami akan saling tahu yang kami inginkan. Sungguh, ini adalah cinta yang luar biasa.

Pagi kemarin, aku harus buru-buru ke kampus, hari itu adalah saat untukku maju sidang skipsi di awal sesi. Ini hari yang penting bagiku karena merupakan akhir perkuliahan yang menentukan kelulusanku di kampusku tercinta di kota pendidikan ini. Sungguh bahagia mendengar kabar, bahwa salah satu dari tiga  dosen pengujiku adalah Pak Nunu, dosen favoritku, yang cukup dekat denganku sehari-hari karena kami sering berdiskusi tentang ilmu keagamaan. Very excited, thank God. Semoga dimudahkan.

Tepat  jam 9 pagi, jam yang disepakati, Pak Nunu belum juga hadir. Sehingga aku harus menunggu sangat lama. Karena terlalu lama, akhirnya pihak kampus memutuskan aku harus tetap melanjutkan sidang skripsi. Dengan persiapan yang matang dibantu kekasihku Hedlin, semua pertanyaan bisa aku jawab dengan rinci, ilmiah dan sempurna.

Tidak ada celah sedikitpun yang bisa dimasuki oleh para dosen penguji untuk bisa membullyku. Lagi pula Hedlin jago IT, dia Ketua Senat mahasiswa paling pinter di kampus, tentu saja aku bangga menjadi kekasihnya. Dan layout dari skipsiku,  Hedlin yang bantu semuanya. Sehingga presentasiku sangat  mengesankan para dosen penguji karena konten di dalamnya mengandung muatan ICT yang sangat kental, yang sedang update di era teknologi canggih saat ini.

Lebih dari satu jam aku di sidang  dengan peluh yang masih menetes di jas almamaterku. Tapi, tiba-tiba pintu ruang sidang terbuka. Pak Nunu masuk tergopoh-gopoh dengan tatapan dingin. Dijelaskannya, dia sibuk sehingga telat menghadiri sidangku. Kemudian dengan wibawanya ia bilang pada kedua dosen penguji lain untuk tetap menguji ulang skipsiku.

Jadi, keputusannya aku harus mengulang semua presentasiku dari awal hingga akhir. Sungguh, suasana yang bikin nyesek dada. Aku sudah capek, aku sudah lelah menjelaskan lagi dari awal. Aku belum sarapan. Aku belum sempat minum. Tengggorakanku kering. Pengin nangis sebenarnya. Dosen yang kukenal sangat baik dan ramah kepadaku, ternyata telat datang dan memaksaku memulai dari awal presentasiku. Sungguh keterlaluan.

Dengan setengah hati aku memulai ulang presentasiku. Demi sebuah cita-cita menjadi sarjana komputer, aku harus kuat. Aku harus mampu menekan rasa emosiku yang meledak-ledak. Aku harus bisa menunjukkan eksistensiku. Tapi apa yang terjadi? Belum selesai semua bab aku jelaskan, masih sampai di Bab 4, pak Nunu menginterupsiku. Ia menghujaniku beberapa pertanyaan mendasar. Beliau mengajukan pertanyaan yang sulit kujawab.

Tercekat rasanya tenggorokanku. Dia membuat ku berasa seperti sapi bego di depan ruang sidang. Begitu telak ia menamparku dengan pertanyaan ilmiah yang tidak bisa kujawab. Pengin rasanya lari dari ruangan. Pengin teriak nangis sekuat-kuatnya karena rasa malu dan kecewa setengah mati dengan suasana yang menyesakkan dada. Semua karena Pak Nunu. Ya, dosen idolaku yang ternyata membantaiku di ruang sidang. Sakit rasanya. Semua di luar perkiraanku.

Sore ini begitu muram, teringat tadi siang aku gagal maju sidang. Sebuah kenyataan perasaan yang sangat pahit. Hujan lebat turun di balik jendela kamarku. Sebuah pesan di Whatsapp dari kekasihku tercinta Hedlin, terus menyemangatiku untuk tidak putus asa. Masih ada kesempatan maju sidang kedua dan dia sanggup bantu semuanya.

I Love You Bidadariku. Kamu ratuku...” Begitu selalu berulang-ulang Hedlin kirim pesan.

Sayangku Hedlin, ternyata kamu selalu setia ada dalam sedih gembiraku, dalam gagal dan suksesku. Tidak pernah ada ragu atau lelah di hari-hari kita. Aku sayang kamu Hedlin.

Hanya satu yang harus aku lakukan sekarang, aku harus menyisir rambutku yang kusut yang terpantul  di cermin. Aku harus berubah. Demi Hedlin aku harus terus semangat. Aku balas pesan Hedlin.

“Sayangku, jemput aku ya, pangeran cintaku. Kita revisi skripsi ini di cafe favorit kita. Datanglah segera, aku menunggumu demi masa depan kita.“

Pesanku terkirim. Tanpa mempedulikan apapun aku segera bersiap. Dengan riasan sederhana, riasan yang sangat disukai Hedlin kekasihku. Lamat-lamat di telingaku terdengar lagu Kali Kedua yang dinyanyikan Raisa....”jika senyummu saja bisa memindahkan duniaku....

Penulis: Santy Fidrianna (Pimp. P3SDM Melati – Guru SMK Telkom Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment