Lingkungan Sekolah Sebagai Media Pembelajaran

By Redaksi 03 Jul 2019, 14:45:34 WIB Artikel Ilmiah
Lingkungan Sekolah Sebagai Media Pembelajaran

WPdotCOM -- Terjadinya perubahan kurikulum, menuntut kerja keras dari guru untuk melakukan inovasi dalam pembelajarannya. Pendekatan apapun yang digunakan dalam KBM, diharapkan selalu mendudukkan peserta didik sebagai pusat perhatian dan perlakuan.

Peranan guru dalam pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh metode apa yang akan dipelajari saja. Melainkan bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak. Pengalaman belajar, diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan. Pendekatan pembelajaran yang tepat untuk mencapai serangkaian kemampuan  serta sikap tersebut, bukanlah pendekatan mengajar konvensional (satu arah) dari guru ke peserta didik. Namun merupakan suatu pendekatan yang mengupayakan agar peserta didik mampu 1) menghayati proses belajar  dengan melakukan sesuatu yang bermakna, suatu pembelajaran yang menuntut peserta didik aktif, 2) proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia yang terdidik mandiri.

Banyak faktor yang secara langsung menentukan kesuksesan belajar dan keberhasilan pendidikan. Faktor itu antara lain sarana prasarana sekolah, kurikulum, program pengajaran, input peserta didik serta inovasi guru dalam pembelajaran.

Pemberdayaan lingkungan sekolah atau luar sekolah, selama ini sering dilupakan sehingga pembelajaran berlangsung dengan cara duduk – dengar – catat dan hafal, yang mengakibatkan banyak peserta didik kurang peduli terhadap lingkungan dimana meraka berada. Sebenarnya guru dapat memanfaatkan sumber-sumber pendukung  belajar yang ada di sekitar sekolah untuk dilibatkan dalam proses belajar peserta didik agar proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna bagi semua pihak. Di lingkungan peserta didik dapat diajak untuk mengamati obyek secara langsung, sehingga tidak merasa bosan karena hanya mendengarkan keterangan guru.

Lingkungan Sekolah Sebagai Media Pembelajaran

Lingkungan dalam pembelajaran IPA, dapat diartikan segala sesuatu yang ada di sekolah atau tempat tinggal peserta didik yang termasuk di dalamnya mahluk hidup maupun benda mati, yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Dengan maksud lebih lanjut bahwa lingkungan tersebut dapat menjadi obyek pengamatan. Sarana atau tempat melakukan percobaan dan sebagai tempat mendapatkan informasi. Maka dengan pengertian tersebut lingkungan merupakan sesuatu yang sangat penting baik sebagai wahana maupun sebagai obyek pembelajaran IPA.

Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan untuk melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah mengantar para peserta didik menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku, baik intelektual, moral maupun sosial. Semua itu ditujukan agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan mahluk sosial. Di dalam mencapai tujuan tersebut, peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur guru melalui proses pembelajarannya.      Dalam pembelajaran, ada dua aspek yang menonjol yakni metode pembelajaran dan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar. Dengan demikian, kedudukan media ada dalam komponen pembelajaran sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru.

Interaksi yang akrab antara peserta didik dan lingkungannya, akan memotivasi peserta didik untuk mempelajari IPA. Sehingga pelajaran IPA bermakna buat peserta didik. Keterampilan proses IPA bukanlah sesuatu yang baru dalam IPA atau sains. Keterampilan-keterampilan tersebut, merupakan hal-hal yang biasa dilakukan orang apabila ia melakukan IPA (beripa).

Berdasarkan jenisnya keterampilan proses IPA dibedakan menjadi keterampilan-keterampilan intelektual, fisik dan sosial. Dengan keterampilan intelektual dimaksudkan bahwa pikiran dan logika diperlukan dalam mengembangkan keterampilan proses, misal keterampilan merencanakan percobaan. Keterampilan fisik menunjukkan keaktifan yang nampak dilakukan secara manual misalnya keterampilan memilih dan menggunakan alat, mengukur. Keterampilan sosial terlihat dalam kegiatan yang menekankan pada keterampilan proses antara lain kertrampilan berkomunkasi, misalnya mengemukakan hasil pengamatan.

Manfaat Lingkungan Sekolah Sebagai Media

Nilai dari suatu lingkugan sebagai sumber belajar bergantung kepada kecakapan memanfaatkannya. Yang dimaksud manfaat di sini adalah media mempunyai arti tersendiri bagi guru yang menggunakannya sehingga dapat membantu  peserta didik memproses pesan - pesan pendidikan  atau bahan - bahan pembelajaran yang disampaikan. Dengan demikian Media membantu mempertinggi proses belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar yang diharapkan.

Ada beberapa alasan mengapa lingkungan sebagai media dapat meningkatkan mutu proses belajar, antara lain: 1) Makin memperjelas bahan pengajaran yang disampaikan guru. Penggunaan lingkungan dapat mengefektifkan dan memfungsionalkan penggunaan alat indera peserta didik  sebanyak mungkin sesuai sifat materi dan pokok bahasan yang disampaikan. Dengan menggunakan media tepat guna uraian dan contoh menjadi tambah jelas. 2) Memberi pengalaman nyata pada peserta didik. Peristiwa peristiwa yang ditampilkan oleh guru melalui video, akan lebih dimengerti dan meyakinkan peserta didik daripada guru bercerita tentang peristiwa tersebut. 3) Merangsang peserta didik berdialog dengan dirinya sendiri. Melalui rekaman video peserta didik dapat melihat hal - hal yang belum pernah diterangkan oleh guru, akan menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diri peserta didik yang memerlukan jawaban. 4) Merangsang cara berpikir peserta didik. Pemilihan media yang tepat akan lebih mempercepat daya cerna mereka terhadap materi yang disajikan serta dapat bertahan lama karena media mempunyai daya stimulus yang kuat.

Berkenaan  dengan taraf berpikir peserta didik, taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir kongkret menuju berpikir abstrak, dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Dalam hal ini, penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media, hal - hal yang kompleks dapat disederhanakan.

Kriteria Memilih Media

Penggunaan media tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran. Oleh sebab itu penggunaan media pengajaran sangat bergantung pada hal-hal berikut: 1) Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran. Artinya media dipilih atas dasar indikator yang telah ditetapkan. Indikator yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media. 2) Dukungan terhadap bahan pembelajaran. Artinya, bahan pembelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami peserta didik. 3) Kemudahan memperoleh media. Artinya, media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat tanpa biaya mahal. 4) Keterampilan dalam menggunakannya. Apapun jenis medianya syarat utama adalah terampil menggunakannya. Nilai dari media bukan dari medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar peserta didik dengan lingkungannya. 5) Tersedianya waktu yang cukup. Artinya, media yang digunakan hendaknya dapat bermanfaat bagi peserta didik selama pembelajaran berlangsung.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amien, Moh dan Sukarno.1995. Petunjuk Guru Biologi 3.Jakarta: Departemen Pendidi -kan dan Kebudayaan RI.
  2. Degeng, S. Nyoman. 2001. Media Pembelajaran. Malang: LP3 Universitas Negeri Malang.
  3. Hubard. Ron. 1986. Cara Belajar Yang Baik. Bandung: Angkasa.
  4. Latuheru, John D. 1988. Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: P2LPTK
  5. Nur, Mahmud, dkk. 1996. Teori Pembelajaran IPA dan Hakekat Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen.
  6. Nurhadi. 2002. Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ). Malang : Universitas Negeri Malang.
  7. Saparudin, Yudhi. 2003. Juni . Optimalisasi Laboratorium IPA. Gerbang.Edisi 12,
  8. hal 38 – 40
  9. Sanjaya. Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Penulis: Dra. Ratna Widiastuti (Guru SMA Negeri 1 Wungu, Kab. Madiun)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment