Manajemen Sekolah Berbasis ICT, Sebuah Tinjauan Progresivitas dan Rekonstruksional (Bag. 1)

By Redaksi 21 Apr 2017, 10:45:46 WIB Artikel Ilmiah
Manajemen Sekolah Berbasis ICT, Sebuah Tinjauan Progresivitas dan Rekonstruksional (Bag. 1)

Al-Quran dan Hadits sebagai sumber ajaran Islam telah memberi isyarah pentingnya penggunaan teknologi dalam berbagai aspek, termasuk dalam bidang pendidikan. Dalil-dalil berikut menjadi landasan dalam pemanfaatan teknologi, khususnya dalam bidang pendidikan.

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖحَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖحَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

(Zulkarnain berkata), “Apa yang telah dikuasakan Tuhanku kepadaku dalam masalah ini adalah lebih baik; maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) agar aku dapat membuatkan dinding antara kamu dan mereka. berilah aku potongan-potongan besi; hingga ketika besi itu telah rata dengan kedua puncak bukit, Dzulkarnain pun berkata: Tiuplah (api itu); hingga ketika besi itu telah menjadi pijar ia berkata pula: Berilah aku tembaga (mendidih) untuk kutuangkan ke atas besi panas itu. (Al-Kahfi: 95-96)

Dari ayat tersebut di atas nyata betapa pemanfaatan teknologi telah dilakukan sejak dahulu. Hal ini mengandung isyarat bagi manusia, penguasaan dan pemanfaatan teknologi sangat penting. Dari perkataan “apa yang telah dikuasakan Tuhanku kepadaku dalam masalah ini lebih baik”, maknanya adalah bahwa manusia telah diberi ilmu pengetahuan oleh Allah untuk memanfaatkan potensi dan teknologi, sebagaimana ucapannya “maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat/teknologi).

Al-Qur’an bukan buatan manusia, melainkan wahyu Allah yang dapat dipahami oleh manusia yang tekun, dengan dedikasi taat kepada Allah melakukan dan mengembangkan sains.

Isyarat lain yang juga sangtat penting bagi manusia dalam mempelajari dan menerapkan teknologi, dapat dikaji dari peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa tersebut mendorong umat manusia untuk memperhatikan dan mempelajari teknologi. Bahkan Allah yang Maha Besar ada berfirman:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚلَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Wahai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembusi (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah (lintasilah); kamu tidak dapat menembusinya melainkan dengan kekuatan yang besar.” (Ar-Rahman: 33)

 

Dalam ayat ini, Allah menganjurkan kepada jin dan manusia untuk mencoba meningkatkan kemampuannya, agar dapat menjelajahi jarak yang sangat jauh dan yang sangat sulit ditempuh, ke arah mana saja, termasuk juga ke langit atau angkasa luar. Hal demikian hanya akan terwujud jika manusia sanggup menggunakan teknologi yang dalam ayat tersebut diistilahkan dengan sulthon.

Bila manusia melakukan amatan yang menyeluruh dan mempelajari secara ilmiah, dan mampu memanfaatkan teknologi terhadap peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala yang beraneka ragam di seluruh jagat raya ini, akan beruntunglah mereka dengan ditemukannya kebenaran dan makin yakin pada kuasa Sang Pencipta. Bahkan jika manusia mengarungi angkasa luar sambil ingat kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya dan akan terasa betapa kecilnya manusia itu. Hal ini disebabkan kemanapun manusia melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan kebenaran agamaNya yang merupakan rahmat seluruh umat manusia, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, didasari keimanan kepada Allah dan digunakan untuk mencapai ridha dan magfirohnya.

Landasan Filosofis

Sistem Informasi Manajemen dalam bidang pendidikan dilandasi oleh filsafat progresivisme dan rekonstruksionalisme. Dalam pandangan progresivisme tidak ada hidup yang tetap, apalagi nilai-nilai yang abadi. Yang ada adalah perubahan. Kaum progresif, sangat menekankan kehidupan sehari-hari, maka segala tindakan mereka diukur dari kegunaan praktisnya.

Francis Bacon dalam bukunya The Advancement of Learning mengemukakan tesis, kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung unsur-unsur vitalitas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sehari-hari. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknis kritis atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui pengalaman secara kritis dengan logika induktif, akan dapat ditemukan konsep-konsep pendidikan yang dapat diandalkan.

Kaum progresif berpandangan, gagasan-gagasan eksperimentalis terlalu netral dan dengan demikian tidak memberikan pembaharuan-pembaharuan pendidikan yang luas seperti yang dibutuhkan. Para aktivis progresif, mencoba suatu ideologi yang lebih langsung untuk memperbaiki penyakit-penyakit sosial dan membangun suatu masyarakat yang lebih baik dengan merangkul rekonstruksi-onisme.

Progresivisme melihat umat manusia di suatu dunia yang berkembang. Karena itu pengetahuan tidaklah statis atau abadi, tetapi bersifat dinamis. Pendidikan harus dipandang sebagai sebuah proses pertumbuhan dan bukan semata-mata sebuah proses transmisi kebudayaan dan pengetahuan. Pikiran dipandang menurut kontinuitas biologis dengan sifat, bukan dengan sesuatu yang terpisah. Sifat dan kepentingan pelajar dan kondisi-kondisi sosial, adalah tujuan yang harus diperhatikan di dalam mengembangankan suatu kurikulum yang seimbang dan koheren. Salah satu contoh, materi pelajaran ilmu pengetahuan alam, yang telah menghasilkan suatu revolusi pada pemahaman tentang diri sendiri dan tentang alam semesta, didasarkan pada metode intelegensi. Diterapkan pada kondisi manusia, metode intelegensi memungkinkan untuk melaksanakan kontrol yang lebih besar terhadap pergerakan menuju arah masa depan.

Sejalan dengan pemikiran progresivisme, rekonstruksionisme memandang teknologi sebagai sarana utama untuk membangun suatu tatanan sosial yang baru. Dalam pidato yang disampaikan pada tahun 1932 kepada berbagai perkumpulan lembaga pendidikan, George S. Counts meminta para pendidik progresif supaya menghadapi krisis-krisis besar pada masa itu dengan menciptakan visi baru tentang nasib manusia berdasarkan atas kesejahteraan sosial, dan menyalurkan lembaga pendidikan ke tugas memberikan cara-cara kepada generasi yang muncul untuk mewujudkan visi tersebut.

Progresivisme menekankan pentingnya jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Tujuan pemanfaatan teknologi bagi mereka adalah satu, artinya bila tujuan berubah maka teknologi pun berubah pula. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan, adalah mengembangkan peserta didik untuk bisa berpikir yang baik. Hal ini bisa dicapai melalui manajemen pendidikan yang baik, dan metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi terpusat pada siswa.

Pada perkembangannya, visi progresif telah dipecah menjadi beberapa gambaran yang sangat berbeda dan bahkan bertentangan. Labih lanjut dijelaskan, filsafat pendidikan rekonstruksionis merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki. Mereka bercita-cita mengonstruksi kehidupan manusia secara total, semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru. Aliran ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama, dan membangun tata susunan hidup yang sama sekali baru, melalui lembaga dan proses pendidikan dengan memanfaatkan teknologi.

Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan, tidak banyak berbeda dengan aliran progresivis. Pengaruh kedua aliran itu meresap ke dalam bidang pendidikan di Indonesia, sehingga adanya Sistem Informasi Manajemen pun dilandasai oleh konsep filsafat tersebut. Namun demikian, karena bangsa Indonesia secara resmi memiliki Pancasila sebagai landasan negara, maka tidak seluruh paham progresiv dan rekontruksional itu masuk ke dalam sistem pendidikan di Indonesia, dalam hal-hal tertentu disesuaikan dengan karakteristik dan landasan filosofis Negara, sehingga di Indonesia, tata kelola pendidikan nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila.

 

Manajemen Strategis

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada bidang layanan di satuan-satuan pendidikan telah menjadi suatu kebutuhan. Bukan sekedar prestise atau lifestyle manajemen pendidikan yang taklid pada perkembangan dunia maju. Terkait dengan konteks kekinian, pemanfaatan TIK dalam pelaksanaan kebijakan penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik lembaga pendidikan, implementasi sistem informasi dalam pelayanan manajemen pendidikan, sudah tentu bisa dikatakan sangat tepat.

Penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik satuan pendidikan, akan bermuara pada meningkatnya kinerja lembaga pendidikan dan kualitas produk layanan. Kebijakan ini akan bermakna manakala dikaitkan dengan upaya pemenuhan layanan manajemen lembaga pendidikan yang bermutu, program pengajaran yang bermutu, fasilitas pendidikan yang bermutu, dan staf pendidikan yang berkelas pula.

Berdasarkan entitas dan pirantinya, sistem informasi lembaga pendidikan merujuk pada seperangkat sistem dan aktivitas yang digunakan untuk menata, memproses, dan menggunakan informasi sebagai sumber dalam pengorganisasian tata kelola. Adapun keluaran berupa informasi yang dihasilkan oleh sistem ini, akan mensuplai informasi kepada para stake holder lembaga. seperti di bawah ini:

  1. Sistem informasi akademik untuk menghasilkan laporan di berbagai bidang kegiatan seperti akademik, keuangan, personel, distribusi peserta didik di berba-gai jurusan, dan lain-lain;
  2. Sistem informasi akademik untuk menjawab pertanyaan “what if”. Sistem informasi ini memanfaatkan informasi tersimpan yang perlu untuk mempertim-bangkan konsekuensi tindakan; dan
  3. Sistem informasi akademik untuk mendukung pengambilan keputusan, evaluasi, dan pengembangan sistem.

Pada kenyataannya, sistem informasi akademik sering ditafsirkan salah. Kesalahan tafsir ini berpangkal pada dua hal; pertama, sistem informasi sering diartikan hanya sebagai komputerisasi pekerjaan ketatausahaan; dan kedua, sistem informasi diartikan hanya sebagai “an all knowing computer which will provide answer and decision for complex problems when a manager simply presses a few buttons.” (bersambung ke Bag. 2)

Penulis: Santy Fidriana (KaUr Promosi SMK Telkom Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment