Manajemen Sekolah Berbasis ICT, Sebuah Tinjauan Progresivitas dan Rekonstruksional (Bag. 2)

By Redaksi 14 Apr 2017, 09:45:07 WIB Artikel Ilmiah
Manajemen Sekolah Berbasis ICT, Sebuah Tinjauan Progresivitas dan Rekonstruksional (Bag. 2)

Secara spesifik, sistem informasi akademik memiliki beberapa karakter yang cukup luas, yaitu: (a) Sistem informasi akademik bermakna sebagai pendekatan-pendekatan dalam melakukan proses manajemen; (b) Komputer hanya merupakan komponen, atau alat bukan fokus sentral dari sistem informasi; (c) Pimpinan berperan aktif dalam rangka sistem sebagai pengguna informasi bukan sebagai tenaga teknis ataupun operator komputer; dan (d) Esensi sistim informasi administrasi terletak pada sistem terpadu dan sistem terencana, bukan hanya urusan mekanisme pengolahan data.

Sebagian besar keputusan manajemen yang ada dalam penyelenggaraan layanan pendidikan, sebagai mana lembaga-lembaga profit lainnya, bersifat berulang dan rutin. Menurut sebuah survei menyebutkan bahwa 90% dari keputusan manajemen merupakan keputusan rutin. Jika mengacu pada survei di atas, maka sudah saatnya lembaga pendidikan memiliki kebutuhan mendesak mengotomatisasi atau memprogramkan keputusan-keputusan itu. Dengan bisa diprogramkannya keputusan-keputusan manajerial tersebut, ma-ka para pengelola di setiap unit bisa mencu-rahkan pekerjaan mereka kepada pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya, yaitu mengambil keputusan-keputusan jangka panjang dan mencari upaya peningkatan mutu layanan lembaga pendidikan jangka panjang.

Dalam pelaksanaannya, sistem informasi dihimpun dari berbagai macam data yang dikelola dan diproses dengan alat dan aplikasi, sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan bagi terlaksananya kegiatan pendidikan. Sistem ini dapat dibagi ke dalam beberapa subsistem: (a) Seleksi dan registrasi peserta didik baru; (b) Kurikulum dan bidang studi; (c) Pembelajaran, tugas, dan ujian; (d) Pengelolaan dan pengembangan tenaga pendidikan; dan (e) Kelulusan, dan, database alumni.

Penggunaan TIK dalam mendukung proses ini, merupakan salah satu bentuk kepekaan lembaga dalam mencapai kesuksesan. Kepekaan manajerial membuat lembaga mampu mendeteksi secara dini perubahan pasar, merancang ulang proses transformasi yang selama ini telah berjalan dalam rangka memenuhi tuntutan pasar, berbagai informasi dengan dunia luar, mengambil keuntungan maksimal dari sistem informasi, dan lebih dahulu dalam mengadopsi proses dan produk teknologi baru dalam rangka memenangkan kompetisi. Maka dari itu, pema-haman kondisi lembaga dalam berkontribusi, mendukung, atau kemampuan merespon secara cepat dan efektif, merupakan langkah kritis dalam rangka menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan dan relevansi pasar.

Adapun nilai positif yang ditawarkan oleh TIK pada lembaga pendidikan antara lain: (1) Pendaftaran secara online mengguna-kan website, sehingga calon peserta didik dapat melakukannya tanpa harus secara fisik datang ke lokasi pendidikan bersangkutan; (2) Informasi online yang memungkinkan penyele-saian administrasi dilakukan dimanapun dengan menggunakan perangkat digital seperti komputer, PDA (Personal Digital Assistant), tablet PC, dan lain sebagainya; (3) Peserta didik dapat melihat nilai ujian maupun informasi akademis lainnya melalui internet atau perangkat telepon genggam yang dimilikinya; (4) Sistem dokumentasi dan kearsipan yang tersimpan dalam format elektronik secara rapi dengan meggunakan perangkat aplikasi berbasis EDMS (Electronic Document Management System); (6) Pengelolaan sumber daya manusia yang terintegrasi menyangkut rekam data dan informasi peserta didik, guru, dan alumni; (7) Pustaka buku dan referensi yang dapat diakses dari manapun dan kapan pun (24 jam sehari, 7 hari seminggu); dan (8) Sistem informasi terpadu yang terkait dengan fungsi administrasi, sumber daya manusia, keuangan dan akuntansi, pengelolaan aset, dan lain sebagainya.

Menurut Lasar, mengidentifikasi dua faktor penghambat prosesi ini, yaitu: faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis meliputi: (1) Teknologi dan infrastruktur. Manajemen Sistem Informasi Sekolah membutuhkan perangkat komputer, jaringan internet dan teknologi yang tepat. Persoalan saat ini adalah belum semua satuan pendidikan memiliki teknologi dan infrastruktur tersebut, terutama di daerah pinggiran; (2) Desain materi. Penyampaian konten-konten data akademik melalui Sistem Informasi Akademik perlu dikemas dalam bentuk yang berpusat pada pihak-­pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran (stakeholder). Saat ini masih sangat sedikit pengguna Sistem Informasi Akademik yang berpengalaman dalam mengoperasikan Sistem Informasi Sekolah yang memadai; (3) Finansial. Persoalan finansial merupakan masalah yang pelik di Indonesia. Pengadaan fasilitas Sistem Informasi Sekolah membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, dan hal ini belum tentu dapat dijangkau oleh semua lembaga pendidikan di Indonesia; (4) SDM. Sumber Daya Manusia yang mampu dan terampil dalam mendukung penerapan Sistem Informasi Sekolah masih terbatas, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota. Sementara itu faktor non-teknis meliputi : (1) Budaya. Pemanfaatan Sistem Informasi Sekolah berbasis TIK membutuhkan budaya akses dan belajar mandiri, dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti perkembangan melalui komputer/internet. (*)

Penulis: Santy Fidriana (KaUr Promosi SMK Telkom Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment