Mari Tingkatkan Profesionalitas, Agar Hari Guru Tidak Sekedar Selebrasi

By Redaksi 26 Nov 2019, 18:33:26 WIB Artikel Ilmiah
Mari Tingkatkan Profesionalitas, Agar Hari Guru Tidak Sekedar Selebrasi

WPdotCOM -- Menjadi seorang guru, adalah profesi yang mulia dan patut bangga. Menekuni profesi ini karena di tangan mereka akan lahir generasi yang siap mengisi peradaban zaman selanjutnya.

Ada banyak defenisi yang menyatakan fungsi sebagai seorang guru. Menurut Drs. Moh. Uzer Usman (1996: 15), guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalam dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidikan formal. Dapat diartikan, guru mempunyai hak wewenang penuh untuk merancang melaksanakan tugas pendidikan sepenuhnya untuk keberhasilan anak didiknya.

Hari Guru Nasional (HGN) yang bertepatan dengan ulang tahun PGRI, setiap tanggal 25 November selalu menyuguhkan selebrasi yang meriah, baik yang berasal dari siswa maupun dikondisikan dari guru itu sendiri. Pesta taburan ucapan selamat, plus kado pemberian anak didik, merupakan segala pernak-pernik perayaan hari ulang tahun guru tersebut setiap tahunnya.

Sebaran ucapan apresiasi di media sosial pun tak kalah ramai. Kondisi ini sudah pasti membahagiakan seorang guru atas apresiasi terhadap profesi yang diemban. Sebagai seorang guru, sudah pastilah memiliki rasa syukur yang mendalam, kebahagiaan yang mengharubiru jika keberadaannya diapresiasi, terutama oleh peserta didiknya dengan berbagai macam simbol, seperti bunga, kue, dan kado lainnya. Tidak ada aturan baku yang melarang, atau mengharuskan pemberian ini.

Di tengah hiruk-pikuk dan haru biru perayaan yang dilaksanakan, hendaklah tidak semata dijadikan sebagai seremonial atau selebrasi tahunan saja. Alangkah bijaknya jika momen ini menjadi ajang instrospeksi diri. Apa yang sudah diperbuat sebagai seorang guru maupun siswa? Bagi guru, momen hari guru bisa dijadikan kilas balik apa yang sudah diperbuat untuk profesi, apa terobosan yang akan diperbuat ke depan, agar maksimal segala potensi untuk mencerdaskan generasi bangsa.

 Mengevaluasi diri sendiri terhadap kinerja yang sudah diperbuat terhadap profesi, membuat guru mampu merancang perubahan yang akan dilakukan sesuai dengan tuntutan zaman yang dihadapi. Zaman yang setiap detiknya mengalami perubahan seperti yang diutarakan oleh Mendikbud melalui pidato sambutan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Memperingati Hari Guru Nasional Tahun 2019, tentang anjuran melakukan perubahan kecil sekalipun, dan tidak lagi menunggu instruksi atau aba-aba untuk perubahan Indonesia yang lebih maju.

Hal ini sangat sesuai dengan makna profesionalisme seperti yang dimuat pada laman https://www.academia.edu/10689001/HAKIKAT_PROFESI_GURU, bahwa profesionalisme adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi, untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Jadi, seseorang dikatakan profesional jika mempunyai spirit untuk terus-menerus mengasah kemampuan agar lebih meningkat, tidak berpuas diri dengan pencapaian yang sudah didapat.

Bagi siswa, apresiasi yang diberikan berupa ucapan, maupun bingkisan sudah pasti memberikan spirit kebahagiaan, kebanggaan tersendiri bagi guru yang mendapatkannya. Namun, yang lebih membahagiakan guru adalah jika anak asuhnya menjadi berkarakter, berakhlakulkarimah, serta mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah diwariskan. Pendidikan yang ditujukan untuk meningkatkan kecakapan hidup, agar berdaya guna di masyarakat luas. Bahkan, kebahagiaan guru terbayarkan jika sukses yang diraih anak didiknya melebihi  sukses dari sang guru.

Belakangan ini, begitu viral para generasi milenial dengan postingan yang dirasa kurang menghargai profesi dan jasa gurunya. Dengan sebuah tindakan mempublikasikan segala kesuksesan yang telah diraih dengan caption menyudutkan, dan mengecilkan peran sang guru. Sosok yang pernah mengantarkannya pada jenjang yang lebih sukses, hanya karena kekhilafan yang dilakukan oleh guru, baik berupa ucapan maupun tindakan. Agaknya ini kurang elok jika menjadi budaya balas dendam, seolah-olah tanpa guru mereka bisa meraih sukses. Meski sukses yang diraih melebihi posisi guru, yang pernah berbuat khilaf di masa lalu. Bukankah guru juga manusia? Dirasa kurang pantas saat menyandang sukses akademis yang tinggi, tanpa menghargai jasa seorang guru yang pernah hadir dalam estafet pendidikan yang dilalui.

Semoga kekecewaan yang kami rasakan, dan kekhilafan anak didik kami tidak terulang pada generasi selanjutnya. Segala bentuk peristiwa negatif itu dapat  memacu kami para guru agar lebih maksimal, profesional, totalitas dengan amanah yang kami emban. Hari ini 25 November 2019, mari bersama bahu-membahu. Kita berikan yang terbaik untuk wajah pendidikan Negara Indonesia tercinta.

Penulis: Rizki Amelia, S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Bukittinggi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment