Materi Pelajaran Pelestarian Hutan yang Tak Bermakna

By Redaksi 08 Okt 2019, 10:24:42 WIB Artikel Ilmiah
Materi Pelajaran Pelestarian Hutan yang Tak Bermakna

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


Pada  kurikulum  Sekolah Dasar di seluruh wilayah Indonesia, baik yang masih memakai kurikulum 2006 maupun yang sudah menggunakan kurikulum 2013, memuat materi yang sama sesuai dengan SKL yang telah ditetapkan.

Materi pelajaran pada setiap jenjang kelas, selalu berkesinambungan dari kelas satu sampai kelas enam. Hal ini berlaku untuk semua mata pelajaran, mulai dari Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indionesia , IPA, IPS , Matematika, Penjas, Seni Budaya dan Keterampilan,  semuanya berkaitan satu sama lain.

Begitu juga dengan materi pelajaran  Pelestarian Hutan.  Materi pelestarian hutan terdapat pada setiap jenjang. Di kelas satu terdapat tema “Lingkungan”. Di kelas dua juga terdapat tema yang sama. Di kelas  tiga dan empat masih juga ditemukan tema yang persis sama. Pada kelas empat, sampai ke bacaan kelas enam, tetap saja ditemukan materi materi yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan, baik pada bacaan pada buku Bahasa Indonesia, maupun materi langsung pada mata pelajaran IPA,  IPS, dan PPKn.

Intinya pada setiap materi tersebut selalu menyampaikan pesan bahwa kita harus menjaga dan melestarikan lingkungan terutama melestarikan hutan. Pelestarian hutan (reboisasi)dapat dilakukan dengan  cara menanam pohon pada lahan yang gundul, tebang pilih, dan penanaman setelah penebangan.

Namun, kenyataan yang terjadi di tempat sekolah penulis malah sebaliknya. Sebagai seorang guru, kami tetap menyampaikan materi pelajaran tersebut. Sebagus apapun penyampaian guru mengenai pelestaran lingkungan, tidak akan ada realisasinya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal siswa. Hal itu adalah akibat dari pada umumnya orang tua dan wali murid serta masyarakat yang ada di sekitar, berpenghasilan dari penebangan kayu secara liar tanpa ada  penanaman kembali. Hampir 80% masayarakat mendapatkan penghasilan dari hutan. Ada yag bekerja sebagai buruh tebang, buruh angkut, dan pengolah kayu, yang penghasilannya kadang hanya sekedar memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarganya. Dan hanya sebagian kecil yang  bisa mengubah  kehidupannya ke arah yang lebih baik.

Berdasarkan kenyataan di atas, sebagai guru di daerah  sangat sulit menyampaikan materi pelajaran “pelestarian hutan dan hutan sebagai paru-paru dunia.”  Padahal dalam setiap kelas mulai dari kelas satu sampai kelas enam, selalu terdapat materi pelajaran mengenai pelestarian hutan,  manfaat hutan dan kayu, cara pemeliharan hutan, bagaimana pengelolaan hutan jika ada keperluan untuk di tebang yaitu dengan cara tebang pilih.

Seperti pada mata pelajaran Agama Islam, siswa dituntut untuk selalu menjaga alam hasil ciptaan Allah Subhanahu wata`ala. Dalam mata pelaran Bahasa Indonesia selalu ada bacaan tentang pelestarian hutan. Pada mata pelajaran IPS sangat jelas dinyatakan, bencana alam serta penyebabnya mulai dari kelas empat sampai kelas enam. Pada pelajaran IPA, ada materi mengenai daur air yang sangat erat hubungannya dengan pelestarian hutan beserta isinya. Pada mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, sering anak-anak membuat gambar atau berilustrasi tentang alam dengan membuat gambar keindahan alam.

Namun, kenyataan yang dialami sekarang? Yang ada di lingkungan peserta didik dengan materi pelajaran sangat bertolak belakang. Tidak ada lagi semboyan “hutanku paru-paru dunia.“  Malah sebaliknya, hutanku pundi-pundi keuangan untuk segelintir orang.

Lalu, sinkronisasi apalagi yang harus dilakukan demi perbaikan karakter generasi harapan bangsa?

Penulis: Ratna Juita, S.Pd. (Guru SDN 13 Taratak, Buluh Kasok, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment