Mengapa Anak Berkebutuhan Khusus Harus Disekolahkan?

By Redaksi 08 Jan 2019, 17:00:45 WIB Artikel Ilmiah
Mengapa Anak Berkebutuhan Khusus Harus Disekolahkan?

WPdotCOM -- Di era digital yang pesat saat ini, ternyata masih ada sebagian orang tua yang kurang menyadari betapa pentingnya sekolah untuk putra putrinya yang berkebutuhan khusus.  Sehingga mereka hanya memperoleh pendidikan informal.

Berbagai alasan para orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan  khusus, untuk tidak berkeinginan menyekolahkan pada lembaga terkait.  Misalnya pada SLB (Sekolah Luar Biasa), pada SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa), atau pada SD Inklusi.

Bermacam-macam faktor yang menjadi alasan mereka. Ada orang tua yang merasa malu mempunyai anak berkebutuhan khusus. Ada yang jarak tempuh dari rumah ke sekolah terlalu jauh. Ada yang beralasan  tidak ada yang mengantar. Bahkan,  masyarakat di desa-desa terpencil ada yang belum tahu anaknya harus disekolahkan ke mana.  Dan berbagai alasan lainnya  untuk mencari pembenaran masing-masing.

Anak berkebutuhan khusus, juga berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1, dan Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dapat disimpulkan, Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, para orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, perlu terus dimotivasi agar menyekolahkan anaknya. Sehingga mendapatkan layanan pendidikan seperti anak pada umumnya.

Setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mereka perlu dukungan maksimal dari keluarga terdekat dan masyarakat terhadap potensi yang dimilikinya. Setiap anak mempunyai keistimewaan masing-masing. Di balik kekurangan yang dimilikinya, pasti ada kelebihannya. Hal inilah yang harus senantiasa diapresiasi dan dihargai. Sehingga anak tidak minder, tidak berkecil hati, dan tidak terus terfokus pada kekurangannya. Dengan dukungan bersama, mereka bisa lebih fokus untuk mengembangkan potensi-potensi yang belum dioptimalkan dengan baik dan terarah. Dan SLB (Sekolah Luar Biasa) menjadi wadah yang tepat untuk itu. Lebih baiknya, anak berkebutuhan khusus sedari usia dini segera dimasukkan ke sekolah. Agar lebih mudah diarahkan dan dikembangkan secara optimal.

Kiat pendekatan khusus juga mesti dilakukan secara tepat, agar potensi anak menjadi optimal. Dan tak bisa dipungkiri, bahwa anak berkebutuhan khusus perlu mendapat perhatian ekstra yang berbeda dengan anak pada umumnya. Untuk bisa memberikan perhatian itu, tentunya para pendamping harus menyesuaikan diri dengan mereka.

Di samping menimba ilmu, di sekolah anak dapat bersosialisasi dengan teman sejawatnya. Mereka akan merasa gembira bermain dengan teman yang senasib, berbagi cerita, bersenda gurau. Banyak hal yang bisa dilakukan bersama dari pada berdiam diri di rumah tanpa aktivitas yang membangun. Berkumpul dengan komunitasnya, anak berkebutuhan khusus lebih bisa menerima kondisinya, dan berupaya untuk berjuang sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Peran sekolah sendiri  sangatlah besar. Diantaranya sebagai sarana berkomunikasi antara orang tua atau wali dengan guru kelas, tentang kemajuan anak mereka dalam belajar dan berprestasi. Di samping mendapat layanan pendidikan, anak berkebutuhan khusus juga mendapat layanan tambahan di luar jam pelajaran, seperti ekstra kurikuler menjahit, menari, membaca puisi, dan berkebun. Berbagai kegiatan itu, dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dalam bergaul dengan anak pada umumnya, sesuai dengan kondisi lingkungan.

Sekolah Luar Biasa merupakan sarana untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Keterampilan yang diberikan berorientasi pada kesiapan anak berkebutuhan khusus dalam menjalani kehidupan  di masyarakat. Salah satunya adalah keterampilan yang mengarah pada dunia kerja. Layanan keterampilan yang diberikan, tentunya disesuaikan dengan keberagaman kebutuhan, kondisi fisik, intelegensi, sosial, dan potensi anak.

Misalnya program keterampilan yang diberikan pada anak tuna netra, yaitu bidang seni musik dan komputer. Di bidang seni musik, keahlian yang di dapat bisa diaplikasikan pada dunia industri. Sedangkan program komputer merupakan salah satu pengembangan program keterampilan dalam menghadapi tantangan dunia kerja di masyarakat.

Program keterampilan yang diberikan pada anak tunarungu, misalnya program keterampilan menjahit, memasak,  dan membatik. Dengan keahlian menjahit, anak tunarungu bisa buka usaha sendiri di rumah, bisa bekerja di konveksi atau di pabrik garmen dan di pabrik sepatu. Membatik adalah salah satu keterampilan yang menyenangkan, yang dapat membuat corak sendiri sesuai yang diinginkan karena yang terpenting anak mampu berkreasi. Memasak juga merupakan keterampilan yang mengasyikkan. Bisa bereksperimen dengan berbagai macam resep kue, makanan atau minuman. Dengan keahlian menjahit, memasak, membatik, dan berbagai keterampilan lainnya, anak tunarungu  disiapkan untuk mampu terjun di tengah masyarakat.

Program keterampilan yang dapat diberikan pada anak tuna grahita adalah yang berfokus pada bina diri dan  peningkatan life-skill anak.  Mengajarkan keterampilan dalam berkomunikasi dengan baik,dan  keterampilan untuk berkarir di pekerjaan sederhana dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian anak. Untuk anak tuna daksa, dapat diberikan  keterampilan pertukangan. Misalnya membuat perkakas sederhana, rak sepatu, tempat majalah/koran, dll.

Anak berkebutuhan khusus dapat juga dilatih untuk berkebun. Hal tersebut untuk membekali anak kemampuan menanam berbagai tanaman yang bermanfaat. Dengan harapan, anak mampu menanam berbagai buah dan sayur-sayuran paling tidak di kebun rumah sendiri. Hasilnya minimal bisa dikonsumsi sendiri dan selebihnya bisa juga dijual untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Itulah beberapa contoh program keterampilan untuk anak berkebutuhan khusus sebagai bekal  untuk dapat bekerja dan diterima di masyarakat.

Berdasarkan beberapa hal di atas, anak berkebutuhan khusus sangat penting untuk sekolah. Dengan memdapatkan pendidikan, pengetahuan, dan berbagai keterampilan,  wawasan anak bertambah. Pendidikan juga memberikan banyak pengetahuan dan informasi yang akan membuat hidup dan perilaku semakin membaik. Dapat menjadikan anak lebih disiplin dan mandiri sehingga tidak lagi bergantung pada orang lain dalam menjalani kehidupannya.  

Penulis: Anggarini Mardihari, S.Pd. (Guru SLB-B YPPLB Ngawi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment