Mengasah Rasa di Ujung Tahun

By Redaksi 09 Des 2017, 08:57:12 WIB Sekolah Indonesia Menulis
Mengasah Rasa di Ujung Tahun

Keterangan Gambar : Nova Indra - Pimpinan P3SDM Melati (Dok. Pribadi)


WPdotCOM -- Satu tahun berlalu, berbagai renda takdir mengikuti jejak langkah manusia. Ada yang bahagia, tertawa dan gembira. Ada pula yang pilu, gulana dan sengsara. Semua menjadi bagian dari perjalanan nasib yang tak akan pernah berhenti menyertai langkah kita.

Adapun senyum, baik karena bahagia menghampiri atau hanya senyum yang tak lebih indah dari lengkungan yang patah, adalah juga senyawa antara detak nadi kehidupan. Menyiasatinya dalam keseharian, merupakan kepiawaian seorang hamba yang terasah. Terasah karena kebiasaan, ataupun terasah karena keterpaksaan sebuah nyanyian sumbang perjalanan.

Berbedanya setiap cara manusia dalam menyikapi perjalanan dari tahun ke tahun, merupakan wujud dari keterampilan memaknai diri dan lingkungan. Seorang manusia yang lemah, tentunya akan kurang memaknai masa yang berubah dari waktu ke waktu. Sebaliknya, semakin piawai memaknai waktu, semakin kuatlah seorang manusia dalam menjalani beragam problematika hidup.

Mengasah rasa. Frase yang ringan namun sangat rumit dijabarkan untuk mudah dipahami setiap orang. Pribadi-pribadi terampil, akan mudah mengerti tentang bagaimana mengasah rasa dalam dirinya. Bukan pula hanya sekedar membuat sebuah rasa yang ada, semakin kuat dan terlihat di kasat mata, namun memperkuat kemampuan untuk menilai dan menyelaminya untuk seterusnya mampu bersisian dengan waktu yang terus berlari.

Kini, semakin waktu berjalan, berlari, bahkan semakin tidak terkejar, manusia makin sulit mengerti tentang rasa yang dimiliki. Hanya ‘rasa’ dalam artian sempit dengan makna dangkallah yang kita selami. Bukankah dalam setiap perjalanan, kita dihadapkan pada persoalan-persoalan yang kadang ikut memaksa kita memperjalankan rohani ke dalam jiwa yang sangat jauh? Mengenalinya dengan seksama, mengajaknya untuk belajar dan terus melangkah di sisi kita, merupakan upaya tidak terhingga.

Banyak di antara kita lupa merenung tentang ‘rasa.’ Banyak dari kita yang hanya menuruti kemauan duniawi dengan alasan sangat manusiawi. Mengedepankan kepentingan sesaat, memelihara sifat oportunis, merawat keakuan, yang akhirnya mendangkalkan ‘rasa’ yang semestinya mampu membawa kita untuk lebih ‘hidup.’

Tahun ini segera berganti. Perayaan, kegembiraan, segala bentuk kegiatan mengisi pergantian tahun marak kita ikuti. Terlepas dari semua itu, mari kita renungkan perjalanan yang akan kita lalui di depan. Banyak onak dan duri yang menanti. Dan, hanya dengan pendalaman ‘rasa’ serta mengasahnya makin tajam yang akan membuat kita tetap kuat melangkah, melangkah dan melangkah lagi.

 

Penulis: Nova Indra (Pimpinan Lembaga P3SDM Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment