Mengenal Karakter Anak Melayu; Sifat Sukat Papas Penuhnya

By Redaksi 15 Jun 2019, 09:49:23 WIB Budaya Nusantara
Mengenal Karakter Anak Melayu; Sifat Sukat Papas Penuhnya

WPdotCOM -- Sifat Timbang dengan sukat. Mungkin  agak rumit memahami adagium Melayu ini bagi mereka yang tidak mendalami pemahaman eksistensi pendidikan karakter dalam budaya Melayu.

Adagium yang melekat erat dalam kepribadian anak Melayu, selalu memahami bahwa, `Sifat timbang sama beratnya, sifat sukat papas penuhnya, sesuai sukat dengan timbangnya, sesuai belah dengan baginya, seukur peluh dengan upahnya.`

Pada kebiasaan pendidikan generasi Melayu, penanaman pemahaman bahwa dalam hidup, seorang anak Melayu haruslah mengutamakan sifat adil dalam dirinya. Setiap perilaku yang dibawakan ke dalam kesehariannya, mereka akan bertitik-tolak pada pedoman konsep tersebut.

Konsepsi diri anak Melayu, serta-merta akan terlihat dalam bentuk perilaku yang ditonjolkannya ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup. Mempertimbangkan perbuatan, adalah hal pertama dalam kebiasannya untuk memulai langkah. Sifat adil dalam menimbang dengan sama berat, menjadi ukuran dalam tiap-tiap pemikiran dan perbuatan.

Bila telah selesai mempertimbangan sesuatu, mendapat masukan nurani akan baik dan buruknya suatu perbuatan, maka anak Melayu pantang menyerah dalam menjalankannya. Karena dalam dirinya tertanam kuat pemahaman, tangan mencincang bahu memikul.  Setiap perbuatan yang telah dilakukan, akan dipikul sepenuhnya apapun resiko yang ditimbulkan.

Ini adalah bentuk keadilan dalam memahami hidup dalam diri anak Melayu. Bahwa segala sesuatu tak akan pernah terjadi, bila bukan karena sebab. Segala sesuatu di alam, telah dibuat Sang Maha Pencipta dengan ukuran tertentu. Dengan kadar yang pasti dan selalu penuh hikmah.

Saat telah melakukan dengan sifat adil, dalam pemahaman anak Melayu, dan sesuai pula dengan tuntunan keyakinan dan keimanan yang melakat dalam dirinya, semua akan berdampak pada tingkat kadar masing-masing. Berbuat baik akan berbalas kebaikan, dan sebaliknya, berbuat burukj akan berbalas keburukan pula.

Ketika menimbang tak sama berat, mengukur tak sama panjang, jelas saja akan mengakibatkan timbulnya persengketaan. Bukan hanya sengketa dengan pihak lain, dalam diri sekalipun akan muncul pertentangan antara pikiran dan kesucian batin. Karena itu, anak Melayu dididik untuk tahu, apapun yang dilakukan, semuanya seukur dengan akibat yang ditimbulkan setelahnya.

Pendidikan karakter pada sesi ini, melahirkan pribadi-pribadi yang matang dalam memahami setiap tindak-tanduk dan perbuatan. Anak Melayu dengan sendirinya akan terus menyadari bahwa setiap perilaku, berakibat bukan saja pada lingkungan yang lebih besar, juga pada kesinambungan rasa adil dalam dirinya.

Mendengarkan perintah hati nurani, menyiasati setiap keinginan dengan kadar kemampuan yang ada, serta menyadari pula dampak yang ditimbulkannya, menjadi ukuran dalam setiap rencana personal. Karena menyadari hal tersebut, maka diyakini akan mampu menjadi tolok-ukur pada tiap-tiap perilaku keseharian anak Melayu.

Penulis: Nova Indra (Pimpinan lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment