Mengenali Manusia, Tidak Cukup dengan Bertanya pada Temannya

By Redaksi 30 Jul 2018, 10:39:58 WIB Artikel Ilmiah
Mengenali Manusia, Tidak Cukup dengan Bertanya pada Temannya

Keterangan Gambar : ilustrasi (Google Image)


WPdotCOM – Setiap pribadi memilki citra diri yang tidak dapat dipoles dengan segala bentuk tipuan. Menggambarkan sosok dari jatidiri yang sesungguhnya, adalah kepiaawaian dalam menyikapi eksistensi sebagai makhluk sosial.

Bila dalam keseharian manusia, citra diri tidak lagi menjadi perhatian. Hal itu mungkin menjadi alasan lahirnya adagium “dont judge a book by its cover.” Sebuah pembenaran bahwa menilai seseorang tidak dapat dilakukan melalui perilaku daam kesehariannya yang terlihat.

Padahal, sebuah citra yang secara empiris dapat dilihat mata, juga merupakan gambaran riil sebuah kerpibadian yang ada. Bagaimana mungkin tong sampah yang terlihat kumal dan dekil, berisi berlian yang berharga sangat mahal?

Kembali pada bahasan utama tentang citra diri, erat kaitannya dengan karakter pribadi yang melekat pada jiwa seseorang. Terbentuknya karakter dalam pertumbuhan manusia, dibentuk pada tumbuhkembangnya  melalui tiga elemen.

Elemen pertama adalah didikan yang diterima sejak masa pre-natal hingga masa pembentukan kepribadian dalam pertumbuhannya. Didikan yang benar dan baik, akan mempengaruhi pertumbuhan karakter manusia.

Elemen kedua yakni sifat bawaan dari masing-masing pribadi. Sifat bawaan ini, serta merta dapat menjadi baik dan berkembang searah dengan didikan yang diterima, bila diasupi dengan semua proses yang juga baik. Tidak akan menjadi sifat baik bila asupan yang diterima dalam pertumbuhannya dicampuri dengan hal-hal yang tidak berimbang.

Elemen ketiga yaitu pengaruh lingkungan sebagai tempat mengejawantahkan didikan dan sifat bawaan seseorang. Bila lingkungan tempatnya tumbuh adalah lingkungan yang mendukung suburnya kebaikan, maka terbentuklah karakter yang diingini. Namun bila lingkungan yang ada malah sebaliknya, diyakini akan menjadi ajang pembentukan karakter buruk, meminimalisasi pertumbuhan sifat baik dan menghancurkan didikan yang telah diterima. Semua melebur dalam lingkungan, dan melahirkan sosok baru sesuai keadaan.

Lalu bagaimana mengenali lingkungan seseorang? Ada pendapat yang menyatakan bahwa untuk mengenali seseorang, cukup dengan mengetahui dengan siapa ia berteman. Apakah itu bisa menjadi alasan tepat untuk mendalami kerpibadian manusia? Ternyata juga tidak sepenuhnya benar.

Mengapa tidak sepenuhnya benar? Sebagai manusia berakal, bila ingin mengetahui seseorang melalui pertemanannya, yakinlah bahwa semua teman akan menjawab sama. ‘Si anu adalah orang baik, kami adalah kelompok baik-baik.’ Maka terkendalalah pencarian.

Terus? Masih adakah cara mengenali seseorang bila melalui temannya tidak didapatkan informasi akurat? Bisa, dan sangat mudah. Karena setiap orang dalam dirinya memiliki musuh dan kawan.

Cukup kenali siapa yang menjadi musuhnya, siapa yang menjadi bagian dari sosok yang ditolaknya dalam pergaulan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang berteman dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Bila seseorang berkutat dalam pertemanan yang terlihat tidak beres, dan memilih bermusuhan dengan orang-orang baik dan hidup dalam kebaikan, maka diipastikan ia adalah pribadi yang berkarakter buruk. Sebaliknya, bila ia dalam keseharian terlihat berteman dengan orang-orang yang bersifat baik dan tertuntun sesuai kaidah agama dan sosial, lalu bermusuhan dengan sosok-sosok yang jauh dari kebenaran dan kebaikan, dipastikan ia adalah pribadi berkarakter baik.

Begitulah sekelumit tips mencermati karakter dalam pergaulan. Semua teori dapat muncul seiring semakin berkembangnya pemikiran. Wallahua’lam bishshawaab.

Penulis: Nova Indra




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment