Menggagas Komunitas, Didik Petani Cerdas

By Redaksi 10 Mei 2017, 09:55:48 WIB Opini
Menggagas Komunitas, Didik Petani Cerdas

Keterangan Gambar : Ilustrasi Lahan Pertanian(Sumber: Google Image)


Indonesia, sejak dahulu kala sudah dikenal sebagai bangsa agraris dengan dukungan keanekaragaman hayati yang berlimpah-ruah, iklim tropis yang cocok untuk menanam berbagai jenis tanaman dan jumlah penduduk yang sangat tinggi. Akan sangat menyedihkan apabila pertanian di Indonesia tetap mengalami stagnasi, tanpa gerakan berkemajuan yang signifikan.

 

WPdotCOM -- Perkembangan teknologi informasi, secara nyata sangat berpengaruh pada setiap sendiri kehidupan masyarakat dunia. Terciptanya berbagai kemudahan memperoleh informasi melalui jejaring yang kian mudah dan murah, turut menggeser paradigma sebagian besar masyarakat dalam menjalankan profesinya.

Begitu pula dengan bidang pertanian. Indonesia yang dikenal dari dulu sebagai negara agraris, negeri yang dihidupi dari kekayaan alam, diolah melalui sistim pertanian turun temurun, kini telah mulai beralih pada pola pertanian modern.

Teknologi pertanian ternyata tidaklah mudah dalam praktiknya untuk diterapkan bagi individu petani. Rangkaian pelatihan dan praktik lapangan tidaklah cukup untuk merubah pola pertanian konvensional. Hal ini merupakan suatu kesulitan baru bagi dunia pertanian untuk keluar dari keterpurukan sistim konvensional yang tidak lagi bisa diharapkan untuk memajukannya. Bukan saja pada tataran lokal, dengan diluncurkannya kesepakatan bersama Masyaralat Ekonomi Asena (MEA), para petani di negeri ini ditantang untuk semakin maju cara berpikirnya.

Membangun sistim pertanian yang ‘melek’ pasar, mampu menangkap peluang-peluang yang sangat besar, serta sistim bertani yang makin maju, adalah langkah penting yang harus dilakukan oleh para petani. Berpindahnya paradigma kategori pertanian subsisten menjadi pertanian komersial, akan lebih membuka berbagai peluang tersebut.

Menciptakan kemajuan dan mendorongnya tumbuh dengan baik pada sektor ini, akan sangat menguntungkan semua pihak. Keuntungan-keuntungan tersebut, secara langsung tentunya akan dirasakan oleh petani itu sendiri sebagai subjek utama pengelola sistim pertanian.

Membangun Komunitas

Menuju perbaikan pola pengelolaan pertanian seperti di atas, dengan paradigma maju sesuai kebutuhan zaman, perlu dilakukan berbagai upaya nyata di lapangan. Salah satunya adalah dengan membangun komunitas-komunitas pertanian, baik dalam skala kecil maupun besar, di pelosok maupun di sentra-sentra pertanian yang memang telah mendapat perhatian lebih besar dari pemangku kepentingan.

Seperti sebuah organisasi, komunitas akan berdampak langsung pada orang per orang. Petani dalam hal ini, akan memproleh visi bisnis pertanian secara adil dan merata. Ini artinya, akan mendorong petani berpindah dari kebiasaan konvensional pada sistim pertanian modern yang ditunjang oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Terbentuknya komunitas, dalam hal ini adalah komunitas homogen, dengan keanggotaan yang memiliki kesamaan objek usaha pertanian, tidak melulu mengurusi hal-hal yang terkait dengan kebiasaan, seperti masalah irigasi dan lainnya. Namun mengarah pada upaya pengembangan pertanian yang lebih terukur.

Melalui sistim komunitas pertanian, memang tidak serta merta dapat membangun keunggulan bersaing di atas keunggulan komparatif. Namun melalui transformasi informasi yang merata di kalangan komunitas petani, diyakini akan mampu mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro otomotif/permesinan, agri kimia) dan pengembangan subsistem hilir, yaitu pendalaman industri pengolahan hasil pertanian, serta membangun jaringan pemasaran output pertanian. Pada tahap ini, anggota komunitas dapat menghasilkansistim pertanian yang didominasi produk lanjutan yang lebih berkualitas.

Pembangunan sistim pertanian yang digerakkan dalam bentuk komunitas, akan memunculkan kekuatan tersendiri secara bersama. Terciptanya ketahanan kelompok yang dapat saling bahu membahu memperbaiki diri menuju pertanian yang lebih tanah terhadap persiangan global.

Membahas komunitas pertanian, yang diharapkan menjadi tulang punggung keberlangsungan pembangunan daya tahan petani terhadap proses dan pengaruh dari luar, bisa dibentuk berupa koperasi ataupun kelompok-kelompok lain. Komunitas yang baik, selain beranggotakan petani homogen dengan objek pertanian yang sama, secara berkala dapat melakukan upgrading pengetahuan dasar pengembangan usaha tani kepada anggotanya.

Dengan demikian, secara mandiri petani di masing-masing komunitasnya akan mendapat asupan pengetahuan (knowledge based) terhadap objek pertaniannya. Sehingga dari waktu ke waktu, petani dalam komunitasnya yang terus mengembangkan diri, akan semakin baik pengetahuannya di bidangnya sendiri

Terbangunnya pengetahuan, kokohnya kebersamaan para petani dalam komunitasnya itu, merupakan orientasi positif bagi perbaikan bidang agri bisnis negeri yang kaya akan sumber daya alamnya ini.

Munculnya komunitas-komunitas petani tangguh di tengah masyarakat, akhirnya akan merubah dinamika sosial selama ini, tentang kekeliruan fatal pendapat yang memandang bahwa petani sebagai kelompok terbelakang, konservatif dan statik. Kehadiran komunitas yang piawai mencermati perubahan zaman, dapat menolak paradigma kuno bahwa sebaiknya petani bukan objek yang hidup apa adanya, yang menentang desakan perubahan ataupun kapitaslisme. Petani zaman maju, adalah petani yang mampu menjawab dan mengekspresikan segalanya, serta dengan kekuatannya turut merespons perubahan. (*)

 

Penulis: Nova Indra




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment