Menjadi Guru, Menjadi Teladan Perubahan

By Redaksi 06 Okt 2017, 12:28:53 WIB Opini
Menjadi Guru, Menjadi Teladan Perubahan

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber Google)


WPdotCOM -- Malang, 29 Septermber 2017 pukul 04.30. Pada jam itulah saya beserta keluarga di rumah, ada mertua dan suami biasa terbangun dari tidur lelap, kecuali anak saya. Terkadang salah satu dari kami akan bangun lebih pagi, entah mertua atau suami bahkan saya. Dimana saya yang mempunyai 4 peran dalam sehari harus bisa menyelesaikan tugas dengan seimbang setiap harinya kecuali hari libur.

Saya berperan ganda, karena mendapatkan rejeki dari Allah di usia saya yang seperti ini sudah harus menjadi menantu, istri, ibu dan guru yang paling baik. Setiap hari saya harus bergelut dengan ulat sayuran yang masih menempel, minyak panas untuk menggoreng, dan pedihnya bumbu masakan yang harus diracik dengan tangan sendiri. Belum lagi, setelah selesai harus menyiapkan bekal buat anak sekolah dan suami bekerja.

Waktu menunjukkan pukul 06.30, dimana saya harus segera menyelesaikan tugas rumah dan berangkat ke sekolah, tentunya untuk berbagi ilmu bersama murid-murid kesayangan. Hari ini, tepat hari Sabtu dimana saya harus berbagi ilmu Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (PJOK) yang saya dapat saat kuliah dulu di kelas 6. Tidak hanya berbagi ilmu di kelas 6, tetapi saya juga berbagi ilmu PJOK dari kelas 1 sampai 6.

Namun, kenapa kelas 6 yang selalu terkesan lebih dimata saya? Karena kelas ini  hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 10 bulan mendapatkan ilmu, namun harus menyelesaikan 9 tema. Kelas yang paling bekerja keras dari sisi otak, fisik dan iman. Tidak hanya itu, kelas 6 ini adalah kelas paling ‘horor’ juga. Dimana semua anak di jaman saya dahulu belum mengerti apa itu hape, internet, pacaran dan lain sebagainya. Namun tidak untuk mereka di jaman sekarang, semua telah berubah 180 derajat. Horor di sini bukan berarti mereka seperti hantu atau apalah. Tapi karena masih ada beberapa anak yang pemikirannya sudah terlalu dewasa dan masih sering terlontar kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari anak SD kelas 6.

Miris? Iya.  Sedih? Iya. Namun di sini saya sebagai guru harus mengingatkan mereka, agar selalu bertutur kata yang baik. Kalaupun sempat terlontar kata maupun tindakan saya yang tidak baik, saya selalu meminta maaf dan selalu berpesan  jangan menirukan apa yang tidak baik walaupun  itu gurumu sendiri.

Penulis: Zenitha Febriani (Guru SD Negeri Bandungrejosari 2 Kota Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment