Menjadi Sukses Butuh Support, Atau Pilih Diam Tanpa Effort

By Redaksi 16 Jul 2017, 11:32:30 WIB Opini
Menjadi Sukses Butuh Support, Atau Pilih Diam Tanpa Effort

Keterangan Gambar : ilustrasi (sumber: google image)


WPdotCOM – Setiap kita punya alasan untuk meneruskan langkah di jalan bernama kehidupan. Ada alasan karena harapan yang terhampar nyata, ada yang melangkah dengan alasan keikhlasan mempertahankan apa yang sudah ada. Semua memiliki nilai di hati masing-masing kita.

Kehidupan, adanya rasa dan keinginan, dibaur dengan segala bentuk takdir yang telah dituliskan dalam ‘buku perjalanan’ setiap manusia, lalu dikemas dalam bentuk kecakapan hidup, adalah bentuk kesempurnaan dari kreasi terindah Sang Maha Pencipta, Pemilik Alam Semesta.

Menjalani hidup, menjadi sukses dengan segala harapan yang dimiliki, adalah keseharian yang kita lalui di jalanan penuh onak dan duri. Tidak satupun manusia yang terlepas dari perangkap ranjau jalan kehidupan. Yang ada, mereka-mereka yang berhasil menyusun langkah, piawai mengukur setiap ruang yang dijadikan pijakan, serta memiliki keteguhan hati dan terus istiqamah. Atau sebaliknya, sebagian manusia terjungkal di langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jatuh bangun, lalu berhenti dengan wajah tertunduk menekuri bumi, menyesali diri, tanpa mampu bersikap sebagai pejuang kehidupan itu sendiri. Lalu memilih menjadi kacung nasib.

Warna-warni kehidupan adalah keindahan yang kadang hanya menjadi tontonan. Tidak semua kita mampu mencermati, meneladani dan menjadikannya sebagai i’tibar. Peristiwa alam, memuncaknya kumpulan energi hasil tumburan lempeng bumi hingga menimbulkan goncangan besar gemba bumi, atau lepasnya aliran magma di puncak-puncak gunung berapi, adalah suatu bentuk percontohan bagi kita. Bukan hanya sebagai tontonan atau decak kagum pada kuasa Ilahi, namun sepantasnya disikapi sebagai tarbiyatun nafs yang berdampak pada munculnya keteguhan hati, untuk terus jadi pribadi tangguh yang berjuang tanpa henti.

Pernahkah anda melihat lomba menerbangkan layangan? Rautan bambu dengan segala seninya, didesain dan dilengkapi kertas warna-warni yang indah memanjakan mata, butuh benang sebagai pengendali. Ternyata, tanpa angin yang cukup dan sesuai kebutuhan, layangan tidak akan melayang sempurna menghiasi langit.

Lalu, bagi si pemain layangan, pernahkah kita melihat mereka berlari-lari sendiri dalam lomba yang diikuti sekian banyak orang? Tentunya tidak. Bila itu dilakukan, kekacauan akan terjadi, rasa marah karena benang yang kusut, layangan yang putus di tangan, akan berdampak pada ketidakseimbangan komunitas lomba.

Untuk menerbangkan layangan dengan baik, mencapai target ketinggian yang diinginkan, di awal-awal saja, si pemain layangan membutuhkan penganjung, seorang teman yang diminta untuk memegang layangan di jarak tertentu.

Bila angin dirasa cukup, cukuplah pada jarak yang dekat saja, layangan dapat diterbangkan ke udara dengan baik, menyusul layangan lain yang mungkin lebih dulu melayang di langit, mencapai ketinggian yang disyaratkan panitia lomba untuk dinilai jadi yang terbaik. Namun, bila angin dirasa kurang, penganjung layangan akan bergerak menjauh, merentang benang dan menepis gangguan yang bisa saja menahan saat pemain memberikan tarikan pertama untuk menaikkan layangannya.

Kenapa harus layangan yang kita jadikan contoh? Ternyata hidup adalah sebuah lomba menjadi yang terbaik di antara yang terbaik, sama seperti lomba menerbangkan layangan. Setiap manusia memiliki kompetensi sempurna, hasil desain Sang Pencipta. Kita ibarat sedang bermain layangan, kompetensi apapun yang kita miliki, sehebat apapun keahlian yang kita punya, tanpa dukungan dan bantuan pihak lain, semua akan sia-sia. Tidak ada manusia yang mampu berlari sendiri menuju sukses, baik untuk dunianya maupun akhiratnya. Tidak akan ada manusia yang mampu mencapai titik ketinggian suksesnya, tanpa campurtangan manusia lain. Semua butuh kerjasama, butuh motivasi pihak lain.

Karena itulah, masih banyak di antara kita yang beralasan untuk tidak meneruskan langkah. Berhenti di satu titik, jalan di tempat tanpa bisa berpindah dari satu keadaan pada keadaan lain yang lebih baik. Ada pula yang takut melangkah, seolah sikap untuk melangkah adalah sesuatu yang berat dan terlalu sulit. Lalu memilih bertahan pada keadaan semula, berusaha mendustai diri sendiri dengan alasan-alasan semu demi kebaikan, atau demi hal lain.

Jadi bijaklah! Setiap diri memiliki hak untuk terus melangkah, menyusuri jalan kebaikan dalam lindungan Sang Maha Kuasa dengan ber’azam dan tawakal pada-Nya.

 

Penulis: Nova Indra (Pimp. Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment