Merusak Kewarasan, Mengapa Harus Bohongi Diri dengan Kemunafikan

By Redaksi 29 Nov 2018, 12:14:45 WIB Opini
Merusak Kewarasan, Mengapa Harus Bohongi Diri dengan Kemunafikan

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


WPdotCOM -- “Aku bahagia melihat kalian bahagia”. Sebuah ungkapan tulus terucap dari bibirku pagi ini.

Seulas senyum manis aku sunggingkan  untuk kalian yang merasa gembira bersuka-cita menyambut sebuah perubahan besar dalam hidup kalian.

Memaknai sebuah perubahan dalam proses meneruskan perjalananan hidup, dapat disikapi dengan beragam cara. Ada yang memilih merayakan dengan pesta pora dan euforia luar biasa sebagai ungkapan dari perasaan gembira. Ada pula yang memilih dengan cara memanjatkan doa kepada Allah untuk kontemplasi diri, sebagai  bukti bahwa manusia adalah makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah SWT. Ada juga yang memilih diam seribu bahasa, tanpa pengumuman apapun, sekedar menjadi hal yang lazim terjadi di dunia ini. Bahkan ada pula yang apatis dan skeptis sebagai wujud implementasi dari “mati rasa”.

Begitulah berbagai macam reaksi yang terjadi, terhadap suatu perubahan yang menyeruak dalam irama kehidupan seseorang. Itu   tergantung pada skala besar kecilnya persoalan yang menjadi dasar pemikiran dalam menentukan sikap meresponnya. Hal tersebut adalah hak setiap manusia untuk bereaksi dari apa yang dialaminya.

Tetapi sebagai catatan, aku jadi tersenyum geli ketika melihat sebuah fenomena kepalsuan menyembul keluar dari sebuah kondisi. Dimana diformat sedemikian rupa sehingga kebusukan dibungkus rapat menjadi sebuah kado terindah, yang menjadi persembahan luar biasa. You make fake love to send others. Just for hide something only. How awkward? 

Sewajarnyalah dalam bersikap. Hitam katakan hitam. Putih katakan putih. Jangan ambigu dan tidak punya prinsip demi sebuah zona nyaman. Publik akan bisa menilai sebuah wacana yang terjadi dan menganalisa sebuah peristiwa.

Segala sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan sehari-hari, akan menimbulkan berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ketika dalam keseharian lagu yang dinyanyikan adalah lagu tentang kemunafikan, tetapi mengapa tiba-tiba hari ini berubah menjadi nyanyian kegembiraan dan suka cita? Be aware. Nanti bisa kena cap safety player.

Belajar untuk berani memerdekakan diri dengan mengucapkan “tidak” bukanlah hal yang mudah. Belajar untuk menolak hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, bukanlah pekerjaan ringan. Perlu perjuangan yang berat untuk menanggung resiko, bahkan untuk membujuk diri sendiri. Ada banyak persoalan lain, dari pihak keluarga, teman,  dan lingkungan sekitar.  Dijauhi dan diisolasi harus rela dijalani. Distempel antagonis dan pemberontak, siap disandang. Vokal dan suka mengritik adalah predikat yang akan melekat. Tapi mengapa harus takut dengan segala macam tetek-bengek sebutan itu, kalau diri kita merdeka dalam menentukan sikap dan membela harga diri?

Tapi ada pilihan lain yang membuat posisi aman terjaga dari segala macam goncangan dan hembusan isu. Berkata “B” meski kenyataannya “A”. Memuji setinggi langit meski kenyataannya menyebalkan. Menuliskan kalimat yang mengkultuskan meski kenyataannya hanya  sebatas huruf. Dan banyak topeng yang bisa dipakai demi kebaikan masing-masing. Itulah sifat penjilat yang bisa dipilih, untuk meneruskan hidup demi sebuah harga diri yang digadaikan. 

Jadi mau memilih mana dalam memaknai sebuah perubahan? Menjadi seorang yang idealis sekaligus realis, tapi memiliki harga diri. Atau menjadi seorang penjilat yang tidak punya harga diri, namun bisa hidup nyaman tanpa masalah? Semua kembali pada kepribadian masing-masing.

Jalan yang benar akan selalu ada jika berani memilih.  Bukan hanya sekedar penonton yang bertepuktangan di pinggir arena. Hidup tidak hanya selalu tersenyum untuk diberikan pada orang lain. Tetapi maknailah senyum itu. Sebagai senyum ikhlas dari hati, atau senyuman fake atas sebuah partisipasi keadaan yang dipaksakan. Memang senyum adalah ibadah, tapi senyum yang bagaimana yang dikatakan ibadah? Mari menyikapi dengan bijak. Kalau senyum-senyum sendiri itu, maknanya bagaimana dong? Jadi tidak perlu mengorbankan kewarasan hanya demi posisi nyaman. Thats the mirror of you.

Penulis: Santy Fidrianna (Dir. Pelatihan, Publikasi dan Penerbitan di P3SDM Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment