Midnight in the Darkness; A Note for You

By Redaksi 24 Feb 2018, 21:48:41 WIB Sastera
Midnight in the Darkness; A Note for You

WPdotCOM -- Midnight in my eyes, Darkness and silence, very complete.

Betapa beratnya mengungkapkan kebenaran. Sebab ia adalah hal -hal yang pahit. Dan tidak semua orang menyukai kepahitan. Malam ini aku berdiri di sudut lain. Membiarkanmu menatap wajahku yang selama ini bertarung dengan ragu.

Begitu porak poranda kepercayaan yang aku bangun selama ini dengan tertatih untuk mendapatkan hatimu. Tapi sekali lagi, tatapan keraguan singgah di tajamnya matamu. Ya, selama ini banyak hal yang sudah kau lakukan untukku. Pengorbanan, pembuktian dan banyak effort lain yang tidak bisa dinilai dengan hitungan angka. Semua tidak bisa dinilai dengan sebuah harga. Hanya sebuah keikhlasan tentang perjalanan cinta yang amat absurd.

Pagi berganti siang, dan siang berlari menuju malam. Tidak pernah satu tarikan nafasmu terhenti untuk membuktikan cintamu padaku. Semua kau berikan untuk hidupku dan bahagiaku. Aku sangat percaya itu.

Demikian juga yang terjadi pada hidupku. Detik demi detik aku mulai merasakan kebodohan yang tolol menguasai diriku. Terlalu naif bagi orang yang punya tingkat pendidikan yang lumayan tinggi tapi hidup seperti dalam drama Korea fake. Thats me. Very stupid. Aku sadar, aku harus keluar dari expresi yang tidak bahagia ini.

Malam ini merupakan malam yang berat bagiku. Karena seolah bahagia yang kukecap barusan saja kemarin sore, tapi tiba-tiba terenggut dari jiwaku. Jiwa yang lelah dan butuh belaian, sekarang kembali terhempas dalam kenyataan yang sebenarnya.

Aku sadar, aku tidak bisa menyelesaikan masalah cinta yang absurd ini dengan waktu yang singkat. Sampai ada julukan pecundang yang kamu tulis di statusmu di medsos, untuk menggambarkan betapa pengecutnya aku menghadapi sikon di dalam diriku.

Banyak hal yang kau tulis tentang diriku. Tentang draft novel dengan topik kopi. Yang tentunya banyak perumpamaan tentang kelemahanku dan kesalahanku dalam memaknai kopi kehidupan.

Ah, sudahlah. Memang aku bukan perempuan sempurna. Setidaknya sudah banyak aku berusaha untuk menjadi baik. Meskipun tidak akan pernah cukup semua pembuktianku padamu. Aku bukanlah apa-apa, karena mungkin saja perempuan lain juga akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih jika sedang jatuh cinta padamu.

Mencintaimu bagiku bagaikan warna merah muda. Warna yang diidentikkan dengan cerahnya warna kehidupan. Semua bisa membuatku kembali hidup. Tapi itu nampaknya juga tidak cukup. Mencintaimu tidak hanya dengan warna merah muda, sesekali warna abu-abu datang mewarnai tatkala kita sedang berdebat. Apalagi jika abu-abu sudah berubah menjadi warna hitam, pasti kita akan ribut hebat, sampai warna hitam akan mengalirkan tetes air hujan di antara kedua mata kita.

Sayangku ... Aku memang tidak pandai merangkai kata. Apalagi mengungkapkan perasaanku. Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku ingin berteriak bahwa aku juga sangat mencintaimu. Apapun aku lakukan agar cinta ini selalu hidup di antara kita. Banyak hal yang sudah aku perjuangkan, meski tidak pernah aku ceritakan. Karena cukup aku yang tahu. Selebihnya kamu hanya perlu tahu bahwa aku amat sayang padamu. Walaupun aku tahu, itu tidak pernah cukup bagimu.

Kekasihku, jika sudah begini aku merasa sangat tidak berdaya. Seolah apa yang kubangun sia-sia saja. Ketika aku sudah diragukan, dan cintaku selalu kamu uji itu sangat membuatku sedih. Aku tidak pernah sedikitpun menguji setiamu, atau meragukan hatimu. Tapi mungkin itulah perbedaan cara kita mencintai.

Beda orang beda cara. Aku tidak menuntutmu untuk mempercayaiku, karena kepercayaan itu tidak diminta tapi dibuktikan. Aku akan tetap pada jalanku. Meski setiap saat kamu mempertanyakan dan berulang kali memastikannya. Semoga kamu memahami perasaanku.

Penulis: Santy Fidrianna, SE, MM (Dir. Publikasi dan Penerbitan pada lembaga P3SDM Melati – Penulis To Mekkah with Love)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment