My Life is My Own Rules

By Redaksi 20 Jul 2018, 12:52:11 WIB Sastera
My Life is My Own Rules

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Google Image)


WPdotCOM -- Hidup ini kita yang punya. Sementara orang lain juga punya kehidupan masing-masing. Terus mengapa kita ijinkan orang lain menjadi sutradara dalam kehidupan kita? Be smart.

Hidup tidak selamanya harus membahagiakan orang lain. Hidup tidak harus merubah sesuatu yang kita tidak mampu mengubahnya. Kita punya hak masing-masing ke arah mana tujuan hidup ini.

Sutradara kehidupan adalah “masing-masing pribadi sebagai manusia.”  Allah-lah sebagai produsernya. Banyak pemahaman yang salah kaprah di sebagian orang, mengganggap Allah  sutradara dirinya. Padahal Allah sudah memberikan semua piranti pelengkap untuk hidup. Allah sudah produseri film kehidupan baginya dengan alam seluas ini.

Kamera diberi berupa dua model yaitu dua mata secara fisikd an yang non fisik berupa hati. Penyimpanannya sudah diberi yaitu otak dengan kapasitas unlimited. Skenario juga sudah diberikan, Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Lokasi ada berupa seluruh alam.

Kita sebagai khalifah di muka bumi yang diciptakan Allah, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat dalam diri kita, hendaknya bisa menentukan arah masa depan. Karena yang memahami diri kita adalah kita sendiri, yang bisa mengukur, menakar, dan memperkirakan sampai batas maksimal kemampuan diri. Tidak perlu bertanya pada psikiater atau mendatangi dukun untuk menanyakan tentang kompetensi diri. Semua bisa dilihat dari mata hati  ketika memuhasabah diri.

Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan yang tidak dimiliki binatang, tumbuhan bahkan jin ifrit. Selayaknyalah kita bisa menjadi pribadi yang dapat mengadopsi sifat-sifat Allah yang ada dalam diri. Antara lain sifat tegas, mandiri, berilmu, punya prinsip, penyayang, pemaaf, berkelakuan baik serta amanah, itu yang wajib kita tumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tegas dan punya prinsip dalam menentukan keputusan hidup, tidak didikte orang lain, kemudian mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan cara yang benar dan amanah, serta menebarkan kasih sayang dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, adalah hak dan kewajiban sebagai manusia. Kita sendiri yang memiliki pilihan dalam hidup. Sekali lagi, bukan orang lain.

Terus, sudah seperti ini Allah menyediakan berbagai fasilitas di alam, Allah produseri manusia dengan modal dan piranti yang lengkap. Masih jugakah menganggap kalau sedang tidak beruntung mempunyai nasib yang tidak baik? Lalu bilang... “Ini takdirku”. Haloo...?? Hari gini nyalahin Allah dengan bertameng pada kata takdir? Usaha broo, sist.. gan.... Hidup gak semudah membalik telapak tangan. Hidup harus ber-azam, usaha keras, berdoa dan tawakal. Jangan duduk melamun gak punya uang dibilang karena takdir. Kadang hidup selucu itu. Memberi peluang bagi diri untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang disengaja.

Memang di dalam hidup, orang sering menyoroti kita dari sisi negatif daripada positifnya. Tidak ada benarnya karena begitulah format dasar manusia diciptakan, kepo dan sirik dengan kesuksesan orang lain. Tapi apakah kita mengalah pada cap dan komen negatif dari lingkungan sekitar? Karena apapun, baik dan yang jelek dari seseorang lebih mudah menggoreng gosip negatif yang bisa di viralkan. Lantas menyerah begitu saja, drop dan bersedih menangisi yang katanya ”nasib”?

Sekali lagi, Allah sudah memberi modal dan piranti sebagai produser, kita manusia wajib menjadi sutradara bagi hidup masing-masing. Soo... masih milih galau meranau??? Artinya bisa dibilang mengingkari pemberian Allah, dan itu artinya juga adalah orang yang tidak punya iman.

Jadi, apa lagi yang kurang dalam diri manusia agar bisa mensikapi  hidup dengan cerdas? Jawabannya adalah “kemauan dan kesadaran.”

Ini hidup adalah hidup kita. Pemberian Allah. Lantas mengapa mengijinkan orang jadi sutradaranya? Mulai saat ini, stop mengalah pada arus kehidupan. Biarkan orang lain dengan arusnya, bikin arus sendiri. Jadi tidak perlu takut pada komenan netizen dengan segala sarkasmenya.

Penulis: Santy Fidrianna (Direktur Pelatihan, Publikasi dan Penerbitan pada lembaga P3SDM Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment