Nova Indra; Pesilat, Penulis dan Pegiat Literasi

By Redaksi 07 Agu 2017, 12:00:32 WIB Profil Tokoh
Nova Indra; Pesilat, Penulis dan Pegiat Literasi

Keterangan Gambar : Nova Indra (Dok. P3SDM Melati)


Kesan keras, dingin dan pendiam, sangat kentara pada sosok penulis ini. Sebagai seorang pesilat yang biasa dididik untuk menggunakan keterampilan olah fisik ini membuatnya terkesan hati-hati dalam bergaul.

Pemegang sabuk biru dengan tanda melati merah empat di perguruan beladiri Tapak Suci sejak tahun 2013 ini, lahir di Padangpanjang pada tanggal 5 Maret. Pencak silat dan pembelajaran silat adalah salah satu hobi keseharian dari Kader Utama Tapak Suci yang juga telah menulis buku Materi dan Kurikulum Pencak Silat ini.

Alumni Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah Filsafat Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat ini, memulai ketertarikannya di dunia menulis sejak masih duduk di bangku aliyah. Kala itu, di pesantren Kulliyatul Mubalighien tempatnya menimba ilmu pengetahuan, didikan untuk menulis telah diperolehnya.

“Sejak di Kulliyatul Muballighien, saya terbiasa dengan dunia kepenulisan. Untuk menamatkan pendidikan di sekolah khusus pendidikan muballigh itu, kami dihariskan menulis paper. Sejenis tulisan seperti layaknya skripsi di tingkat strata satu, ada pembimbing dari ustadz dan ustadzah,” demikian ungkap Nova ketika diwawancarai khusus untuk edisi ini.

Di samping itu, pengalamannya di organisasi juga menjadikan kebiasaan menulisnya tak pernah padam. Sebagai tokoh muda yang pernah memimpin organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah tingkat kota, ketua pimpinan cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Padangpanjang, ketua umum pimpinan daerah Pemuda Muhammadiyah, serta sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), ia makin terbiasa menulis. Kese-hariannya sebagai konseptor pengembangan organisasi kepe mudaan itu,  jelas  saja  membu tuhkan keterampilan menulis yang terus dikembangkannya.

Dalam kesehariannya, mantan aktivis yang dibesarkan di organisasi kepemudaan ini, kini disibukkan dengan aktivitas menulis dan kegiatan-kegiatan bimbingan kepenulisan. Melalui lembaga yang dibentuknya sejak tahun 2005 lalu, Nova memfokuskan diri untuk pengembangan dunia literasi dan jurnalistik.

Beberapa buku yang pernah ditulisnya telah terbit dan beredar. Buku yang mengupas tentang filosofi beladiri pencak silat dengan judul Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau, adalah buku yang terbit sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai pebelajar silat tradisi daerah di ranah Minang. Selain itu, novel berjudul Senandung Cinta Aisyah juga merupakan karya laki-laki bermata minus ini. Pada tahun 2015 lalu, novel tersebut diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Dan penggarapannya pun langsung ditangani oleh Nova bersama rumah produksi di kota Padang.

Selain buku dan novel, ia juga menulis antologi puisi. Beberapa buku antologi puisi yang pernah diterbitkannya, Surat untuk Bidadari, terbit pada tahun 2002, sedangkan antologi berjudul Surat untuk Tuhan diterbitkannya pada tahun 2003 silam. Beberapa tahun terakhir, ia pun kembali menerbitkan antologi puisi Bait Rindu untuk Larya dan antologi Surat untuk Kekasih.

“Menulis menjadi pilihan saya untuk mengisi keseharian.  Sebagai pribadi yang kemana-mana selalu memberikan motivasi menulis, tentunya harus membuktikan diri dengan adanya karya sendiri. Bila tidak, motivasi-motivasi kepenulisan serta bimbingan kepenulisan yang saya handle selama ini tidak akan ada artinya. Ibarat senjata makan tuan,” paparnya.

Saat ditanya mengenai karya terbaru hyang sedang digarapnya, pria yang masih terus melatih beladiri pencak silat dan memgembangkan perguruan beladiri praktis ini menjelaskan, ada beberapa novel dan bukunya yang kini sedang dalam penyelesaian. Untuk novel berjudul Antara Rabat dan Jakarta, kini tengah memasuki tahap menanti peluncurannya. Novel itu merupakan novel budaya kerjasama Indoneia dan Kerajaan Maroko yang dikerjakannya sejak akhir tahun 2015 lalu.

Sementara itu, novel lain berjudul Perempuan Bercadar Merah adalah novel yang kini tengah diselesaikannya. Menurutnya, novel tersebut bercerita tentang romantisme dua orang manusia yang terpisah oleh jarak dan waktu yang sangat jauh. Tanpa pernah saling mengenal secara dekat, tokoh dalam novel itu mampu menjadikan cinta mereka sebagai landasan untuk bergerak maju dan membangun harapan bersama.

Untuk buku lain, berjudul Memurnikan Tauhid Membangun Pribadi Muslim Sejati telah mendekati masa terbit. “Ini adalah buku sebagai bentuk tanggungjawab saya  juga sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan keagamaan. Ada dorongan dalam diri saya untuk terus menulis, salah satunya menulis buku-buku keagamaan. Mudah-mudahan semua karya saya dapat diterima oleh masyarakat,” imbuhnya.

Menutup bindang-bincang bersama awak redaksi jurnal ini, Nova menjelaskan target yang ingin dicapainya melalui lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati yang dipimpinnya.

Menurut Nova, lembaganya memiliki banyak unit kegiatan. Selain unit Sekolah Indonesia Menulis yang membawahi kegiatan-kegiatan workshop kepenulisan, serta media ilmiah Jurnal Pendidikan dan Budaya WARTA PENDIDIKAN ini dan perguruan beladiri praktis, di lembaga P3SDM Melati juga memiliki kegiatan-kegiatan penelitian terkait pengembangan potensi daerah dan politik.

“Di paruh kedua  tahun 2017 ini, kita sedang kembangkan sayap di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Khusus pada unit kerja Sekolah Indonesia Menulis, kita sedang jalankan program roadshow kegiatan workshop kepenulisan. Ini merupakan kegiatan promo yang kita harapkan dapat membantu dan mewadahi kebutuhan guru dan pendidik serta pelajar dalam pengembangan dunia literasi. (*)

 

Nataror: Santy Fidrianna, SE




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment