Pencak Silat: Dulu Dibanggakan, Kini di Ujung Tanduk

By Redaksi 14 Apr 2017, 11:08:56 WIB Budaya Nusantara
Pencak Silat: Dulu Dibanggakan, Kini di Ujung Tanduk

Keterangan Gambar : Pencak Silat Nusantara


WPdotCOM -- Pencak Silat, budaya bangsa yang kini terpinggirkan oleh kemajuan zaman. Entah karena cara berpikir masyarakat yang tidak lagi merasa butuh, untuk melanggengkan kelestarian budaya dan tradisi negeri sendiri, atau karena hal lain.

Miris memang. Bila dirujuk ke berbagai sejarah negeri ini, setiap daerah memiliki para pendekar silat di masa lalu. Tokoh yang menjadi tulang punggung perjuangan memerdekakan negeri ini dari para penjajah. Tapi itu juga hanya tinggal bacaan bagi siswa-siswa di sekolah.

Kini, perguruan silat bukannya berkurang. Hampir setiap tahun ada saja bermunculan perguruan silat baru, walaupun alirannya masih mengikut pada aliran yang sudah ada. Tapi, apakah sudah menjawab akan pentingnya pelestarian budaya?

Ditilik dari kebutuhan zaman, setinggi-tingginya kemajuan dan modernitas yang dialami manusia, beladiri tetap saja dibutuhkan. Lihat saja di jalanan, kasus-kasus pembegalan, perampokan, pemerkosaan di angkutan umum dan kasus lainnya. Semua terjadi karena korban tidak memiliki daya tahan yang dibarengi keterampilan membeladiri secara umum.

Secara khusus, pencak silat sebagai warisan leluhur negeri ini, bagi generasi dalam rentang usia wajib belajar, juga tidak lagi mendapat tempat. Mereka lebih menyukai hal-hal yang datang dari luar. Dengan alasan beragam, selain alasan terlihat lebih gagah dan mentereng.

Pada sisi lain, setidak sebagai pemangku kepentingan dunia Pencak Silat, harus terus mengoreksi diri sendiri. Bukan Cuma menyalahkan situasi dan kondisi yang terpapar di hadapan mata. Seluruh perguruan pencak silat saat ini, lebih mengarah pada upaya pembentukan pesilat prestasi. Nyaris saja melupakan bahwa pencak silat adalah sebuah media pembentukan karakter generasi.

Dari pengamatan di lapangan, perguruan-perguruan pencak silat, baik yang berupa organisasi struktural maupun sekedar perguruan mandiri, hanya bisa bergerak di dalam tubuh sendiri. Invasi gerakan penyebaran pencak silat, sama sekali belum terlihat menggembirakan.

Untuk beberapa kasus, terlihat nyata bahwa pembelajaran pencak silat di lembaga-lembaga pendidikan, yang dapat dijadikan sebagai bagian dari program pengembangan diri wajib siswanya, tidak lama bertahan. Hal itu dikarenakan pola pembelajaran tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. Atau di saat bersamaan, dapat disebutkan bahwa sistim pembelajaran pencak silat tidak lagi menarik, tampil monoton dan hanya itu ke itu saja.

Hal itu tentunya berasal dari ketidaktepatan penempatan pelatih atau pengajar silat. Seorang pengajar silat, harus memiliki kemampuan mendidik, bukan sekedar mencontohkan gerakan.

Lebih jauh, pengajar silat sudah harus memiliki sertifikasi pengajar yang diperoleh melalui pendidikan khusus kepelatihan.

Sebagai bagian dari person yang terus-menerus memiliki keinginan agar pencak silat kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tentunya hal ini harus menjadi pemikiran. Selain itu, pemikiran dan urung rembuk merupakan wadah yang harus tersedia dengan benar dan baik, bukan dengan melanggengkan perpecahan, ego sentris masing-masing kalangan, atau perbedaan pendapat yang dijadikan alasan. (*)

Penulis: Nova Indra (Kader Utama Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment