Pendalaman Agama; Pengendalian Moralitas Pribadi Ummat

By Redaksi 21 Apr 2017, 14:05:04 WIB Artikel Ilmiah
Pendalaman Agama; Pengendalian Moralitas Pribadi Ummat

Keterangan Gambar : Ilustrasi


Menurut Thomas Lickona, kemunduran dan kehancuran suatu bangsa ditandai oleh beberapa hal. Diantaranya, meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan remaja dan masyarakat, penggunaan bahasa yang kotor, kasar dan ejekan, pengaruh teman dan lingkungan melebihi pengaruh keluarga, meningkatnya penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku seks bebas. Begitu juga dengan lenyapnya nilai moral dan kebenaran dalam kehidupan masyarakat, dan rendahnya rasa hormat anak kepada orang tua dan guru. Dan dengan meningkatnya tayangan media masa yang dapat merusak mental anak, serta meningkatnya kecurigaan dan kebencian diantara sesama warga.

Thomas sendiri menghimbau untuk membangun Indonesia yang kuat dari keluarga. Semua point tersebut nyata telah menjadi pakaian keseharian masyarakat kita. Yang sangat berkonstribusi besar memberi sumbangsih kerusakan moral adalah tayangan media massa yang tidak berkualitas. Sinetron serial drama selalu menayangkan kisah percintaan dikalangkan remaja, kehidupan yang glamor, mewah dan pergaulan bebas saya mengistilahkan masyarakat bertuhan media.

Lembaga berwenang juga lemah dalam pengawasannya karena media bagian dimonopoli oleh kelompok elit tertentu yang berbasis bisnis atau kebutuhan komersil ( keuntungan). Dalam kasus ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati media malah diharuskan untuk membangun generasi muda, untuk anak-anak dan remaja butuh pengawasan orang tua memilih chanel berkualitas dan netral yang dapat memberikan edukasi untuk membangun kecerdasan otak. Jika hal buruk  dibiarkan akan membentuk sebuah paradigma baru generasi era pembodohan bangsa.

 10 Kutipan Ayah Edi Parenting, dahulu di Eropa antara Inggris dan Spanyol adalah bangsa yang memiliki kemampuan seimbang dalam berbagai bidang, namun setelah beberapa generasi Inggris lebih jauh mengungguli Spanyol. Ternyata hal ini di sebabkan oleh beberapa hal salah satunya karena di Spanyol budaya yang berkembang saat itu adalah  budaya melankolis telenovela dalam kesehariannya mencekoki generasi muda dengan kisah percintaan, perselingkuhan dan pertengkaran sedangkan di Inggris kisah yang dibangun bertema kepahlawanan dan pertualangan sehingga sangat berpengaruh terhadap semangat generasi muda selalu menyukai tantangan hidup.

Pernah menonton film Santum disutradarai oleh Andrew Wight yang berkisah tentang pertualangan ekspedisi gua  bawah laut di Papua Nugini?  Percakapan yang diucapkan oleh ayah Josh saat penyelamatan ekspedisi terakhir ketika semua anggota timnya telah meninggal ”Teruslah jalan jangan menyerah atau kau akan kembali masuk ke dalam daftarku (mati), kau di sini maka kau akan mati, Josh sedikit lagi kita sampai” akhirnya Josh berhasil menembus ke laut lepas tidak jadi masuk ke daftar kematian. Semangat baru terlahir kembali untuk Josh.

Kata Manjadda wajadda (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat), sempat booming saat film negeri lima menara diluncurkan di Indonesia. Hal itu sangat menginspirasi generasi untuk meraih masa depan yang lebih baik begitu juga dengan motivasi dalam karya Andrea Hirata, andaikan budaya perfilman tanah air terus mempertahankan eksistensinya kualitasnya pasti akan lebih baik. Sayangnya  Indonesia lahan yang kurang subur dan kurang berpotensi untuk melahirkan film berkualitas hanya ada beberapa saja karya berkualitas terlahir setelah itu menghilang karena masyarakat kita tidak terlalu meminati kecuali kalangan tertentu saja karena faktanya kita telah dimanja dengan budaya melankolis berkisar antara, harta, tahta, cinta dan wanita.

Fakta selanjutnya pengaruh teman dan lingkungan bersinergi memberikan efek perilaku amoral (seks bebas, narkotika dan etika berbicara yang tercela) dikalangkan remaja. Lingkungan tem pat tinggal yang baik akan mempengaruhi pem bawaaan karakter individu secara alami. Makhluk sosial butuh teman untuk bersosialisasi dalam berbagai kegiatan dan kesempatan. Ciri-ciri lingkungan baik itu menurut saya adalah lingkungan yang masih memegang nilai adat dan norma agama dalam menjalankan kehidupan sosial kemasyarakatan serta memiliki penghidupan ekonomi yang baik dan sehat. Lingkungan yang baik selalu mengawasi perilaku setiap individu yang tinggal di wilayahnya dengan menerapkan aturan dan sangsi adat diwariskan secara turun temurun.  lingkungan baik hidup dalam kesinambungan dan harmonis dalam hubungan antar sesama individu.

Ibarat segelas air putih bening saat ditetesi dengan setetes tinta berwarna pasti warna air berubah. Sebenarnya kita terlahir dalam keadaan fitrah berpeluang menjadi pribadi yang beradab untuk membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan berkelas, namun beginilah kenyataan yang tidak bisa di hindarkan. Setiap individu adalah satu kesatuan utuh dengan lingkungan, hidup bersama dalam berbagai keadaan dan situasi. Lingkungan adalah dua kutub saling tarik menarik dapat membawa kepada lembah kebaikan dan lembah  kesesatan. Sangat mustahil jika  meninggalkan lingkungan karena kita saling membutuhkan. Di sinilah peran sentral keluarga inti dalam mengokohkan karakter masyarakat kecil dalam keluarga sebelum masyarakat kecil terjun ke dalam lingkungan. Kalau semua keluarga menerapkan pola pengokohan karakter bermoral dengan mudah tercipta harmonisasi kerukunan dalam kehidupan, perilaku amoral bisa dinetralisir. Penerapan pengokohan moral harus berkesinambungan dan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Kerja sama bisa datang dari lembaga kemasyarakatan, orang tua, lembaga pendidikan dan golongan yang dianggap perlu dalam memberikan konstribusinya.

Lemahnya peranan keluarga dalam mendidik masyarakat inti akan melahirkan generasi liar. Kenakalan remaja merupakan permasalahan bangsa juga ruang konflik sosial masyarakat. Sebaiknya pemerintah, orang tua dan guru lebih memprio-ritaskan untuk menanggulangi hal ini. Kasus korupsi mendominasi berita brand trend topik dari masa kemasa, bermuara dari sini yaitu lemahnya rolling niscaya  akan ku goncang dunia (Bung Karno).

Terkadang kita hanya disibukkan dengan  permasalahan ketatanegaraan. Media masa mendapat tempat mengekspos berita renyah hanya menyajikan permasalahannya saja mendeskripsikan sedetail-detail masalah bahkan kita malu menyaksikanya sehingga mengabaikan hal urgent bagian terpenting dalam kenegaraan. Bangsa mulai menampakkan tanda kehancuran tanpa problem solving yang jelas orientasinya penemuan dasar dalam memecahkan permasalahan. Kita perlu penguasaan informasi untuk memahami konsep dasar permasalahan. Dalam teorinya langkah utama adalah mengidentifikasi masalah secara konseptual. Kedua menemukan sumber akar penyebab masalah, dari sumber masalah kita dapat mengambil tindakan tepat untuk mencari solusi masalah. Ini menunjukkan diagram sebab akibat.

Akhirnya, hanya kontrol agama yang  mampu mengendalikan moral  pribadi individu dalam masyarakat berbeda. Ditambah dengan fungsi kontrol lembaga hukum dalam memberikan efek jera terhadap pelanggar moral. Jika setiap orang teguh berkeyakinan kepada Tuhan menjalankan amalan dengan baik berarti mereka telah siap menjaga diri dan bangsanya. Kadang kita tidak bisa melimpahkan tanggung jawab pembinaan moral terhadap pendidik. Maka inti dari semua masalah yang bertanggung jawab penuh adalah keluarga. Sekolah adalah fungsi kedua dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap pemenuhan pendidikan individu dan tanggung jawab terhadap pemerintah dalam mencapai target tujuan pendidikan. (*)

Penulis: Riyen Gusti Suparta (Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment