Pendidikan Karakter Generasi Melayu; Bijak Menjaring Angin Lalu, Bijak Membuka Simpul Mati

By Redaksi 06 Apr 2018, 09:42:05 WIB Budaya Nusantara
Pendidikan Karakter Generasi Melayu; Bijak Menjaring Angin Lalu, Bijak Membuka Simpul Mati

WPdotCOM -- Anak Melayu, generasi yang terdidik dengan segala bentuk tempaan. Bukan saja mampu mengarungi lautan, namun juga cakap dalam menjalani kehidupan.

Kemajuan zaman, dengan segala pernak-perniknya, tidak pernah bisa mengecilkan arti pembinaan karakter yang terus-menerus dilakukan sedari anak menginjak usia pendidikan di rumah-rumah orang Melayu. Bukan hanya didikan untuk menjaga diri dari semua pengaruh alam, namun juga didikan dan tempaan sebagai bekal yang akan dibawa sampai ajal menjelang di kemudian hari.

Kami anak Melayu tiada pernah lupa semua pelajaran yang diterima. Untuk persoalan hidup, anak Melayu belajar segala kebutuhan dalam menyikapi lingkungan. Hal itu disebabkan karena pemahaman bahwa setiap pribadi, adalah bagian dari masyarakat yang lebih besar, yang harus dimasuki dengan keterampilan sebagai sosok yang terbaik.

bijak menyimak kicau murai

bijak menjaring angin lalu

bijak menangkap kerling orang

bijak menepis mata pedang

bijak membuka simpul mati

Adagium di atas, menjelaskan betapa generasi Melayu memiliki kedalaman karakter yang pantas dijadikan acuan bagi pendidikan generasi pada umumnya. Bagi kami anak Melayu, petuah-petuah itu bukan hanya dijadikan ucapan sehari-hari. Namun menjadi dasar berpijak untuk melangkah dalam bahtera kehidupan yang kami pelajari.

Anak Melayu dalam kesehariannya, tidak terlihat berbeda dalam bentindak dan berperilaku dibanding generasi muda lain. Sama saja, mereka juga tertawa ketika kelucuan datang di hadapan mata. Mereka juga tersenyum saat melihat perubahan alam yang membuat hati mereka gembira. Tapi, jauh di lubuk hatinya, mereka menjadikan semua itu sebagai pelajaran. Bukan sekedar tertawa dan menyunggingkan senyum di hadapan semua orang.

Anak Melayu bijak menyimak. Menyimak setiap pergerakan alam, menyimak setiap perubahan yang terjadi dalam lingkungannya. Seperti ungkapan bijak menyimak kicau murai, bijak menjaring angin lalu, dan bijak menangkap kerling orang, merupakan satu kesatuan karakter yang dibawanya kemanapun mereka pergi. Siapa yang mampu menyimak dan menginterpretasi kicau burung Murai? Bukan berarti anak Melayu dibekali kecakapan berbicara dengan hewan, namun ungkapan itu menjadi kiasan betapa generasi muda Melayu sangat arif dalam memaknai perubahan.

Siapa yang mampu menjaring angin lalu? Pekerjaan sia-sia bila dilakukan oleh siapapun. Namun ungkapan tersebut menggambarkan, anak Melayu telah dibekali secara metafisik untuk mengenali kebutuhan dalam lingkungan sekecil apapun, apatah lagi hanya sekedar menghadapi persoalan nyata di depan mata.

Anak Melayu adalah sosok ‘perasa’ yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai pribadi yang sangat sensitif, mudah tersinggung, tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Bila itu anggapan yang ada, maka prediksi itu sebagian salah besar. Anak Melayu bukanlah orang yang mudah tersinggung atau tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Mereka adalah pribadi yang sangat hati-hati dalam bertindak, bukan sosok gegabah asal terjang. Bagi mereka, kerlingan mata orang saja, akan dalam maknanya.

Karena semua itu, anak Melayu terkesan pemalu, juga sedikit alay kata manusia zaman maju ini. Namun dalam sikap dan perilaku seperti itu, dalam diri anak Melayu tersimpan energi yang tidak sembarangan digunakan. Bila sikap dan sifat yang terkesan pemalu itu dianggap sebagai kelemahan, maka jangan jadikan alat untuk menekannya telalu keras. Karena anak Melayu juga bijak menepis mata pedang.  Tidak seorang pun anak Melayu yang tidak dididik untuk membela diri secara fisik (bahkan non-fisik). Tapi mereka bukanlah manusia yang suka menepuk dada menyombongkan diri. Mereka lebih suka menjadi pribadi yang disukai dalam pergaulan, karena mereka juga bijak membuka simpul mati.

Penulis: Nova Indra Tuanku Mudo (Pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment