Pengabdian Seorang Anak, Ladang Ibadah Tanpa Putus

By Redaksi 05 Feb 2018, 18:31:49 WIB Suara Guru
Pengabdian Seorang Anak, Ladang Ibadah Tanpa Putus

WPdotCOM – Segala yang terjadi dalam kehidupan ini bukanlah kebetulan. Semua sudah diukur, ditentukan dan diijinkan, oleh Sang Penguasa Alam.

Jadi bersyukurlah atas apapun. Karena kewajiban kita sebagai “wayang” hanya menjalankan perintah Sang Dalang dan menjauhi laranganNya. Tuhan telah menyediakan kesempatan yang sangat indah, pada orang-orang yang mau berusaha dan berdoa. “Alhamdulillah Yaa Allah, pada kesempatan pagi hari ini, Engkau masih memberiku nafas yang segar,” demikian ucapku dalam hati setiap bangun tidur.

Kebiasaan setiap pagi, menyapa Tuhan dengan begitu mesranya. Meskipun kadang, dengan kesedihan dan tangis dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupanku.  Bapak dan Ibu, yang sedang sakit membuatku sedih tentunya. Tapi hal ini tidak membuatku patah semangat dalam menjalani segala aktivitas sehari-hari. Aku harus terus berusaha dan berdoa untuk kesembuhan mereka.

Orang tuaku adalah ladang ibadahku. Sekeras apapun didikan mereka untuk anak-anaknya, sesakit apapun derita yang mereka rasakan dalam membesarkanku, mereka tetap mengusahakan masa depan yang terbaik bagiku. Jadi, sekarang adalah saatnya aku membalas kebaikan Tuhan yang tersalurkan melalui kedua orang tuaku.

Kata pepatah Jawa “Wong tuwa iku Pangeran kang Katon”, Kowe Kabeh bakalan dadi Wong Tuwa, dan Ajine, Mulyane Wong tuwa iku saka apa sing dilakoni anak.” Orang tua adalah Tuhan yang nyata di dunia, kita semua akan mejadi orang tua seperti mereka, dan harga diri, kemuliaan orang tua itu berasal dari apa yang diperbuat oleh anak-anaknya. Dari kalimat-kalimat inilah aku tersadar, apa yang harus kulakukan sebagai anak yang berusaha berbakti di usia mereka yang sudah tua.

Belajar dari pengalaman yang terjadi, banyak kesalahan dan dosa yang kami lakukan sebagai anak. Usaha dan doa, selalu aku upayakan untuk menebus semua kesalahanku yang telah membebani bapak dan ibu. Bersama kakak dan adikku, saudara-saudara iparku, aku merasa tidak sendirian dalam mengusahakan kesembuhan mereka. Terima kasih Tuhan, jalan keluar akan segera kami temui.

Secara tidak sengaja, tapi mungkin sudah ditunjukkan oleh Tuhan. Pada suatu hari aku membawa ibu untuk terapi refleksi, supaya katarak yang ibu alami sampai menganggu penglihatannya bisa sembuh, karena ibu tidak ingin sampai terjadi tindakan operasi di mata kanannya. Petugas terapis yang sudah kami anggap profesional, menyarankan untuk segera berobat di Pusat Pelayanan Kesehatan Mata SMEC Malang. Saat itu juga, aku ajak kakak dan adikku untuk mencari informasi dan mendatangi tempat tersebut.

Hasil pencarian membuat kami sangat bersyukur. Bapak yang sudah sangat lama tidak bisa melihat karena syaraf mata yang lemah, juga bersedia kami ajak untuk berobat tanpa operasi. Padahal sebelumnya, bapak sangat anti dokter. Entah kenapa, seakan-akan ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk menuju kesembuhan bapak ibu. Aamiin.

Semoga dengan tulisan ini, aku bisa mengajak para pembaca untuk selalu beryukur atas apapun yang terjadi. Bahwa, Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya dalam kesulitan, selagi kita masih mau berusaha dan selalu berdoa. Sekian.

Penulis: Merlia Anastasia Iswantin, S.Pd (Guru SD Negeri Gadang 3 Kota Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment