Perempuan Bergamis Merah

By Redaksi 10 Nov 2017, 07:15:46 WIB Sastera
Perempuan Bergamis Merah

Keterangan Gambar : Ilustrasi


“Ayah.. “ terdengar suara kecil itu jauh di ujung telepon. Suara yang terdengar begitu merindukan kehadiranku.

“Iya, sayang. Ayah kangen, Nak. Seminggu lagi ayah pulang ya, sayang.”

Hanya kalimat itu yang meluncur dari mulutku. Aku tahu, saat ini gadis kecil yang selalu menungguku di rumah, sedang membutuhkanku dalam kesehariannya.

“Hari apa ayah pulang? Aku tidak minta dibeliin apa-apa. Kan kemarin sudah banyak ayah beliin.”

“Iya, Nak. Tapi nanti ayah beliin tas sekolah yang baru ya. Nanti setiap minggu, bawa tas yang beda ke sekolah. Pasti asyik kan, sayang?” Aku berusaha membujuk hatiku sendiri. Bukan membujuk bidadari kecil yang di ujung sana tengah berusaha dewasa menerima kenyataan harus jauh dariku.

“Ayah, kemarin ada temanku nanyain...”

Kalimatnya menggantung. Aku tahu ada sesuatu yang ingin diceritakannya. Kebiasaannya itu selama ini selalu kuperhatikan. Dia butuh waktu bercerita tentang teman sekolahnya, tentang teman bermain di kesehariannya. Dan biasanya, kalau sudah bercerita, akan sangat lama dan susah berhenti. Ada saja sambungan ceritanya. Dan aku selalu sediakan waktuku untuk jadi pendengar yang baik baginya.

“Iya sayang. Nanya apa teman-teman di sekolah? Kasih tahu ayah ya, Nak.”

“Kan kemarin pake sepatu yang warna hitam, trus ada yang nanya siapa yang beliin. Aku jawab ibu yang beliin. Mereka nanya lagi, ayah...”

Ada nada tercekat di tenggorokan bidadari kecilku. Tidak biasanya ia seperti itu saat bercerita. Biasanya selalu semangat dan menggebu-gebu, tanpa henti.

“Mereka nanya apa lagi, sayang?”

“Katanya, memangnya kamu punya ibu? Mereka juga nanya siapa nama ibu...”

Tangisnya pecah. Kuyakin dari tadi beban itu sudah tidak mampu lagi ditahannya.

“Ayah, mereka jahat. Mereka bilang aku tidak punya ibu....”

Suara bidadari kecilku terdengar parau karena bercampur tangis. Aku tidak tahu harus menjawab apa di saat seperti ini. Selama ini, orang yang kukenalkan padanya sebagai ibu, memang tanpa nama. Agar ia tidak terlalu merindukan sosok itu. Tapi semua berjalan di luar kendaliku. Wajar saja sesama anak di sekolah saling bertanya nama orang tuanya. Apalagi, sejak satu bulan lalu anakku selalu bertanya tentang figur ibu yang kusebut membelikan dua pasang sepatu cantik kesukaannya.

Air mataku mengalir. Inilah saat-saat yang membuatku merasa gagal menjadi ayah baginya. Sudah sekian lama figur seorang ibu dirindukan anakku. Sementara aku? Sekarang pun jauh darinya. Dari seorang anak yang membutuhkan kehadiran orangtuanya setiap saat.

“Sayang. Ibu ada kok, tapi belum bisa bersama kita. Nanti suatu saat, Insya Allah ibu akan selalu ada bersamamu. Sabar ya, sayang. Ayah janji, nanti saat ayah pulang kita cerita lebih banyak tentang ibu,” kalimat itu kuucapkan dengan keraguan. Akankah setiap ucapanku itu berbuah kenyataan?

“Ayah...”

Suara tangisnya masih terdengar. Tangisan yang sangat kutahu persis sama denganku. Air matanya pasti mengalir deras, tapi ia terus berusaha menekan perasaannya saat ini. Aku bangga memiliki bidadari kecil yang baru berumur delapan tahun. Seumur itu, ia telah ditempa berbagai kenyataan hidup. Hal itu menjadikannya lebih cepat dewasa.

“Iya, sayang. Ayah lagi dengerin...”

“Nanti saat liburan sekolah, boleh nggak ikut ayah? Aku pengen ketemu ibu...”

Tergagap aku mendengar permintaannya. Tidak kusangka keinginan itu ia lontarkan di saat seperti ini. Bidadari kecilku ingin bertemu perempuan yang kukenalkan sebagai ibu baginya. Mungkinkah?

“Iya sayang. Nanti saat liburan, kalau ibu tidak kemana-mana, kita ketemu ibu. Ayah akan bawa selama liburan nanti. Sekarang nggak boleh sedih. Biar aja temen-temenmu itu nanya, mereka kan tidak tahu sayang..”

“Bener, ayah? Boleh nanti aku tidur sambil dipeluk ibu?”

Ada nada yang berbeda dalam kalimatnya barusan. Terdengar semangat yang menggebu seperti biasanya saat bercerita.

“Iya, sayang. Nanti pasti dipeluk ibu. Kan ibu juga sayang banget. Sekarang, istirahat dulu. Kan udah malam. Besok pagi jangan telat bangun subuh. Setelah shalat jangan lupa berdoa ya, Nak...”

“Iya, ayah. Aku mau berdoa agar bisa ketemu ibu...”

“Sini ayah peluk. Tidurlah sayang. Ayah akan selalu ada untukmu.. Ayah juga akan istirahat, besok masih ada kerjaan yang harus ayah selesaikan...”

“Iya, ayah. Aku sayang ayah...”

“Iya, Nak. Tunggu ayah pulang ya.. Sekarang tutup teleponnya.”

“Iya, ayah. Assalamua’ailkum....”

“Alaikumsalam bidadari cantik ayah..”

Kudengar suara ponsel dimatikan di ujung sana. Napasku terasa berat. Entah takdir apa yang sedang kujalani saat ini. Takdir yang berusaha kutulis sendiri. Yang kuniatkan untuk masa depan yang lebih indah bersama anakku. Tapi semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, perlu waktu untuk tiba di titik tujuan.

# satu halaman dari novel PEREMPUAN BERGAMIS MERAH




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment