Perilaku Kekerasan Pelajar, Tanggung Jawab Kita Semua

By Redaksi 04 Feb 2018, 18:23:01 WIB Sekolah Indonesia Menulis
Perilaku Kekerasan Pelajar, Tanggung Jawab Kita Semua

WPdotCOM -- Telah beberapa hari, Indonesia dihebohkan dengan kematian Achmad Budi Cahyanto, guru Seni Rupa SMAN 1 Torjun Sampang Madura.

Ia menghembuskan nafas terakhir usai dipukul muridnya sendiri, yang berinisial HZF. Berita ini sedang viral. Korban dikebumikan, Jumat (2/2/2018). Seperti diketahui, Budi yang berprofesi sebagai guru tidak tetap (honorer) mengajar melukis di kelas IX.

Ketika siswa konsentrasi melukis, siswa berinisial HZF malah asyik mengganggu teman-teman dan kelompok lain. Korban menegur, tapi pelaku tetap mengganggu, sehingga korban memperingatkan. Akhirnya  wajah pelaku diolesi cat lukis sebagai sanksi oleh korban. Karena tidak terima dengan sanksi tersebut, kemudian pelaku memukul leher belakang korban, sampai jatuh tersungkur ke lantai. Kejadian ini berujung maut.

Peristiwa ini, membuka kembali keinginan kita untuk lebih memahami perlindungan guru dalam melaksanakan tugasnya.  Meskipun sebenarnya sudah ada payung hukum yang mengatur tentang itu.

Pada Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 Pasal 41, disebutkan guru berhak mendapatkan perlindungan hukum.  Perlindungan itu bisa dari tidak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik. Juga melindungi guru daari tindakan tidak tepat dari orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Namun dalam prakteknya, seringkali baru dibicarakan setelah terjadi pelanggaran. Berita di atas adalah contohnya.

Memang kita perlu bersikap arif dalam memahami permasalahan ini. Ada  beberapa aspek yang perlu kita perhatikan. Dari aspek pendidik yang masih tergolong muda, belum banyak makan asam garam dunia pendidikan. Dengan idealisme yang dimilikinya sebagai seorang guru profesional yang multi talenta, pasti terlintas harapannya agar peserta didiknya juga akan memiliki kemampuan yang sama, bahkan lebih dari dirinya. Seperti teori yang diperolehnya dalam bangku perkuliahan. Sehingga mendapati kenyataan  peserta didik yang mengabaikan tugas, sangat tidak diharapkannya.

Tindakan yang diambil pendidik juga sesuai prosedur, diawali dengan mengingatkan. Pasti juga disertai pengendalian diri untuk menahan sabar. Kalaupun kemudian tindakan yang dilakukan sebagai sanksi berakibat perlawanan. Ini yang harusnya tidak terjadi. Meskipun Mendikbud menjanjikan beasiswa untuk putra korban penganiayaan ini, tetapi tetap saja peristiwa ini menimbulkan noda dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pada aspek peserta didik, adakah dia  gemar bermain game online? Mengingat akhir-akhir ini demam game online disinyalir sangat berpengaruh terhadap perilaku negatif anak. Sebuah permainan yang banyak digandrungi anak muda, yang sangat akrab dengan gawai. Kadang hala ini luput dari perhatian orang tua dan pendidik.

Kembali masalah kekerasan terhadap pendidik oleh peserta didik. Aspek lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, perlu kepedulian terhadap tumbuh kembang anak.  Pendidik perlu lebih mengenal  karakteristik peserta didik. Gawai yang akrab dalam keseharian mereka bukanlah ancaman, selama kita dapat memberikan arahan etika penggunaannya. Sekaligus sebuah tantangan bagi pendidik dalam mewujudkan tujuan pembelajaran.

Orangtua juga perlu mengembangkan komunikasi yang sehat, agar anak merasa memiliki tempat untuk berbagi. Manakala sedang menemui jalan buntu terhadap berbagai permasalahan yang dihadapinya. Menyediakan waktu sekedar menanyakan apa saja kegiatan hari ini, atau menunggui mereka saat membuka gawainya, akan menjadi alat kontrol yang efektif.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya, kepedulian masyarakat akan aktivitas anak muda di sekitarnya juga turut menjadi begitu perlu. Menyapa mereka dengan senyum tulus, akan memberi arti pengakuan terhadap kehadiran mereka. Sekaligus teladan dalam bersosialisasi. Semoga menginspirasi.

Penulis: Endang Prapti S.A (Guru  SMP Negeri 1 Turen Kab. Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment