Perilaku Sosial Generasi Melayu, Adat Sebanjar Bertunjuk Ajar Adat Sebangsa Seiya Sekata

By Redaksi 15 Agu 2018, 08:58:32 WIB Budaya Nusantara
Perilaku Sosial Generasi Melayu, Adat Sebanjar Bertunjuk Ajar Adat Sebangsa Seiya Sekata

Keterangan Gambar : Ilustrasi gambar (Google Image)


WPdotCOM -- Generasi Melayu, adalah turunan dari hasil didikan yang tak pernah lekang oleh waktu. Mereka ditunjuk-ajari dengan segala bentuk nilai, yang di dalamnya tertuang kebiasaan dan pembiasaan yang baik.

Pada bidang sosial kemasyarakatan, anak Melayu tiada lupa mengingat petuah tentang budi pekerti dalam setiap langkahnya. Bukan saja sebagai bagian dari masyarakat komunal yang harus menampilkan tata kesopanan, namun sopan santun juga dimulai dari bagaimana menempatkan diri dalam keluarga.

Hal itu termaktub dalam petuah Melayu yang berbunyi, hidup serumah beramah-tamah, hidup sedusun tuntun-menuntun, hidup sekampung tolong-menolong, hidup senegeri beri-memberi, hidup sebangsa bertenggang-rasa.  Bagi anak Melayu, petuah ini dijalankan sedemian rupa. Bukan anak Melayu namanya bila tak paham setiap alur petuah budaya sosial yang diajarkan.

Bagaimana seorang anak Melayu di rumah keluarganya? Pribadinya adalah sosok yang manis dilihat, elok dipandang mata. Tutur kata yang sopan dan penuh kesantunan dalam eksistensinya sebagai bagian dari keluarga, menjadi ukuran baginya untuk melangkahkan kaki menuju masyarakat yang lebih luas.

Ketika kakinya telah melangkah sampai di halaman, ia menyadari bahwa keberadaannya telah bercampur pada tatanan masyarakat banyak. Tidak sembarang cara dapat dipakai. Hanyalah cara berperilaku baik yang mesti ditonjolkan.

Walaupun dalam skala kecil hidup di dusun, atau di desa dan kampung, konsep tuntun-menuntun dan tolong menolong, adalah perilaku aktif yang ditampilkan anak Melayu. Baginya, hidup bukan sekedar memperjuangkan kebutuhan diri, namun menjadi tanggungjawab pula untuk terus menjadi bagian penting masyarakat di lingkungannya.

Tuntun-menuntun dan tolong-menolong, ialah sikap yang tak pernah mereka lupa. Bila hari ini dirinya yang harus menuntun dan menolong, maka itu adalah tabungan amal yang harus ia lakukan, karena besok bisa jadi ia yang akan dituntun dan ditolong. Cepat kaki ringan tangan, begitu sikap anak Melayu dalam menjalani kesehariannya. Karena konsep bertanam budi adalah bagian diri yang semestinya dilalui.

Sebagaimana pula dijelaskan dalam petuah adat dan budaya Melayu, adat sebanjar bertunjuk ajar, adat sedesa rasa-merasa, adat senegeri bertanam budi, adat sebangsa seia sekata, rasa simpati dan kemampuan berempati, adalah kunci dari kekekalan akal budi yang positif bagi manusia yang hidup di dunia ini. Saling mendidik dengan kebaikan, seiya-sekata, dan mampu memunculkan diri dalam situasi yang tepat dan kondisi yang memungkinkan, menjadi kepiawaian untuk dibawanya selama nafas dikandung badan.

Selebihnya, melalui petuah adat yang mampu dijadikan pedoman sosial itu, kebersamaan dan persatuan adalah tujuan yang hendak dicapai. Memakmurkan bangsa melalui perbaikan pribadi-pribadi anak negeri, telah pula dipupuk agar tumbuh berkembang sebagai jatidiri generasi. (*)

Penulis: Nova Indra (Pimpinan lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment