Pesan untuk Para Aktivis; Jujur Bertutur Bijak Bertindak

By Redaksi 21 Apr 2017, 13:48:19 WIB Opini
Pesan untuk Para Aktivis; Jujur Bertutur Bijak Bertindak

Keterangan Gambar : Cover buku Pesan Untuk Para Aktivis (dok. P3SDM Melati Publishing)


Sebuah jargon terpampang begitu nyata di depan mata, di sebuah kota yang asri dan nyaman bagi para pengunjungnya. “Jujur Bertutur, Bijak Bertindak,” terasa begitu menyentuh setiap jiwa yang membaca dan mampu menyelami kedalaman maknanya. Susunan kata yang sederhana, mampu diserap pemikiran beragam tingkatan usia.

Namun, begitu mudahkah setiap orang yang membacanya, dapat memahami makna yang terkandung di dalam kalimat itu? Belum tentu. Itulah pernyataan sesaat yang dapat dipastikan. Alasannya adalah karena lebih sering setiap kita tersentuh hanya karena membaca, tidak diserap oleh kekuatan jiwa yang sejatinya butuh pencerahan dan peningkatan kualitas menuju kebaikan diri dan sesama.

Kebiasaan dalam keseharian manusia, terkadang mendegradasi kekuatan hati untuk terus-menerus  menyelami kedalaman makna kalimat sederhana seperti itu. Bagi kita, sehari-hari merupakan sebuah rutinitas. Bagi kita hanya ada kebiasaan yang selalu menjadi aktivitas dan merupakan keberlanjutan dari hari-hari sebelumnya. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh setiap jiwa yang dikenal sebagai insan pelupa, dan lebih suka melihat sebuah tujuan daripada proses yang dijalaninya.

Lihatlah, begitu banyak di antara kita yang hanya peduli tentang kebiasaan. Dalam komunitas yang kita menjadi bagian darinya, atau organisasi yang merupakan tempat kita berpijak selama ini, membesarkan nama sendiri, menguatkan jatidiri untuk mencapai tujuan bersama dan pribadi, kita dibiasakan melalui rutinitas  program dan aktivitas bersama yang kadang membuat kita lupa, bahwa di sekeliling ada banyak mata yang menilai dan memperhatikan gerak-gerik kita yang jumawa, bertutur dan bertindak seadanya.

Siapapun kita saat ini, apapun profesi yang sedang kita jalani, kita adalah aktivis di setiap lini kehidupan. Kebiasaan yang bagai air mengalir, yang kita lalui sejak mentari menyinari alam dan kita membuka mata dari mimpi yang melenakan, adalah sesuatu yang masih patut untuk kita nilai dengan takaran kebenaran. Entah itu kebenaran dari standar nilai yang kita tetapkan bersama sesuai kaidah kehidupan, atau standar nilai yang ada di tengah masyarakat yang kita menjadi bagian darinya.

Masih ada sebagian dari kita yang lupa, bahwa sebagai seorang aktivis, baik di profesi yang kita disanjung dan dikagumi, maupun sebagai bagian dari masyarakat komunal yang beragam dan penuh tata aturan, lupa untuk selalu menggunakan ukuran kejujuran sebagai pedoman utama.

Kejujuran, ya begitulah kata “jujur” yang diberi awalan “ke” dan akhiran “an,” bermakna sebuah proses untuk melakukan sesuatu, baik berkata dan berbuat sesuai dengan apa yang kita pikirkan, bukan sesuatu yang berlainan antara kedua dimensi tersebut. Sering kita pahami bahwa kejujuran diidentikkan dengan setiap tutur yang kita sampaikan melalui alat ucap, didengar dan dipahami oleh orang lain atau lawan bicara. Dan di dalam masyarakat, tutur seseorang, siapapun dia adanya, adalah ukuran bagi sebuah proses tindakan untuk menilai benar atau tidaknya apa yang kita sampaikan, baik dalam bentuk perilaku, maupun karakter diri yang terpampang lebar di hadapan khalayak.

Sebagai seorang aktivis, selain upaya bertutur yang jujur, kita diingini setiap elemen masyarakat untuk bijak dalam bertindak. Betapa banyak aktivis yang di komunitasnya sendiri menjadi pentolan, tapi hanya tampil sebagai pecundang di kebersamaannya dalam komunitas yang lebih luas. Hanya karena kekurangan diri untuk selalu bijak dan penuh perhitungan dalam mengambil tindakan dan berperilaku, seseorang dapat dinilai sebagai “trouble-maker” nya masyarakat.

Kini, di saat dunia makin kecil yang diumpamakan hanya seujung jari telunjuk, apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, dapat saja diketahui oleh orang-orang sedunia tanpa kita menyadarinya. Karena itu, perilaku jujur dan bijak, baik dalam bertutur dan bertindak, semestinya menjadi bagian terpenting dalam komunikasi sehari-hari, dan tindakan yang kita ambil untuk unjuk diri.

(tulisan ini merupakan bagian dari buku berjudul Pesan untuk Para Aktivis yang ditulis oleh Nova Indra)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment