Pesan untuk Para Aktivis; Tentang Etika

By Redaksi 21 Apr 2017, 13:45:01 WIB Opini
Pesan untuk Para Aktivis; Tentang Etika

Keterangan Gambar : Cover buku Pesan Untuk Para Aktivis (dok. P3SDM Melati Publishing)


Sebagai aktivis yang juga seorang anak, kita telah mampu menggurui mereka yang melahirkan dan membesarkan kita. Ini etika seorang aktivis masa kini yang mulai tidak relevan lagi dengan ajaran dan pembiasaan yang sebenarnya kita tahu.

Kini, di tengah masyarakat, banyak pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran bila mau. Saat seorang person yang hebat, pintar, cerdas dan terampil dalam segala bidang, ternyata tidak disenangi. Bahkan dikucilkan dari pergaulan. Apakah dia tidak dibutuhkan? Keahliannya sangat dibutuhkan setiap orang. Tapi keangkuhan dan kesombongannya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memberikan rasa sayang dan ruang yang cukup.

Keahlian, keterampilan, kecakapan mengatur dan mengelola, yang selama ini menjadi salah satu pembelajaran yang kita geluti setiap saat dalam kegiatan dan aktivitas komunitas kita, ternyata tidak mampu membawa kita menjadi bagian dari masyarakat sosial secara utuh.

Kadang dalam kondisi itu kita menyalahkan masyarakat. Kadang dengan segala keangkuhan kita berucap, “masyarakat awam memang sulit menerima perubahan.” Padahal, kita sendiri yang sulit menerima kenyataan bahwa setiap masyarakat, diatur dan dikelola dengan norma yang beragam, tidak homogen seperti saat kita berada dalam komunitas eksklusif.

Homogen? Ya, selama ini kita hanya berada dalam suatu komunitas yang di dalamnya memiliki aturan sendiri, kita seolah punya konstitusi sendiri, seperti sebuah negara. Dimana kita bisa menyikapi ketidaksetujuan pada sistim yang ada dengan memukul meja, melempar kursi, menunjuk dengan pongahnya setiap kekurangan pemimpin dan rekan seperjuangan, karena kita lebih tahu dari mereka.

Lalu? Apakah saat kita kembali menjadi bagian dari elemen masyarakat sosial yang heterogen itu akan demikian juga tingkah-polah kita? Saat sebagian warga memandang kita dengan pandangan kecewa, apakah kita harus kembali menghentakkan kaki kuat seorang aktivis, lalu menepuk dada bahwa kita lahir dari sebuah komunitas yang ketat aturan dan memiliki idealisme tinggi?

Ternyata? Tidak demikian adanya. Masyarakat sosial mengharapkan kita untuk menjadi lebih anggun dan elegan. Masyarakat kita tidak butuh keterampilan dan keahlian yang di dalamnya ada sifat sombong, angkuh dan mau menang sendiri. Masyarakat kita ditata dengan nilai-nilai etika, sopan-santun yang turun temurun telah ada dan menjadi diri bangsa.

Kekurangan etika kah kita? Sementara setiap saat kita telah dilatih melalui proses kaderisasi yang matang dan berkelanjutan? Ternyata bukan kurang etika, tapi kita kurang belajar tentang etika itu sendiri. Selama ini kita belajar tentang etika komunitas, bukan etika sosial.

Wahai para aktivis yang dirindukan banyak pihak untuk turut memperbaiki bangsa, kita perlu belajar banyak tentang cara bermasyarakat, cara bersopan-santun, tentang tenggang rasa, tentang bagaimana menerima kenyataan bahwa bukan hanya kita orang-orang terampil di tengah-tengah mereka.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment