Profesionalisme Guru, Dilema antara Tugas Mengajar dan Hambatannya

By Redaksi 20 Agu 2017, 17:49:28 WIB Opini
Profesionalisme Guru, Dilema antara Tugas Mengajar dan Hambatannya

Keterangan Gambar : ilustrasi (sumber: smkriyadulhikmah)


WPdotCOM -- Mengajar adalah sebuah seni yang tidak hanya melibatkan kemampuan logis, konseptual, sistematis, dan analogis. Mengajar adalah suatu interaksi konstruktif antara guru dan siswa yang melibatkan hubungan hati dan psikologis antar keduanya juga sangat diperlukan.

Menjadi seorang guru yang profesional adalah sebuah dambaan bagi setiap insan yang telah memilih guru sebagai profesinya. Namun seringkali dalam menjalankan tugasnya, guru mengalami beberapa hambatan yang mungkin akan mempengaruhi kinerjanya.

Hambatan-hambatan tersebut dapat berupa tugas-tugas administrasi yang sekian banyak, karakter dan kemampuan siswa yang bervariasi, penilaian dan evaluasi siswa ataupun tugas tambahan lain di luar kegiatan pengajaran yang mendukung keprofesionalan seorang guru.

Jika dikalkulasi, maka jumlah waktu yang diperlukan bagi guru untuk menyelesaikan berbagai kegiatan ini membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran yang sangat banyak. Sementara di luar tugas profesi, guru pun harus membagi waktu dengan tugas di rumah dan keluarga.

Pemenuhan administrasi pengajaran bagi seorang guru mutlak diperlukan, diantaranya pembuatan silabus, rencana program pembelajaran, kalender pendidikan, program semester, program tahunan, dan lain-lain. Untuk menyelesaikan tugas administrasi ini, seorang guru harus benar-benar bisa membagi waktu seiring berbagai kesibukan, di sela-sela proses pengajaran berlangsung, dan membawa pulang sebagian tugas di rumah. Hal ini mungkin agak memberatkan bagi guru, apalagi jika mereka dalam kondisi pikiran yang kurang fokus dan kelelahan fisik.

Faktor hambatan lain adalah karakter dan kemampuan siswa yang sangat bervariasi. Sebelum memulai pengajaran, pendekatan psikologis kepada anak didik merupakan suatu keharusan. Seorang siswa yang secara psikologis siap untuk menerima pengajaran, jauh lebih baik daripada siswa yang mengalami kendala dalam menyesuaikan diri atau beradaptasi di kelasnya. Untuk itu selain pendekatan personal, guru harus mempersiapkan metode pengajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga tujuan pembelajarannya bisa tercapai. 

Berbagai tingkah-polah siswa yang kurang kondusif seperti mengganggu teman, enggan untuk mengerjakan tugas, tidak memperhatikan guru, kurang bisa menangkap materi yang diberikan, harus bisa ditangani guru dengan cermat. Bisa dibayangkan betapa rumitnya tugas yang diemban oleh seorang guru.

Kurikulum 2013 menuntut guru untuk memberikan pengamatan yang lebih mendetail baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap sekaligus dalam kurun waktu yang sama. Idealnya dalam satu kelas terdapat 20 orang siswa dan 2 orang guru yang mendampingi. Harapan, guru yang satu memberikan pengajaran materi, sedangkan guru yang lain mengamati dan memberikan penilaian dalam kegiatan pembelajaran.

Faktanya, mayoritas dalam satu kelas dipegang oleh seorang guru saja. Bagaimanapun situasinya, seorang guru dituntut untuk mampu menguasai kelas dan menjalankan proses belajar mengajar sesuai yang direncanakannya.

Kegiatan tambahan lain bagi seorang guru, mungkin mendapat tugas untuk memegang laporan keuangan sekolah ataupun yang lain, yang jelas saja membutuhkan waktu dan kinerja lebih. Di sela pengajaran yang sedang berlangsung, suatu ketika guru juga harus melengkapi kebutuhan administrasi kedinasan yang harus dikirimkan saat itu juga.

Akibatnya, guru harus meninggalkan siswa di tengah pembelajaran dengan meninggalkan tugas yang bisa dikerjakan oleh para siswa. Jika tenaga guru lebih, mungkin kegiatan bisa digantikan oleh guru yang lain. Namun bagaimana jika tenaga guru yang ada di sekolah cukup bahkan kurang?

Terakhir, kegiatan yang menjadi tambahan untuk menunjang keprofesionalan guru adalah dengan membuat sebuah karya tulis. Bagi sebagian besar guru di Indonesia, membuat karya tulis merupakan kegiatan yang sulit dan membutuhkan waktu. Dari uraian di atas sudah dijelaskan bahwa tugas-tugas yang harus dipenuhi guru baik yang berkaitan dengan siswa ataupun administrasi kelas sudah sangat banyak. Apabila dijalankan dengan sebenar-benarnya, mungkin guru tidak akan memiliki waktu bahkan untuk dirinya sendiri ataupun keluarganya. Sementara guru pun seorang manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Apalagi jika pembuatan karya tulis ini dijadikan salah satu syarat kenaikan pangkat. Bisa jadi akan banyak guru yang karirnya terhambat hanya karena permasalahan ini. Hal ini akan berbeda jika guru yang menganggap menulis adalah sebuah keharusan atau mungkin menjadi sebuah hobi.

Memperhatikan hambatan-hambatan di atas, maka perlu dipikirkan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dalam bidang pendidikan untuk mencarikan alternatif pemecahan yang tepat. Beberapa hal yang bisa dilakukan, diantaranya dengan mengurangi revisi kurikulum dalam kurun waktu yang terlalu pendek, membentuk dan mengaktifkan tim kerja minimal dari satuan pendidikan terdekat, penyediaan aplikasi penilaian yang siap saji, mengikuti workshop menulis, pelatihan manajemen waktu, dan sebagainya.

Bila hal ini bisa terwujud, para guru akan mampu menguasai hambatan-hambatan di atas dengan baik. Sehingga guru bisa mengemban segala tugasnya secara profesional dan tanpa beban. HIDUP GURU !!!!!

Penulis: Heni Pristianingsih (Guru SDN Negeri Tunjungsekar 4 Kota Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment