Program Literasi di Sekolah, Percepat Peningkatan Pencapaian Kompetensi

By Redaksi 14 Apr 2017, 14:23:27 WIB Artikel Ilmiah
Program Literasi di Sekolah, Percepat Peningkatan Pencapaian Kompetensi

Arti Literasi

Arti literasi dalam Kamus Besar bahasa Indonesia adalah kemampuan membaca dan menulis. Sekarang literasi memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam bentukan kata yang lain transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yangg satu ke abjad yang lain, yakni merubah bentuk tulisan ke bentuk tulisan yang lain yang semakna.

Menurut definisi dari UNESCO literasi merupakan kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan kemampuan berhitung melalui materi-materi tertulis dan variannya. Literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi mencakup bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat, terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Dapat disimpulkan bahwa literasi adalah kemampuan baca tulis dalam mengkomunikasikan sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan, bahasa dan budaya dalam suatu masyarakat.

Pentingnya Literasi

Martha C. Pennington (1996:186) mengatakan bahwa, secara fakta dokumen tertulis dapat survive lebih lama dibandingkan manusia itu sendiri. Hal ini karena bahasa tulisan mudah dipelihara dari generasi sesuatu ke generasi berikutnya. Pesan yang ada dalam tulisan tersebut tidak akan berubah. Terkadang, menggunakan bahasa tertulis dirasa lebih leluasa daripada bahasa lisan karena si penulis bebas dari kendala waktu dan kehadiran lawan komunikasinya, sehingga karya tulis merupakan cerminan dari taraf pengetahuan dan kemampuan bahasa penulisnya, karena karya tulis dihasilkan telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan pemantauan yang memadai (Tri Wahyu R.N:2008).

Demikian juga, guru memahami bahwa menulis sering berkembang secara simultan dan dapat membantu siswa menumbuhkan bakat dan minat belajar suatu bahasa yang menjadi kebanggaan siswa itu sendiri dan juga tentunya lembaga sekolah atau madrasah.

Guna menemukan generasi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam literasi diperlukan cara dan strategi alternatif yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang tengah menghadapi sindrom buta huruf yang kerapkali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional untuk bersaing di dunia internasional.

Literasi di Indonesia

Sederet nama seperti Pramoedya, Hamka, Rendra, Ayip Rosidi, dan Goenawan Mohammad adalah kaum intelektual yang membumikan gagasannya dengan pena. Dengan kata lain, mereka adalah tokoh intelektual yang menjadi budayawan yang dapat menggerakkan masyarakat melalui budaya literasi.

Menurut Suroso (Suroso, 2007:11), di Indonesia salah satu tantangan terbesar untuk mewujudkan bangsa yang berminat terhadap literasi adalah meninggalkan tradisi lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy).

Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), mencatat bahwa pada tahun 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Sementara itu, dari 30 negara, Indonesia masuk pada peringkat dua terbawah.

Ada tiga kategori besar masyarakat Indonesia, yakni masyarakat praliterasi, masyarakt literasi dan masyarakat posliterasi.

Masyarakat praliterasi yang hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media seperti buku, TV, internet dan lain-lain. Kalaupun mereka dapat mengakses tetapi tidak bisa mencernanya dengan mudah. Masyarakat literasi yang memiliki akses terhadap buku, tidak berarti tradisi baca-tulis dapat tumbuh dengan subur di kalangan ini. Masyarakat posliterasi yang memiliki akses buku dan teknologi informasi dan audio visual.

Perbandingannya dengan saat ini barangkali tidak berbeda jauh jika melihat indikator yang ada. Suatu tingkat literasi yang sangat ironis bila kita bercermin pada negara-negara tetangga di ASEAN yang sudah terlebih dulu bangkit dari keterpurukan peradaban.

Karena itu Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai pembelajaran di lembaga sekolah maupun perguruan tinggi.

Namun disinyalir bahwa tingkat literasi (khususnya dikalangan sekolah/madrasah) semakin tidak diminati, hal ini jangan sampai menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola sistem pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis-menulis.

Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam kurikulum 2013 edisi revisi 2016 mengembangkan Gerakan Literasi sekolah (GLS). Ini merupakan sebuah usaha yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai wadah/organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Sekolah memegang peran penting dalam menanamkan budaya literat kepada siswa. Untuk itu sekolah perlu dukungan terhadap pengembangan literasi. Ada tiga strategi yang dapat diterapkan sekolah untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah. Pertama, mengkondisikan lingkungan fisik sekolah. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain memajang karya siswa di seluruh area sekolah, seperti: koridor, kantor kepala sekolah dan kantor guru. Pemajangan karya tersebut dapat diganti/digilirkan secara rutin. Hal ini memungkinkan semua siswa memperoleh kesempatan untuk memajang karyanya.

Kedua, mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat. Strategi ini memungkinkan terbangunnya model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Penghargaan diberikan tidak hanya pada prestasi akademik tetapi juga sikap dan upaya siswa. Misalnya, sekolah memberi penghargaan kepada siswa yang tidak bernah absen, tidak pernah terlambat, dan sebagainya. Dengan demikian setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah disepanjang tahun pelajaran. Kegiatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk festifal buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan lain-lain. Beberapa program bidang pendidikan dasar ataupun menengah sudah mengakomodir ini dalam kegiatan O2SN ataupun FL2SN. Peran orang tua akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam mengembangkan budaya literasi.

Ketiga, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Untuk para pendidik dan tenaga kependidikan, perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan. Hal ini berguna untuk peningkatan pemahaman mereka tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya. Untuk siswa dapat diberikan kesempatan dengan kegiatan membaca dalam hati ataupun kegiatan membaca nyaring yang dilakukan selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Jika program ini dapat diterapkan diharapkan bangsa Indonesia dapat menemukan generasi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam literasi. Penguasaan literasi akan menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa.

Penulis: Siyohelpiyanti (Pengawas Sekolah Kabupaten Sijunjung)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment