Puisi-puisi Naufal Atha Haidarbahy

By Redaksi 01 Des 2017, 16:33:08 WIB Sastera
Puisi-puisi Naufal Atha Haidarbahy

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Dok. dakta.com)


Buram Jejak Kaki Dalam Sejarah

 

Mulut kita menganga lebih dari dua millenium

Berjalan memalingkan mata pada jejak kaki

Seperti air yang mengalir

 

Bersama bayang-bayang

Mengikuti tanpa menapakkan kaki

Seperti api yang berkobar

 

Kita membuka mulut

dan bersama bayang-bayang

Memalingkan mata sambil melompoh

Lalu air menggandeng api berjalan

Tinggallah abu yang tersisa

 

 

Kisah Panji-Panji Bulan Sabit

(11 September 1683)

 

Ambisi berubah

Pikiran Berubah

Juga langkah kavaleri berubah

Merotasikan balik

Dalam muncul gelapnya awan

Di ufuk horizon Eropa

 

Tumbuh dari negeri mesiu yang

Menghembuskan asap meriam

Menghembuskan bendera hijau Nabi

Menyua keangkuhan liga suci

 

Namun, apakah matahari terlalu malam untuk tersenyum?

Mengapa angin bosan menghembuskan bendera hijau Nabi?

Apakah kami lancang kepada langit dzulqo’dah hingga horizon Habsburg menggenapkan aubade persemakmuran?

 

Ketika Wina melompoh

Sehingga cakrawala Istanbul menggema

Diantara deretan Janissari

Membumbung tinggi hempasan langkahnya

Untuk terjaga di samping Golden Apple

Berselimut angin beratap bintang-bintang

Berhimpitan diantara bayonet

Genap aubade persemakmuran merangkul liga suci

Terus merangsek

Berpanji-panji dua kepala burung dengan nama keagungan

Menggelisahkan pelana-pelana kuda bendera bulan sabit

 

Pias,

Bendera sobek tertindih

Namun, ini akibat Kahlenberg terlalu sempit di mata bendera bulan sabit sehingga bendera persemakmuran menghembus balik asap meriam negeri mesiu itu

Masing-masing singa bulan sabit terpekur abadi

Menciptakan gelombang darah

Menerjang dan menyeret Kara Mustafa Pasha dengan tali dihantar keranda hitam menunggu di Belgrade karena ia terlanjur bersumpah pada Illahi

Ambisi berubah, pikiran berubah

Merotasikan balik

Tinta emas pena tercemar

Membikin kelam rupa catatan

Akhirnya panji-panji bulan sabit basah airmata, menghilang di kabut Eropa

                                                                                                                               

Naufal Atha Haidarbahy (Kelas XI RPL 4 SMK Telkom Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment