Saiful Rahmad, Sarjana Pendidikan yang Memilih Bertani

By Redaksi 10 Mei 2017, 10:05:29 WIB Profil Tokoh
Saiful Rahmad, Sarjana Pendidikan yang Memilih Bertani

Keterangan Gambar : Saiful Rahmad, S.Pd.I (Dok. Pribadi)


WPdotCOM -- Saiful Rahmad, seorang pemuda berusia 30 tahun lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat jurusan Pendidikan Agama Islam itu, kini lebih memilih untuk mengembangkan usaha pertaniannya.

Bukan kini saja, sudah sejak lama ia bergelut dengan pengolahan tanah dan tanaman pertanian. Sejak masih di sekolah menengah pertama, pemuda yang akrab dipanggil Saiful itu telah mahir dengan seluk-beluk usaha pertanian.

Pengalamannya bertani, yang notabene hanya berasal dari keturunan orang tuanya yang juga petani itu, tidak membuatnya berkutat dengan pola pertanian konvensional. Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengelola sebuah yayasan pendidikan Islam di Andaleh Kabupaten Tanahdatar, Saiful terus menggenjot usaha pertaniannya dengan berbagai trik.

“Saat ini saya menanam jahe. Luas lahan yang digarap tidak begitu besar. Hanya sekitar satu hektar lahan di tahun ini yang bisa kita garap. Pengerjaannya pun tidak saya lakukan dengan tangan sendiri, namun memanfaatkan tenaga kerja siap pakai yang selalu tersedia di daerah ini secara berkelompok. Ada sepuluh orang tenaga kerja yang kita manfaatkan untuk membersihkan dan menyiangi lahan. Mereka yang kita beri arahan dan tugas pengelolaan areal pertanian yang kini sudah memasuki bulan kelima.”

Suami dari Elvira Anggraini dan ayah dari seorang putra ini, memang dikenal sebagai pemuda yang aktif dalam berbagai bidang. Di bidang pertanian, khususnya kebun jahe yang sedang digarapnya itu, setiap lini pengetahuan tentang tanamannya selalu dicari dan menjadi asupan ‘gizi’ bagi perkembangan usahanya.

“Sebagai seorang petani, tentunya harus memiliki paradigma yang lebih maju dibanding masyarakat petani konvensional. Kita harus lebih mengenali dan mendalami seluk-beluk usaha yang sedang kita jalankan dan jadikan profesi.”

Menurut pemuda yang juga mantan pesilat ini, jahe sebagai tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Sejak dahulu, jahe telah dikenal sebagai tumbuhan rempah yang banyak peminatnya di seluruh daerah. Tanaman berbentuk jemari yang menggembung di ruas tengahnya yang bernama latin Zingiber Officinalle tersebut, ditanam berupa rumpun berbatang semu. Menurut data, jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), satu keluarna dengan Temu Lawak, (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain.

Tanaman dengan rasa pedas yang disebabkan kandungan senyawa keton dan zingeron ini, di tangan Saiful  ternyata memiliki arti yang luar biasa. Sejak beberapa tahun lalu, ia memilih jahe sebagai tanaman di kebunnya yang terletak di lereng Gunung Marapi, salah satu gunung berapi aktif di Ranah Minang Sumatera Barat. Lokasi kebun jahenya yang terletak di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan sekitar 2000 – 3000 melimeter per tahun itu, sangat cocok untuk pengembangan pertanian jahe ini.

“Tanaman Jahe ada tiga jenis, jahe putih, kuning dan merah. Yang saya tanam ini adalah jahe kuning. Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

Menurutnya lagi, dalam proses perawatan tanaman jahe, pada umur dua sampai tujuh bulan atau lebih, rumpun jahe memerlukan sinar matahari langsung. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. Suhu udara juga harus diperhatikan untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C.

Tentang bibit jahe yang dijadikannya sebagai bahan utama perkebunannya saat ini, Saiful tidak perlu mencari dan membeli dari pihak lain. “Untuk bibit, mesti dipilih yang berkualitas agar persentase fisiologiknya tinggi. Bibit dipilih yang bebas hama dan penyakit. Cara menemukan bibit seperti itu, tidak bisa dibeli dari pasar, tapi langsung dari kebun jahe yang ada di daerah. Mengenai umur tanaman yang dijadikan bibit juga penting diperhatikan. Biasanya, kita selalu menggunakan bibit yang sudah berumur sembilan sampai sepuluh bulan. Lalu, bibit itu disemai di tanah yang subur dan terpilih, tidak bisa di sembarang lokasi saja. Media tanam yang subur, gembur dan banyak mengandung humus adalah lokasi yang terbaik. Begitu pula dengan tingkat keasaman tanah yang berkisar antara 4,3 hingga 7,4 adalah pilihan utama.”

Kini, Saiful tengah menunggu masa panen yang tinggal tiga hingga empat bulan lagi. Dengan modal awal sekitar sepuluh juta, omsetnya akan berkembang setelah panen yang diperkirakan mencapai satu ton itu sampai enam kali lipat dari modal awal. (*)

 

Penulis: Nova Indra




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment