Sekolah Sebagai Wahana Menumbuhkan Potensi Anak

By Redaksi 28 Agu 2017, 16:41:31 WIB Artikel Ilmiah
Sekolah Sebagai Wahana Menumbuhkan Potensi Anak

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber Google)


WPdotCOM -- Berbagai aktifitas mulai dari media workshop, seminar, pelatihan, dan bahkan uji kompetensi guru telah dilakukan pemerintah dalam upaya pengembangan mutu pendidikan di Indonesia.

Tugas guru semakin kompleks dengan adanya bentuk penilaian terhadap siswa yang meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan menyertakan kriteria penilaian dan aspek-aspeknya secara mendetail. Selain itu, seorang guru juga dituntut untuk melengkapi tugas-tugas administrasi pembelajaran yang semakin kompleks.

Lembaga sekolah berusaha untuk berkompetisi menghasilkan para peserta didik yang memiliki nilai UN tinggi khususnya dalam bidang yang diujikan seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam.  Sehingga apabila suatu sekolah mendapatkan peringkat yang rendah akan menjadi suatu tolok ukur ketidakberhasilan sekolah dalam menuntaskan peserta didiknya.

Pertanyaan yang mungkin muncul yaitu mutu pendidikan yang seperti apakah yang hendak diwujudkan di negeri ini? Apakah kesuksesan seseorang kelak akan ditentukan oleh nilai Ujian Nasional? Berapa banyak lulusan Perguruan Tinggi yang mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka, karena setelah lulus pun mereka masih belum mengetahui potensi dan kemampuan yang ada pada diri mereka sendiri?

Seringkali kita disodori dengan kata-kata bahwa “setiap individu adalah unik”, begitu pula dengan peserta didik kita. Sehingga siapa saja yang berprofesi sebagai guru harus mendidik para siswa dengan ramah, tanpa kekerasan, setulus hati, menjadi teladan dan lain-lain sehingga para anak didik itu menjadi merasa betah dan nyaman berada di sekolah.

Peran seorang guru sangatlah penting dalam hal ini. Di satu sisi guru diharapkan dapat memahami karakter, bakat, dan minat masing-masing anak, sementara di sisi lain guru juga harus membekali mereka dengan berbagai muatan pelajaran sebagai syarat kelulusan dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Suka atau tidak suka, punya bakat atau tidak, mampu atau tidak mampu, yang pasti bahwa semua peserta didik diharuskan untuk lulus ujian terutama pada beberapa nilai muatan pelajaran yang diujikan dengan nilai yang minimal sesuai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Bagi siswa yang memiliki kemampuan logika atau bahasa, besar kemungkinan mereka akan berhasil menyelesaikan ujian tersebut. Namun bagi siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik ataupun musikal, akan menjadi sesuatu hal yang mungkin kurang menyenangkan apabila mereka harus berada di dalam kelas dengan bermain angka ataupun membaca teks bacaan yang panjang dan agak membingungkan. Pertanyaan yang muncul adalah masihkah kita menganggap bahwa pendidikan  semacam ini sudah sesuai dengan cara mendidik siswa berdasarkan pada keunikan yang dimiliki masing-masing anak ?

Bagaimanapun, pendidikan kita, secara umum, masih menonjolkan kemampuan logis dan akademik saja. Siswa dikatakan sukses jika memiliki nilai rapor yang bagus atau memiliki nilai UN yang tinggi. Sekali lagi, yang akan diuntungkan adalah para siswa yang memiliki kemampuan logis dan linguistik. Bagaimana dengan mereka yang memiliki kecerdasan kinestetik, interpersonal, dan yang lainnya? Memang mereka bisa mendapatkan jalur prestasi khusus, tetapi peluang yang diberikan sangat sedikit.

Lebih parah lagi, mungkin ada sebagian sekolah yang bahkan tidak memberikan ijin kepada para siswanya untuk mengikuti pertandingan khususnya olahraga, selain yang sudah menjadi program Dinas Pendidikan karena khawatir akan mengganggu kegiatan pembelajaran mereka di sekolah. Padahal, keberhasilan seorang peserta didik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan logika saja. Bagaimana seorang anak bisa mengembangkan bakat kinestetiknya sebagai perenang apabila dia tidak mendapatkan ijin untuk mengasah kemampuan dan memperbanyak jam terbangnya?

Sekolah Dasar sebagai lembaga pendidikan awal dalam membentuk karakter manusia kecil yang kelak akan menjadi manusia besar (hebat) memiliki peranan yang cukup penting untuk membentuk pribadi-pribadi yang nanti bisa membangun bangsa ini baik secara moral, material, dan spiritual. Oleh karena itu, pada tingkat pendidikan ini sangat diperlukan berbagai inovasi dan kreatifitas yang bisa membawa perubahan dan perkembangan peserta didiknya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencari dan menumbuhkan bakat alami masing-masing anak. Dengan memberikan dukungan terhadap potensi yang dimiliki anak didik, tidak menutup kemungkinan bahwa kelak kita akan memiliki banyak generasi emas yang menjadi para atlet tangguh di bidang olahraga, para seniman yang kreatif dan inovatif, para motivator yang mumpuni, para tokoh agama yang mampu mendamaikan umat meskipun berbeda keyakinan dan lain-lain.

Sekolah Dasar yang berorientasi pada potensi alami peserta didik bisa dijadikan salah satu alternatif dalam mengupayakan perkembangan jiwa peserta didik guna mencapai kemampuan yang optimal sesuai dengan bakat dan minatnya melalui tes psikologis, sidik jari, fisiologis dan lain-lain yang melibatkan kerjasama konstruktif antara pihak sekolah, lembaga terkait, dan orang tua. Dengan demikian, lembaga sekolah bisa mengetahui dan mengarahkan potensi anak semenjak dini.

Pada sistem pendidikan ini, semua peserta didik diberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi diri mereka semaksimal mungkin. Selain tenaga pendidik yang profesional, tenaga-tenaga praktisi yang memiliki perhatian pada dunia pendidikan juga perlu dilibatkan. Sebagai contoh seorang guru olahraga yang memiliki dasar atau latar belakang sebagai  atlet akan lebih memiliki ilmu dan pengalaman yang matang dan bisa diaplikasikan kepada peserta didik, dibandingkan dengan mereka yang hanya lulusan pendidikan olahraga namun tidak punya latar belakang tersebut.

Pada mata pelajaran umum seperti Agama dan Pendidikan Budi Pekerti siswa diberikan materi dan muatan yang sesuai dengan keyakinan masing-masing dan tanggung-jawab sebagai sesuai dengan kedudukannya sebagai masyarakat dan warga negara. Namun pada mata pelajaran khusus, siswa diberikan materi yang sesuai dengan latar belakang bakat dan minat masing-masing.

Dengan sistem pembelajaran berbasis bakat, minat, dan potensi siswa ini, diharapkan para siswa akan menerima pelayanan pendidikan yang jauh lebih menarik dan berwawasan ke depan karena sesuai dengan passion peserta didik itu sendiri.

Perlu waktu dan pertimbangan yang sangat panjang dan matang untuk menuju sisetem pendidikan yang seperti ini di negara kita. Namun setidaknya artikel ini bisa memberikan sebuah wacana bahwa kesuksesan itu bukan berasal dari nilai akademik saja. Selain itu, lembaga sekolah diharapkan akan memberikan dukungan penuh kepada peserta didiknya untuk mengembangkan potensi diri, sehingga ada keseimbangan yang diharapkan antara siswa yang berpotensi akademik dan yang berpotensi non-akademik. Sehingga di masa yang akan datang, Indonesia benar-benar memiliki generasi penerus bangsa yang memang ahli dan mumpuni di bidangnya karena adanya sistem pendidikan yang memberikan toleransi perbedaan kemampuan peserta didik dan memandangnya sebagai sebuah potensi yang harus dibina, diarahkan, dan dikembangkan sesuai bidangnya.

Penulis: Heni Pristianingsih (Guru SDN Negeri Tunjungsekar 4 Kota Malang)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment