Self-Image versus Self-Esteem, Dua Sisi yang Saling Mempengaruhi Identitas

By Redaksi 22 Jul 2018, 08:26:32 WIB Artikel Ilmiah
Self-Image versus Self-Esteem, Dua Sisi yang Saling Mempengaruhi Identitas

Keterangan Gambar : Ilustrasi (sumber gambar: study.com)


WPdotCOM -- Menjalani kehidupan, sebagai manusia modern dengan segala keahlian dan keterampilan, kadang memang membuat kita serba salah menyikapi dan mengambil tindakan. Ada saja yang kita temui di keseharian, mungkin bertolak belakang dengan pola pikir modern dan maju yang telah kita tempa sedemikian rupa melalui lembaga, organisasi, profesi, maupun keterampilan otodidak yang kita dapati. Di saat itu, pemberontakan demi pemberontakan terjadi di benak yang kita sanjung sendiri.

Tidak dapat dipungkiri siapapun kita saat ini, semua itu pernah kita rasa dan lalui. Bahkan melihat sesuatu yang berlawanan secara ide dengan pemikiran, kita lantas pasang kuda-kuda untuk bersiap melawan dengan beragam argumen mutakhir yang kita punyai. Kita menjadi seperti orang yang maha benar. Pendapat kita akan menjadi ukuran untuk nilai sebuah persoalan, nilai sebuah kemajuan. Bahkan kadang, kita seolah sepakat memberikan nilai terendah, hanya karena lingkungan yang dihadapi bukan berasal dari komunitas sendiri.

Begitulah saat seorang tokoh muda yang baru tumbuh menyikapi lingkungan. Muda dalam artian bukan hanya tentang usia, bisa pula muda karena baru saja mendapatkan sesuatu yang kita rasa orang lain belum tentu memiliki. Kita menjadi begitu terobsesi menampilkan diri sebagai yang terbaik. Bagi kita, semua orang yang ditemui hanyalah manusia rendahan dan tidak tahu apa-apa dibanding diri sendiri yang sedang melayang tinggi ke awang-awang.

Demikian pula ketika bergaul secara pribadi dengan manusia lain, komunikasi yang kita tampilkan seolah sebagai orang yang memiliki kemampuan luarbiasa. Ibarat seorang pendekar silat yang baru saja selesai belajar dan dibolehkan turun gunung oleh sang guru. Kita menantang semua orang, dan menganggap semuanya dapat dikalahkan.

Wahai Para Aktivis,

Citra diri yang kita tampilkan kadang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat sosial yang penuh aturan dan tatakrama. Kita yang merasa telah menjadi besar karena dididik oleh naungan lembaga dan profesi selama ini, belum tentu di masyarakat yang heterogen dapat diterima begitu saja. Ketahuilah, bahwa antara pengalaman, keahlian dan keterampilan yang kita timba, bukan ukuran untuk menasbihkan diri pada ketokohan yang lebih dibanding orang lain. Pelajaran tentang hidup belum tentu kita miliki, sementara pelajaran itulah yang akan membawa kita menjadi bagian dari masyarakat sebenarnya.

Wahai Para Aktivis yang keberadaanmu menjadi harapan perbaikan negeri..

Jangan tonjolkan dirimu dengan citra yang “wah” di hadapan kami para orangtua yang telah mengenyam pahitnya kehidupan. Kepahitan dan kesulitan bernama hidup, telah mengajarkan pada kami tentang arti sebuah keniscayaan membunuh keegoisan dalam diri. Tidak layak bila engkau, orang muda yang tengah menimba pengetahuan di belantara kehidupan, menepuk dada di hadapan kami yang telah lama berjuang menerima perilaku orang-orang sepertimu, orang-orang yang hanya mampu bertolak pinggang, berdiskusi di ruangan-ruangan berpendingin dan tertata rapi. Makan dari uang saku yang kau bawa dari rumah orangtua, yang kadang dipinjam dari tetangga dengan airmata demi keberhasilanmu.

Kami bangga keberadaanmu menjadi perbincangan banyak orang, namun kami berkeluh kesah sesama orangtua, saat eksistensimu mulai diragukan. Ketika keterampilan dan keahlianmu membuat karakter baru yang tidak dapat diterima di tengah khalayak. Jadilah indah dalam pandangan semua orang. Citrakan dirimu sebagai orang muda yang pantas memperoleh hadiah kasih sayang karena keterampilanmu memenangkan hati kami.

Untuk kalian Aktivis Perempuan

Citra dirimu melekat dengan harga diri yang bila tidak pandai kau tempatkan, akan menjatuhkanmu ke dalam jurang kenistaan yang sangat dalam. Sulit bagimu bangkit dan menjamah eksistensi sebenarnya sebagai perempuan yang akan jadi ibu dari anak-anak kami.

Lihatlah, betapa banyak kejadian yang dipertontonkan di keseharian kita. Seorang perempuan muda, cantik dan enerjik, tampil di berbagai iven bersama para laki-laki yang tidak satupun tahu, luruskah niat mereka saat mencium aroma tubuhmu yang masih muda. Banyak pula di antara kami laki-laki, yang enggan untuk mendekati dan meminangmu menjadi calon Malaikat Penjaga keturunan kami. Bukan karena kami tidak menyukai kecantikanmu, tapi karena kami telah diliputi keraguan, apakah kalian mampu menjadi ibu yang sebenarnya.

Bila saat kau mulai dekat dengan seorang lelaki, entah istilah pacaran atau yang sering kalian sebut membangun silaturrahmi. Ketahuilah, apakah mereka hanya menjadikanmu mainan sesaat, karena terpesona melihat indahnya lekuk tubuhmu, atau merdunya suaramu saat kau berorasi tentang kebebasan berpendapat dan emansipasi. Kadang di saat kau berada dalam pelukannya, mereka sedang menanti perempuan lain yang lebih hebat darimu.

Kadang kau pun begitu pula, dengan alasan senioritas, kau pinggirkan ikhlasnya seorang di antara kami yang mementingkanmu lebih dari dirinya. Saat itu, kau duakan dia dengan alasan, “selagi masih bisa memilih, kenapa harus bersandar pada satu lengan.” Dengan begitu, apakah kami para laki-laki yang masih berpegang pada jalan Ilahi akan datang meminangmu? Tentunya kami akan berpikir kembali, boleh jadi kami memilihmu di sisi duniawi, namun untuk menjadi pendamping salah satu di antara kami, berpuluh kali akan kami pertimbangkan untuk memilih perempuan lain.

Wahai Para Aktivis,

Hidup bukanlah hidup bila tiada pelajaran yang dijadikan sebagai tuntunan dan pengalaman. Jadikanlah pedoman bagimu, kisah-kisah mereka yang terbuang, bukan karena mereka tidak cerdas dan pintar, tapi karena mereka tidak lagi memiliki harga diri di depan masyarakat.

Penulis: Nova Indra (pimpinan lembaga P3SDM Melati)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment