Dampak Konten Porno Bagi Siswa

WPdotCOM — Awal tahun ajaran merupakan suatu tantangan bagiku. Murid-murid baru yang masing-masing karakternya belum aku tahu.

Sebagai guru kewajibanku memahaminya satu-persatu. Hal ini untuk mempermudah langkahku. Metode apakah yang nantinya aku berlakukan pada pembelajaran di kelasku.

Memahami karakteristik siswa tidak dapat dilakukan dalam sekejap mata. Perlu waktu untuk mengenalnya dengan sejuta warna tingkah laku. Apalagi dengan 32 siswa tentunya bukan jumlah yang sedikit. Yang pertama aku lakukan adalah menghafal nama. Hari perdana masuk sekolah aku panggil nama mereka. Aku tanya keluarga dan alamat rumahnya. Hari kedua aku panggil beberapa nama yang sudah aku hafal, demikian juga hari ketiga dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai hafal nama murid-muridku.

Sembari menghafal nama, aku juga menganalisis karakter mereka. Dari sejumlah siswa di kelas terdapat dua siswa yang mengusik hatiku. Pada saat baris tidak memperhatikan instruksi pimpinan regu. Setiap waktu pembelajaran mereka lebih banyak termenung. Pada waktu diajak berkomunikasi terlihat tidak fokus. Pandangan mata juga terlihat kosong. Mengerjakan tugas tidak pernah selesai pada waktunya. Akhirnya aku posisikan tempat duduk mereka berdua tepat di depan mejaku. Hal ini aku lakukan agar pengawasanku lebih mudah.

Terketuk hati ini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba bertanya riwayat mereka kepada guru kelas sebelumnya. Satu fakta yang membuatku hatiku teriris. Ternyata kedua siswaku tersebut pernah kepergok menonton video porno. “Astaghfirullah…..” Hati ini rasanya ingin menjerit.

Sedemikian dashyatnya efek video porno terhadap anak-anak. Aku rasakan hampir setiap waktu tatapan mata mereka kosong. Pelajaran dan masukan-masukan yang aku berikan seperti terlewat begitu saja. Mereka juga sering menyendiri, jarang terlihat bermain berkumpul teman lainnya.

Resah hati ini mencari jalan keluar mengembalikan perilaku mereka seperti sediakala. Terpikir untuk memanggil orang tua. Namun rencana ini masih aku tunda. Aku coba dekati mereka perlahan.  Tiap malam mencari artikel-artikel di internet cara mengatasi masalah ini. Bertanya kepada teman-teman seprofesi yang sudah berpengalaman tak lupa kulakukan. Aku gali informasi selengkap-lengkapnya dari guru kelas di tingkat sebelumnya. Namun usahaku masih belum bisa maksimal karena tugas-tugas lain yang harus aku selesaikan.

Aku merenung, salah siapa hal ini bisa terjadi. Salah orang tuakah yang terlalu bebas memberi kesempatan bermain gadget. Salah gurukah yang belum maksimal mendidik. Atau salah pemerintah yang melakukan pembiaran terhadap penggunaan media sosial. Tentunya ketiga-tiganya memberi peran terhadap masalah ini.

Kutelusuri riwayat kedua orangnya. Ternyata ibu dari salah satu mereka bekerja berangkat pagi selepas subuh dan pulang malam hari. Miris memang miris kenyataan ini. Tak bisa dipungkiri hal itu mungkin dilakukan karena tuntutan ekonomi. Akhirnya anak yang menjadi korban. Berbapak seolah tak berbapak, beribu seolah tidak beribu. Begitu ungkapan ibu Elly Risman yang pernah aku dengar.

Aku sadar, seorang guru juga merupakan seorang ibu bagi siswanya. Ingin rasanya menimba ilmu-ilmu parenting yang dulu belum pernah aku ikuti. Ingin hati membimbing siswa-siswaku dengan bekal yang mencukupi. Namun kendala waktu yang sulit teratasi.

Sebagai orang tua dan guru tentulah harus peka dan waspada. Jangan sampai kasus seperti ini terulang pada anak dan siswa kita. Pengawasan terhadap mereka perlu ditingkatkan. Terutama untuk siswa yang tingkah laku dan gerak-geriknya di luar kebiasaan.

Perlu dipikirkan jalan keluar atas permasalahan ini. Adanya sinergi antara orang tua dan pihak sekolah. Orang tua harus melakukan pengawasan lebih ketat terhadap penggunaan gadget. Guru dan pihak sekolah harus mengeluarkan aturan larangan membawa barang tersebut ke sekolah. Selain itu guru juga harus memberi pendidikan bahaya gadget. Jika perlu pemerintah harus mengambil langkah tegas. Akun-akun yang menayangkan tontonan tidak layak harus diblokir.

Ironis memang keadaan negeri ini. Di tengah kemajuan teknologi justru membawa dampak yang dapat merusak generasi. Sampai kapan kapan permasalahan ini dibiarkan. Satu kali tontonan membawa efek negatif luar biasa dan panjang. Dapat dibayangkan kalau hal tersebut dilakukan berulang-ulang. Selain efek yang terlihat di sekolah, tak terbayang masalah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Semoga dengan langkah yang aku jalani segera membawa perubahan yang positif dan pasti. Amanah panjang masih menanti. Menata generasi bangsa yang berbudi pekerti. Pemerintah pun segeralah sadar diri akan bahaya yang menanti. Rusaknya generasi bangsa yang seharusnya menjadi pondasi majunya negeri.

Penulis: Pipit Pudji Astutik, M.Pd., M.M. (Guru SD Negeri Tunjungsekar 3 Kota Malang)

Tinggalkan Balasan