Mendidik dengan Hati, Ciptakan Peserta Didik Berkarakter

WPdotCOM — Awal tahun pelajaran tepatnya bulan Juli pagi begitu cerah.  Aku melangkahkan kaki ke sekolah dan masuk ke ruang kelas VI. Di dalam kelas itu, kulihat anak-anak yang lucu sedang duduk terdiam tanpa kata. Suasana tegang, hanya memandang langkahku. Dalam hati kecilku bertanya, kenapa anak-anak tidak ada yang menyapaku?.

Aku awali pertemuan  dengan salam untuk memecah ketegangan, masih saja belum ada yang berubah. Aku bertanya pada mereka “bagaimana kabar hari ini?” Dengan semangat mereka menjawab “Alhamdulillah, sukses luar biasa”

Pandangan pertama begitu menegangkan, selanjutnya aku mulai memperkenalkan diri dengan sedikit gurauan. Mereka juga mengenalkan satu persatu alamat rumah, jumlah saudara dan pekerjaan orang tua. Suasana kelas yang awalnya tegang sekarang sudah mulai banyak canda dan tawa.

Salah satu siswa yang menjadi perhatianku, dia seorang anak laki-laki bernama Eka wajahnya pucat, terlihat ingus sedikit keluar dari hidungnya. Aku dekati dan bertanya padanya, “sakit ya, nak?” Dia menjawab dengan lemah “Iya, bu” Aku ambilkan tisu untuk mengusap ingus yang ada di hidungnya.

Belajar di sekolah sudah berjalan kurang lebih 2 minggu, Eka hari ini tidak masuk karena sakit panas. Besoknya dia masuk dengan wajah yang lebih semangat dari hari-hari sebelumnya. “Sudah sehat sayang ?” Aku bertanya, dia mengangguk dan berkata “sudah bu”.

Kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik di awal Agustus sekolahku menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Tepatnya hari Jumat Eka mengikuti shalat Jumat di Masjid H. Agus Salim didampingi oleh bapak-bapak guru. Sepulang dari masjid salah satu guru menghampiriku dan menyampaikan informasi bahwa Eka sakit panas dan gemetaran badannya. Aku datangi Eka kusentuh dahinya, panas sekali dan wajahnya pucat dia menangis melihatku dan berkata “sakit bu” Aku antar pulang sampai ketemu dengan ibunya.

Tampak Ibu dan bayinya terlihat capek sedang tidur di ruang tamu dengan kasur yang langsung menempel dengan lantai. Eka masuk rumah membuka pintu sambil berteriak “Ibuk-ibuk, onok bu Lailul“ yang artinya“ ibu-ibu ada bu lailul” Ibunya dengan segera bangun dan duduk di karpet ada mainan anak-anak yang berantakan, dengan mencari sela-sela aku mencari tempat untuk aku duduki.

Penulis: Lailul Indrawati (Guru SD Tunjungsekar 3 Kota Malang)

Tinggalkan Balasan