Mendidik dengan Keikhlasan, Demi Generasi Terdepan

WPdotCOM — Awal tahun pelajaran ini menjadi moment yang sangat menyenangkan. Hal itu dikarenakan saya terbebas dari tugas mengajar kelas enam, yang bertahun-tahun kujalani dengan banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran.

Hari ini aku ke sekolah dengan perasaan lega, senang, bahkan sambil tersenyum sendiri. Dalam benak ini penuh harap, angan-angan akan menghadapi anak yang masih kecil, tentunya lucu, polos serta apa adanya. Sudah bisa kubayangkan pasti menyenangkan.

Sesampai di sekolah memasuki pintu gerbang, ku hentikan dan kuparkir kendaraan. Masih tetap penuh senyum, saat itu teman guru sudah di ruangan. “Assalamualaikum…” sambil berjabat tangan menyambut kedatanganku di hari pertama sekolah setelah lebaran ini.

Bel sekolah berbunyi, semua guru bergegas ke kelas masing-masing termasuk diriku. Anak-anak masih berbaris di halaman, kutunggu masuk satu persatu, duduk sesuai keinginannya. Sebelum aku menyapa, mereka lebih dulu mengucapkan salam yang kujawab dengan penuh semangat.

Suasana saat itu masih tertib. Kusapa mereka, “apa kabar nak?” Alhamdulillah…sukses, luar biasa….” Jawaban mereka sungguh bersemangat seperti diriku saat itu. “Kabar yang lain?” Mereka serentak menjawab, “senang bu…” Kutanya lagi, “ apa yang membuatmu senang?”  Tanpa pikir panjang, Haidar muridku menjawab, “uangku banyak bu…”  Semua menyatakan reasa senangnya karena kelas 4 yang mengajar tahun ini adalah bu Wiji. Terima kasih bisa menerima ibu. Aku tersanjung dengan keterbukaan dan kepolosan mereka.

Setelah melafaskan Asma Allah, berdoa, membaca visi dan misi, serta menyanyi lagu Indonesia Raya dan menghormat bendera, aku bicara di depan mereka. “Anak-anak, adakah diantara kamu yang belum kenal bu guru?” Serentak mereka menjawab, “sudah kenal buuu..” Baik mari kita awali hari ini dengan mendengar sedikit tentang kisah “Si Anak Desa” yang bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna.

Saat itu umurnya masih seumuran kamu, ia diajari oleh seorang guru, Bu Yati namanya. Yang menjadi kesan saat itu, beliau sosok guru yang penuh kasih sayang, sabar, dan amat telaten menghadapi murid yang lambat seperti dirinya. Si Anak Desa pun bergumam dalam hati, “aku tidak akan malas lagi.”

Seandainya aku besar nanti, aku ingin menjadi seorang guru seperti Bu Yati, sosok yang santun, ucapannya berwibawa penuh makna, pesan-pesanya menyentuh jiwa, demikian Si Anak Desa membatin. Ia pun berjanji, dan ingin bercita-cita menjadi guru. Ia ingin mengisi hari dengan giat belajar, ingin ikut mencerdaskan anak Bangsa, yang tentunya akan rajin membimbing, mengarahkan agar anak-anak ibu sukses dikemudian hari. Amiin…. ujarnya dalam hati.

Setelah kisah yang kuceritakan itu, aku pun mulai memberi masukan pada siswaku. “Anak-anak, mari kita sepakati, maukah kalian maju bersama, belajar dengan penuh semangat, agar kelak dikemudian hari bisa meraih cita-cita, menjadi anak  yang berhasil, berguna bagi dirimu sendiri, orang tua, Agama, Bangsa dan Negara? Mereka semua kompak menjawab, “mauu.” Gemuruh suara jawabannya mereka membuat semangatku makin menggebu. “Siswaku, kalianlah harapan bangsa dan agama. Aku akan mendidikmu dengan seluruh keikhlasanku.

Penulis: Wiji Astuti (Guru SD Negeri Tujungsekar 3 Kota Malang)

Tinggalkan Balasan