Rutinitas Kelas Pagi Hari, Ringan Tapi Bermakna

WPdotCOM — Bel berbunyi pukul 06.45, anak-anak kemudian berbaris di depan kelas masing-masing. Ketua kelas menyiapkan dengan didampingi guru kelasnya. Setelah disiapkan, bagi barisan yang paling rapi ditunjuk oleh ketua kelasnya masuk terlebih dahulu, kemudian barisan berikutnya.

Setelah siswa masuk, anak-anak menyiapkan Asmaul Husna di mejanya masing-masing untuk berdoa bersama dari kelas 1 hingga kelas 6 yang dipandu dari kantor. Selama berdoa siswa dengan tertib mengikuti bacaan Asmaul Husna dan selanjutnya. Namun ada saja beberapa anak yang tidak bisa tertib selalu mengganggu teman yang di sampingnya.

Selesai berdoa, semua siswa berdiri untuk memberi salam kepada guru dan penghormatan pada bendera sang merah putih dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia raya. Setelah itu melanjutkan  kegiatan literasi, yang sudah selesai satu buku, dilanjutkan dengan membuat catatan ringkasan dari materi yang telah dibacanya.

Waktu untuk kegiatan literasi rutin selama 15 menit sudah selesai, guru mengabsen siswa- siswinya. “Nah, sekarang dengarkan ibu. Sebelum kita mulai pembelajaran, mari kita menyanyikan lagu berjudul  Aku Anak Sehat.

Setelah anak-anak bernyanyi bersama, guru pun bertanya siapa diantara mereka berangkat  sekolah tanpa pamit dengan orang tua? Beragam jawabannya, “saya salim bu,” ada yang dengan polos menjawab, “saya tidak bu.” Guru pun bertanya, “Kenapa kamu tidak pamitan?” Siswa itu menjawab dengan ringan, “saya lupa bu.”

Tentunya sebagai seorang guru akan memilih cara paling baik untuk mendidik. Mendapati siswa yang belum terbiasa pamitan kepada orang tuanya di rumah, akan selalu disampaikan “besok kalau berangkat sekolah tidak boleh lupa lagi, harus pamit atau salim.”

Guru bertanya lagi, “siapa tadi yang tidak sarapan?” Pertanyaan ini sedikit sepele bagi sebagian orang. Namun akan sangat besar dampaknya bagi kelangsungan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menjawab pertanyaan itu, sebagia siswa ada yang menjawab bahwa mereka telah sarapan, sebagian menjawab belum dengan beragam alasan.

Sekelumit uraian di atas, adalah kebiasaan dan rutinitas pagi hari di kelas. Bagi seorang pendidik tentunya ada alasan yang kuat. Bahkan untuk sekedar bertanya kepada siswanya tentang pamitan di rumah, atau mengenai sarapan pagi siswanya.

Hal itu kiranya tidak mengada-ada. Pendekatan personal kepada siswa, menjadi salah satu penentu tingkat pencapaian belajar di kelas. Satu hari penuh siswa akan berhadapan dengan guru, bila guru tidak mampu membangun hubungan yang membuat siswa nyaman, dipastikan akan berdampak pada tingkat kegagalan yang semakin tinggi dalam kegiatan belajara mengajar.

Dampaknya bisa saja siswa akan malas belajar karena komunikasi guru yang tidak mengena di hati siswa. Selain itu, juga akan berakibat pada jauhnya jarak komunikasi yang hanya bersifat formal.

Mendidik, ternyata bukan saja persoalan mentransfer pengetahuan, namun sekaligus membangun jembatan hati. Bila ini sudah dilakukan, dapat diprediksi akan terbentuk suasana kelas belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Penulis: Umi Khoiriah (Guru SD Negeri Tunjungsekar 3 Kota Malang)

Tinggalkan Balasan