oleh

Perempuan Bergamis Merah

Perjalanan ini kian panjang memasuki lorong waktu. Entah dimana ujungnya. Gelap, tiada cahaya seperti gemerlap di luar sana. Aku hanya bisa terdiam di sini. Melangkah gontai, menyusuri dan menikmati setiap detak waktu yang berjalan lambat.

Ini adalah hidup. Penuh perumpamaan. Seperti nyanyian burung senja menjelang bedug Magrib tiba, melengking seolah tak rela kegelapan merampas mentari yang masih garang menyinari. Ya, hidup hanya sebuah proses perubahan demi perubahan, kadang ada terang, kadang gelap, seperti lorong waktu yang kini kulalui.

Bagiku, hidup hanyalah persoalan mudah. Dengan segala yang diberi Allah padaku, semua itu sudah lebih dari cukup untuk mempersiapkan kehidupan di dunia, dan menyongsong akhirat yang pasti saja datang suatu ketika.

Begitu juga dengan hari ini. Kembali aku ada di sini untukmu, untuk merajut beribu harap yang tak kunjung nyata. Inilah takdir yang sedang kujalani. Tidak sedikitpun ada keraguan dalam diriku untuk menempuh hidup yang seperti ini.

Namun, cinta bukanlah segalanya untuk menatap masa depan. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana cinta ini kulalui bersamamu. Entah itu sebuah kesalahan, atau hanya persoalan waktu yang kadang tidak berpihak padaku.

Lama sebelum ini, telah kuutarakan niat untuk menitipkan hari tuaku padamu. Hari dimana kita tidak mungkin lagi untuk mampu seperti sekarang. Tidak mampu lagi berjanji untuk sesuatu yang membutuhkan waktu panjang. Karena adatnya, semakin tua, kita semakin dekat pada kematian.

Ingatkah kau, betapa rinduku pada saat-saat nanti, bila hari tua itu telah menghampiri kita saat rambut telah memutih semua? Rindu yang sering kusampaikan padamu, rindu tentang adanya tempat menyandarkan lelah, menceritakan begitu dekatnya waktu menghadap Sang Pencipta tempat kembali setiap yang bernyawa.

Aku tidak lelah, kekasih. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk kembali pada masa lalu, dimana kita bukanlah siapa-siapa. Tapi, bolehkah aku rindu pada suatu waktu yang kita pasti menjalaninya?

Aku di sini untukmu. Bukan untuk siap-siapa. Dan kau pun tahu, tiada seorangpun yang akan memiliki satu tempat dalam jiwaku, selain dirimu.

Kita telah melalui hari-hari ini dengan segala bentuk pengharapan. Tapi kembali aku hanya bisa mengingatkan, rindu dan cinta saja tak cukup untuk bekal masa depan yang sebentar lagi akan kita lalui dengan tubuh ringkih. Kita perlu menyiapkan langkah yang lebih matang.

“Apakah kau yakin hari tuamu akan tenang tanpaku?” Sekali waktu aku pernah ungkap kalimat itu padamu.

“Tidak.  Kita akan bersama. Saling memberi bahu untuk bersandar, dan kalaupun akan tertatih, kita tidak akan melepaskan genggaman. Genggamlah tanganku untuk bersama memperjuangkan cinta ini,” matamu berkaca saat menjawab tanyaku ketika itu.

“Iya, inilah ruang harap yang sedang kita bangun bersama. Bukan tentang hayalan yang hanya menguap bersama waktu, sementara kita semakin menua.”

Kutatap matamu dalam-dalam. Ada gundah yang kutemui di sana. Ada luka yang bertahun-tahun terus menganga dalam jiwamu yang kutahu begitu rapuh.

“Peluk aku dalam dekapmu selamanya…”

Lirih suaramu masih sama seperti awal kita bersua. Ketika itu, kita hanyalah dua orang manusia yang terus memilih untuk hidup dalam takdir yang kita sendiri merasakannya seperti luapan api, membakar ranting-ranting kering tanpa bisa meronta, tanpa bisa apa-apa. *)

*Satu halaman dari novel Perempuan Bergamis Merah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *