oleh

Perempuan Bergamis Merah

Malam kian larut. Sejak senja, hingga saat jam dinding menunjukkan hari telah berganti, mataku belum bisa diajak berdamai dengan segala persoalan yang ada saat ini.

Dan di depanku, di ranjang yang hanya ada seorang bidadari kecil, tengah terbaring lemah. Suhu tubuhnya naik kian tinggi. Sudah 6 jam lebih ia terserang demam. Pipinya memerah, seperti udang rebus siap santap.

“Ibu.. Ayah, mana ibu?”

Suaranya begitu pelan, sedangkan matanya tetap terpejam. Kelopak matanya kulihat bergerak. Ya.. Dia mengigau lagi. Sudah berulang kali sedari tadi ia memanggil ‘ibu.’

Aku terhenyak. Begitu dalamkah kerinduannya pada sosok ibu? Dan aku sangat tahu, siapa yang dipanggilnya dengan sebutan ibu.

Perlahan, ada airmata mengalir dari kedua mataku. Sudah telalu sering airmata ini mengalir hanya karena melihat bidadari kecilku memanggil sosok yang dirindukannya itu. Tapi aku tidak punya daya apa-apa.

Kuselimuti kaki kecilnya. Nafasnya naik turun sedikit cepat. Kelopak matanya masih bergerak-gerak, pertanda alam bawah sadar sedang menguasai dirinya. Sementara mataku masih basah dan tidak dapat kuhentikan.

Tiba-tiba, mata bidadari kecil itu terbuka lebar. Ia melihat ke arahku dengan sorot mata tajamnya. Kuusap keningnya, terasa sangat panas. Segera kuganti kain basah pengompres kepalanya dengan kain baru yang selalu kusiapkan bila dia demam.

“Ayah, kapan ibu pulang?”

Aku tergugu. Alam bawah sadarnya benar-benar menguasai jiwanya saat ini. Aku berusaha tersenyum sambil kucium pipinya.

“Iya sayang. Nanti ibu pulang. Nanti ibu akan bawa kamu main bersama kakakmu.”

Ada binar indah di matanya saat mendengar kalimatku. Tatapannya membuatku segera membuang muka. Aku tidak ingin ia melihat ada kebohongan dalam kalimat yang baru saja didengarnya.

“Aku mau ibu…”

Suaranya pelan, sambil mengatupkan kedua matanya. Kembali kucium pipinya. Dia adalah bidadari kecil yang selama ini menjadi tanggungjawabku. Amanah yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk kurawat dan kudidik dengan baik.

Kini matanya terkatup dan tidak bergerak seperti tadi. Kunaikkan selimut dari kakinya hingga pinggang sambil ikut merebahkan tubuhku di sampingnya.

Pikiranku menerawang jauh. Entah pikiran seperti apa. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan. Namun yang pasti, di saat seperti ini hanya ada satu keinginan yang ada dalam benakku. Bidadari kecilku harus sembuh dari demamnya.

Suara kokok ayam mulai terdengar bersahutan. Jam dinding telah menunjuk angka 2 dini hari. Tidak sedikitpun rasa kantuk di mataku. Pikiran dan beban hiduplah yang kini menjadi hal utama dalam hari-hariku. Apalagi saat bidadari kecilku diserang demam seperti saat ini. Tidak sedikitpun kuingin meninggalkan dia sendiri tanpaku.

Handphone  di atas bantal di samping kepalaku kuraih dengan tangan kiri. Pelan-pelan kumatikan suaranya. Aku tidak ingin suara dari gadget ini mengganggu tidur bidadari kecilku. Kubuka beberapa pesan di media sosial. Ada beberapa pesan yang belum terbaca dari grup alumni sekolahku dulu, dan ada beberapa lagi dari teman dan rekan kerja. Tidak satupun yang kubalas. Hanya kubaca, lalu kumatikan. Sementara di luar, suara angin kudengar seperti desahan kepedihan. Sebentar lagi azan subuh akan segera tiba. Dan mataku juga tiada henti mengalirkan airmata.

(satu halaman dari novel Perempuan Bergamis Merah)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *