oleh

Harimau Singgalang (Sebuah Novel Budaya – Bag. 1)

WPdotCOM — Asap kemenyan mengepul menyesaki ruangan kecil itu. Tak ada suara yang keluar dari kedua orang yang sedang duduk diam dalam gelap. Mereka diam, menyesapi aroma kemenyan. Sementara di luar, tiba-tiba saja angin menderu-deru. Menampar-nampar daun jendela kayu. Engselnya yang sudah berkarat dimakan usia, hampir tak sanggup menahan angin yang datang tiba-tiba.

“Alhamdulillah, Allah Maha Kuasa atas segalanya. Setiap segala sesuatu yang bergerak di muka bumi, tidak terlepas dari ijin-Nya…” Suara laki-laki separuh baya itu bergetar.

Buya Rahim mengitari tubuh anak muda di depannya. Di tangan Buya, sebatang rokok yang sejak tadi ujungnya memanggang kemenyan putih itu kembali mengepulkan asap. Baunya semerbak menyelinap ke sudut-sudut ruangan.

Sudah tiga keliling Buya mengitari tubuh muridnya. Ia kembali duduk berhadapan. Lutut mereka saling beradu. Rokok di tangannya kembali dibubuhi kemenyan yang terletak di piring putih di sampingnya.

“Hari ini, adalah hari dimana kamu mengawali pelajaran silat. Dan di hari ini pula, kamu harus meninggalkan segala bentuk kesenangan duniawi untuk sementara.”

Buya menatap pemuda di depannya. Tampak di mata pemuda itu kilatan cahaya kekuatan yang luar biasa.

“Iya, Buya. Saya tahu apa yang akan saya jalani setelah ini. Semua saya lakukan demi pelajaran silek dari Buya.”

Sementara Buya Rahim tengah merapal doa-doa untuk anak sasiannya. Kemenyan di ujung rokok yang dipegangnya telah hilang asapnya.

Perlahan, matanya lelaki brewokan itu terbuka. Di hadapannya tengah telah duduk pula bayangan putih berjanggut lebat. Tepat di samping pemuda yang kini resmi menjadi anak sasiannya. Tubuhnya jangkung melebihi tinggi orang biasa. Matanya menatap ke kanan, ke arah pemuda itu.

Bayangan berpakaian serba putih itu tersenyum padanya. Buya Rahim menganggukkan kepala. Entah apa maksudnya.

“Sutan, sekarang makanlah sirih ini…” Buya Rahim menyerahkan daun sirih yang telah diisi gambir dan pinang muda. Kapur sirih hanya sedikit saja ia sapukan ke daun sirih itu.

“Iya, Buya.” Pemuda yang dipanggil Sutan itu mengambil sirih dari tangan Buya. Lalu tanpa ragu, ia mulai mengunyah sirih di hadapan orang yang sekarang menjadi guru sileknya.

“Setelah kau kunyah sampai halus, airnya kau teguk tiga kali. Sebelum itu kau baca Dua Kalimat Syahadat…” Buya Rahim menatap jauh ke dalam mata Sutan. Ia ingin memastikan ketegaran yang ada dalam diri pemuda itu.

“Iya, Buya…” Sutan mengunyah tanpa henti. Raut wajahnya berubah memerah. Lilin kecil yang baru saja dinyalakan Buya di sudut ruangan memperlihatkan perubahan rona wajah Sutan.

“Buya, aku sudah telan tiga kali. Apakah harus kuhabiskan sirih ini?” Sutan kembali bertanya pada Buya.

“Iya, sampai habis….”

Tiba-tiba tubuh pemuda itu tersentak. Persis seperti orang terkejut karena melihat sesuatu. Bayangan putih yang sejak tadi masih duduk di sampingnya menghilang sesaat.

“Buya, mual rasanya perutku ini….” Belum selesai kalimatnya, Sutan mendongak menahan mual yang ia rasakan makin menjadi.

Sejurus kemudian, tubuhnya bergetar, tanpa bisa ia tahan. Dari mulutnya keluar muntah bercampur darah. Muntahannya berserakan di lantai, sebagian mengenai baju hitam yang ia gunakan sehari-hari untuk latihan silek.

Melihat anak sasiannya muntah bercampur darah, Buya Rahim tersenyum. Muntah itu menandakan tubuh Sutan sedang dalam proses pembersihan dari segala racun dan pengaruh jahat, yang selama ini dirasakannya.

“Ini, kau lap dulu wajahmu…”

Sutan menerima kain yang diberikan Buya Rahim. Saat itu, bersamaan semburan muntah masih keluar dari mulutnya. Kali ini hanya darah, tapi tidak darah merah. Darah itu berwarna kehitaman. Tidak pula encer, tapi bergumpal seperti darah mati.

Sutan terengah-engah. Lama ia mendongakkan kepala. Seolah dengan begitu, muntahnya tidak akan keluar lagi.

“Sekarang, semua gangguan dalam dirimu sudah keluar. Kau sudah bersih dari pengaruh makhluk-makhluk jahat yang selama ini mengganggu,” Buya Rahim mengambilkan kain lap satu lagi. Disuruhnya Sutan membersihkan sisa muntah yang berceceran di lantai ruangan.

“Buya, terimakasih untuk semua ini. Kini aku siap belajar silek dari Buya….” Sutan kembali duduk di hadapan Buya Rahim setelah membersihkan lantai dari cipratan muntahnya. Kain lap itu penuh darah dan muntah. Bercampur menjadi merah.

“Iya, kini kau akan mengerti tentang silek yang sebenarnya. Di sini, dimana kau memulai untuk belajar, kau dapati pula sesuatu yang menurutmu aneh, di luar kebiasaan.”

“Iya, Buya…”

“Sirih yang kau makan itu, adalah sirih biasa yang tadi siang kau beli di pasar. Namun, bukan sembarang daun sirih yang akhirnya kau makan. Sirih itu adalah sirih yang terpilih dari sekian banyak daun yang ada dalam ikatannya. Suatu saat, ketika kau sudah selesai belajar, kau akan mengerti tentang bagaimana memilih sirih untuk pengobatan diri sendiri, dan orang-orang terdekatmu.”

Buya Rahim kemudian mengambil pisau sirauik dari piring putih tempat sirih itu diletakkan. Dibukanya sarung pisau kecil itu. Cahaya lilin membuat besi pisau terlihat berkilauan.

“Ini adalah pisau sirauik, lambang dari sebuah ketajaman silek secara hakikat. Pisau ini, bila dipegang oleh orang yang tidak tepat, akan menjadi malapetaka bagi dirinya dan orang lain. Namun bila dipegang oleh orang yang mengerti, maka akan bermanfaat untuk kemaslahatan bersama.”

Buya kembali memasukkan pisau sirauik itu ke dalam sarungnya. Ditatapnya wajah pemuda di hadapannya itu dengan tatapan yang sangat tajam.

“Ketahuilah Sutan. Pisau yang paling tajam ada di dalam dirimu. Bukan pisau yang kau lihat barusan, walaupun sudah diasah sedemikian rupa. Dalam dadamu ada keimanan, dengannya kau akan mampu menguasai apapun, sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Pisau batin itu bisa kau gunakan untuk kepentingan apapun. Ia sangat tajam, dapat melukai bahkan membunuh siapapun. Ia diasah oleh ketajaman rasa, dirawat dengan zikir dan doa….”

Sutan mendengarkan wejangan Buya dengan seksama. Dalam batinnya ia berpikir, ternyata apa yang dianggapnya selama ini sebagai sebuah keniscayaan tentang silat, berubah dengan penjelasan Buya.

Ternyata silat yang dipelajarinya di perguruan yang membesarkannya selama ini, masih perlu dimatangkan dengan pelajaran Silek dari para ahli beladiri tradisi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed