Nomenklatur Belum Ada, Pengganti UN Dilakukan Mulai Pertengahan Jenjang Pendidikan

WPdotCOM, Jakarta – Penggantian Ujian Nasional (UN) sebagai sistem penilai kelulusan peserta didik, tengah memasuki tahap penyusunan sistem. Asesmen nasional akan dilakukan mulai pada pertengahan jenjang satuan pendidikan.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter itu dipastikan akan tetap diselenggarakan berbasis komputerisasi.  “Apapun yang berstandar nasional, harus berbasis komputer,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makariem di Jakarta.

Seperti dijelaskan Nadiem, asesmen pengganti UN tersebut dirancang untuk di lakukan di pertengahan jenjang. Misalnya kelas 4, 8, dan kelas 11.

“Tes ini yang harus diambil di tengah jenjang. Dan itu bukan untuk menjadi alat seleksi murid. Dan bisa dijadikan alat formatif bagi sekolah dan guru untuk memperbaiki pembelajaran,” terang orang nomor satu di Kemdikbud itu.

Tujuan asesmen di tengah jenjang teresebut menurutnya, ditujukan agar masing-masing sekolah memiliki waktu melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan.
Asesmen pengganti UN ini, akan lebih fokus pada keterampilan penalaran tingkat tinggi yang mendorong siswa melakukan analisis. Tiga kemampuan bernalar yang disasar di antaranya adalah kemampuan menggunakan bahasa (literasi), matematika (numerasi), serta penguatan pendidikan karakter.

“Jadi, tidak ada lagi materi atau mata pelajaran yang harus dihafalkan. Satu-satunya cara adalah melakukan pemelajaran dengan baik,” kata Nadiem lagi.

Sementara itu, untuk Survey Karakter, menurutnya sebagai upaya memotret pemahaman siswa yang tercermin dalam opini pribadinya. “Ini adalah keharusan. Kalau kita tidak melakukan survei karakter, maka kita sama sekali tidak mengetahui kondisi keamanan, kondisi kerukunan, kondisi akhlak dari murid kita. Padahal itu bagian dari pendidikan,” imbuhnya.

Secara teknis, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Litbang (Kabalitbang) Kemdikbud RI Totok Suprayitno ragam soal yang akan diujikan dalam asesmen pengganti UN berupa kombinasi dari berbagai variasi model.

“Variasinya bisa banyak. Kombinasi antara esai, pilihan benar salah, mengurutkan, re-arrange, juga jawaban pendek. Tidak hanya satu jawaban,” katanya.

Kendati telah menetapkan penyesuaian kebijakan terkait asesmen nasional pengganti UN, tetapi sampai saat ini Kemdikbud belum menentukan nama asesmen dan survei karakter tersebut.

“Nanti kita carikan nomenklatur yang pas dan mudah diingat. Intinya sekarang yang bisa disampaikan, pengganti UN itu adalah Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter,” ungkap Totok. (sumber: rilis Kemdikbud RI)

Tinggalkan Balasan